berbeda

Aku bercerita pada tempat yang berbeda

Mungkin mereka melihat tempat itu bukan media yang sewajarnya

Aku tak punya tempat “wanar” bercerita…

Dua Minggu yang Sulit

Postingan berikut disadur dari Thread Twitter yang saya post seminggu lalu dengan beberapa adjustment.

***

Jadi seperti anak kekinian zaman sekarang, ku emang udah langganan gastritis ya, atau yah kalo kesini-sininya orang bilang Gerd itu, tp ini kalau udah kompleks kali ya.. dan dua minggu ku di Jakarta kemaren ternyata berimbas sama pencernaan. Sejak hari minggu dua minggu lalu pencernaanku nggak oke lah intinya, diare, kembung, mual muntah, sakit kepala, dan g nafsu makan. Tapi ini untungnya nggak pake perut melilit nyeri kayak kalau gastritis kambuh.

Selasa minggu lalu setelah dua minggu WFO ku pulang lah ke Pati, setelah sebelumnya hari Senin (25/10) ku Qerja beneran bagai Quda. Di mana jam 8 malam baru balik kosan karena berbagai urusan. Badan udah meriang aja itu rasanya.

Sampai di Pati masih diare, masih kerja selama seminggu kemudian. Tapi ku sudah merasa ini badan udah g bener rasanya. Ku sudah ke klinik di malam Selasa pas baru sampai Pati. Dilanjutkan pijet di hari Rabunya. Tapi belum ada perubahan berarti, masih diare, kembung, sakit kepala dan makan cuma ala kadarnya.

Akhirnya Jumat malam dadakan ke dokter spesialis penyakit dalam (internis) dengan harapan masalah gastritis yang udah berulang-ulang bisa ketemu jalan keluar juga. Padahal kalau ke dokter tanpa perencanaan begitu nomor antriannya itu lho, you know lah ya…

Baru kepikiran ke dokter hari Jumat sore, sehabis ashar. Didaftarin mak gw langsung karena yang by phone sudah tutup. Dapatlah itu nomor antrian ke 42 dari 45an pasien untuk sesi sore-malam. Ke dokterlah malemnya ditemani mak gw, dianter Varo sampe depan gedung prakteknya trus doski pulang, g ikut nunggu periksa.

Hujan deras dan dua jam kemudian, ketemulah sama dokternya, semua di USG, rekam jantung segala, dan eng ing eng, dokter bilang gw ada gejala jantung koroner ringan. YHAAAAAA~~~

Terus dokter bilang, kita tes lanjutan ya… Apakah ada penyebab lain, atau hanya stress dan kecemasan berlebihan.

Sepulang dari periksa pertama, diresepkan lah segebug obat (lol ada obat jantungnya) yang mana gw udah familiar. Secara bokap gw udah minum obat jantung tiap hari sejak 2015. Ke lab lah gw besoknya untuk beragam tes lanjutan. Udah kayak orang Medical Check Up listnya. Semua-semua di cek.

Fast forward ke beberapa hari kemudian di Senin malam di mana Seninnya ku masih ngantor wfh—di mana WFH gw bukan tidur-tiduran di kasur, wfh gw ya kerja men 8 to 5—Senin malem ku g bisa tidur, perut kembung parah, g nyaman gasnya g bisa keluar, dan pen muntah aja terus.

Akhirnya kubalik ke dokter hari Selasa pagi, gak nunggu hari Rabu malem seperti yang sudah di jadwalkan. Sebelum ketemu dokter itu, hasil lab nggak berani gw buka. Gw buka doang sih dan lihat hasilnya, tp kan g familiar dan kurang paham ya, jadi ya berserah ajalah gw sama hasilnya.

Tapi setelah dibaca dokternya beliau bilang hasil lab gw bagus

Sedangkan pencernaan gw beneran masih amburadul.

Dan kemudian dokter bilang:

“Kamu itu g usah stress-stress lah..”

OMG pengen nangis gw digituin, untung selasa Pagi periksa sendiri…

Terus dikasih obat dan beneran disuruh jaga makan. Abis itu kubeneran g makan pedes sama sekali, nggak makan yang berminyak atau berlemak, nggak nyentuh kopi-kopian. Karena pas Senin malam ku sempet makan nasi berkat dari tetangga yang ada lauknya agak pedes dikit.

Ku tak bisa lagi minum kopi–my love, atau makan mi ayam.

Sedih sih, tapi kalau mengingat dua minggu ini rasanya kayak beneran g nyaman banget ya udahlah.

Dan akhirnya yang menandakan pencernaan gw udah mulai sembuh adalah akhirnya hari ini Diare gw udah berhenti.

Masih minum obat yang diresepkan sih, terutama untuk mengobati gejala-gejala gastritisnya. Biar tuntas. Dan juga minum vitamin.

Begitulah, stress ujungnya kemana-mana, sampe gejala jantung coroner segala…

Trus mak gw suka nanya, “emang mikir apakah?”

Kuhanya merengut, dalam hati “Lha menurut ngana..”

atviana

Hello

I’m indeed an open book with frail pages…

You read me through my years,

through every happy and tears…

But writing here doesn’t really give me any relief,

but maybe that’s wrong…

Since I am writing to you at this hour, somehow your damn curiosity in this past week thrills me…

I don’t have any particular message to be passed on, I just want to say that, you know where to go to have a direct and real conversation…

3 am~

rezeki dalam pandemi

Dalam perjalanan membeli makan petang ini, beragam pikiran melintas. Ya tiga minggu terakhir saya sedang di Jakarta untuk keperluan vaksin, tertahan PPKM trus jadi kebetulan ngurusin kerjaan di kantor.

Salah satu hal yang terlintas adalah waktu cepat sekali berlalu. Saya teringat sebuah pengalaman di 2018, yang mana kalau dipikir-pikir lagi sudah hampir tiga tahun berlalu. WFH saja sudah lebih setahun dan kayaknya nggak ada tanda-tanda masuk ke kantor dalam waktu dekat.

Continue reading

Selamat Lebaran

Tags

,

Assalamu alaikum wr. wb.

Selamat Idul Fitri kawan-kawan semua… semoga Ramadhan melatih kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Fighting untuk satu tahun ke depan.

Udah lama ya ku nggak ngeblog. Sebenernya karena males aja sih.

Alhamdulillah sehat-sehat, kerjaan banyak seperti biasa, masih WFH yang sudah lebih setahun.

Cepet habislah korona. Ku udah pengen ketemu temen-temen. Udah fiks setahun kusama-sekali nggak ketemu siapa-siapa. Teman maupun kolega kantor. Tapi jadi sering ketemu gurunya bocah, ketemu tetangga dan keluarga. Jujur aja sebenernya ku nyaman banget dengan situasi wfh ini sebagai introvert, tak perlu basa-basi ketemu orang kalau g penting-penting amat. Dan ku merasa lebih produktif begini.

Tapu 24/7 dirumah bikin ku senewen juga. Ku nggak punya me time. Paling banter 1-2 jam nonton drama itulah me time eyke.

Semoga kita semua diberi perlindungan dan kesehatan serta kemudahan melalui pandemi ini. Ammiiinnn….

See you again. I dont know when!

Wassalamu alaikum

cheers

atviana

Letting Things Go

Tags

, , ,

Saya itu kadang-kadang merasa terlalu terlekat pada sesuatu atau seseorang. Semacam kepercayaan yang sudah mendarah daging sekian lama. Tapi akhir-akhir ini, sepertinya saya menyadari bahwa saya nggak sepenuhnya demikian.

Beberapa waktu lalu, saya melakukan decluttering lemari dan rak buku. Banyak item yang saya simpan dari jaman SMA akhirnya berakhir di tempat pembakaran sampah. Termasuk mengurangi isi lemari. Sebelumnya saya sampai berasa nggak percaya, how on earth I would throw these stuffs out… Tapi nyatanya udah saya buang-buangin.

Kayak banyak banget barang yang saya lepaskan dan tinggalkan saat pindah-pindah domisili. Kayak nggak terlalu merasa terikat sama barang-barang itu, mudah aja dibuang-buangin, dijual-jualin.

Jadi sebenernya apa yang sulit dari melepaskan?

Mungkin ego aja sih…

I almost finished throwing and burning everything related to my past darkest years.. Almost, and I am still progressing till the last items, esp. during this whole pandemic situation…

🍂

It’s been a while

Tags

, , , , ,

top view photo of gardening tools

Photo by cottonbro on Pexels.com

It has been really a while, 2021 udah February trus langsung tancep kesibukan sih. LoL, banyak yang dilakukan. Kerjaan tetep banyak, masih WFH hampir setahun entah kamar kosan bentukan kek mana.. Pasrah ajalah. Terus masih berkebun, ada yang bisa dicacah juga, dan dijual. Alhamdulillah cuan bisa beli kembang baru. Kerjaan menulis masih lanjut, nambah entri sih in general, dan bisa masuk ke CV sis, karena sekarang udah pake inisial gitu…

Apalagi ya, jadi mamakzilla ya masih lah yaaa itu mah..

Lagi ikut kelas online, semoga ilmunya nambah. Tapi cukup bikin ngos-ngosan juga sih kalau kerjaan lagi full speed begini.

Apalagi ya… Udah kali ya updatenya. Ahahaha… 

Cuma pengen mengingatkan diri sendiri, tiap orang punya waktu dan jalannya masing-masing, dijalani saja dengan semangat dan terus belajar ikhlas—meski masih belom bisa juga..

creative workplace with laptop and notebook

Photo by Cup of Couple on Pexels.com

awal 2021 dan isi kepala yang penuh

Tags

, , ,

I started another year by dealing with health related issue.

Seminggu lalu saya baru saja menjalani sebuah tindakan medis untuk mengangkat benign, yang hari ini disimpulkan dokter sebagai FAM–alhamdulillah–dengan ukuran lumayan euy. Sebenernya baru ngeh bulan Oktober kemarin. Terus langsung periksa, konsul ke dokter bedah dan memutuskan operasi ajalah, mumpung di rumah.

Kalau dilihat dari review rang orang, jenis operasinya termasuk operasi biopsi ringan. Tapi kemaren saya dibius total. Waktu operasi sekitar 2 jam dan sisa anastesinya bertahan selama hampir 10 jam.

Ya ampun, kepala kunang-kunang, mual, muntah, g bisa makan. Tiga jam setelah operasi pun masih rada-rada hilang orientasi, macam drama, “aku siapa? Ini dimana?”

Continue reading

mengakhiri tahun

Tags

, ,

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Satu tahun lagi hampir berlalu. Karena pandemic rasa-rasanya, kita melewati sepanjang 2020 dengan banyak ketidakpastian. Seperti orang-orang lainnya, bagi saya tahun ini penuh naik dan turun. Banyak sekali yang terjadi tetapi rasa-rasanya saya seperti masih di Bulan Maret lalu.

Malam ini hujan turun sangat deras, dan beberapa minggu terakhir ini saya semacam terserang eksim. Ya Alloh gatelnya… Entah karena makan seafood apa karena di rumah lagi banyak bahan bangunan—lagi ada proses bangun-bangun. Nggak tau deh sebenernya sebab pastinya apa. Pada dasarnya sih emang genetis saya ini alergian, dan selalu punya masalah kulit. Salah air, ganti udara, bikin gatel-gatel semua.

Kemudian tahun yang hampir berakhir membawa kepada perenungan yang lain.

Continue reading