Tags

, , ,

I started another year by dealing with health related issue.

Seminggu lalu saya baru saja menjalani sebuah tindakan medis untuk mengangkat benign, yang hari ini disimpulkan dokter sebagai FAM–alhamdulillah–dengan ukuran lumayan euy. Sebenernya baru ngeh bulan Oktober kemarin. Terus langsung periksa, konsul ke dokter bedah dan memutuskan operasi ajalah, mumpung di rumah.

Kalau dilihat dari review rang orang, jenis operasinya termasuk operasi biopsi ringan. Tapi kemaren saya dibius total. Waktu operasi sekitar 2 jam dan sisa anastesinya bertahan selama hampir 10 jam.

Ya ampun, kepala kunang-kunang, mual, muntah, g bisa makan. Tiga jam setelah operasi pun masih rada-rada hilang orientasi, macam drama, “aku siapa? Ini dimana?”

Alhamdulilaah sudah pulih. Sudah beraktivitas seperti biasa sejak berhari-hari lalu. Luka masih cenat cenut sih. Namanya aja abis dibelek. Kadang-kadang suka lupa, peluk-peluk dan gendong-gendong bocah trus meringis nyeri.

Banyak hal yang terlintas di kepala saat ini, kadang terbersit mikirin kerjaan, abis itu mikirin anak, terus juga mikir mati–in a good way. Setelah kabar duka salah satu Syekh ulama yang cukup mengena nasihat-nasihatnya untuk saya, meninggal semacam pengingat. Lagi-lagi diingatkan Alloh perihal kematian itu sangat dekat.

Kemudian dapat berita extended family, uncle and cousin, yang tinggal di Sulawesi dan Jakarta ada yang positif covid. Yang dirasa kemudian adalah kepasrahan.

Ya Alloh hanya padamulah kami berserah.

Abis itu mulai kepikiran soal vaksin. Kemungkinan bakal dapat jatah vaksin dalam waktu-waktu dekat, karena kantor udah mulai melakukan pendataan. Semacam kelegaan bercampur was-was. Lagi-lagi waktunya berpasrah. Sudah termasuk ikhtiar dengan vaksin dan protokol kesehatan. Hasilnya hanya Alloh yang menentukan.

Pasrah, pasrah, pasrah…

Kemudian dari beberapa hari ini dibanjiri berita kecelakaan pesawat–jadi ngeri sendiri karena banyak nulis dan ngebahas soal kondisi alam dan penerbangan, bahwa kita tuh beneran g punya kontrol apa-apa. Kemudian dua hari terakhir berita bencana alam, banjir dan gempa bumi. Selain berita temen-temen yang laporan cuan saham AN*AM dan BR*S naik. Heu jujur aja kayak diuleni, ini perasaan.

Ku nggak punya saham kok. Jadi nggak ikut-ikutan euforia. Terus muncul pertanyaan di dalam diri, “kenapa nggak ikutan?”

Pada dasarnya sampai detik ini belum mau mencoba, jujur karena ku takpunya hati untuk deg-degan dengan fluktuasi harga. Kemaren beli reksadana dikit di Bib*t aja pas kurva merah trus jadinya g dibuka-buka akunnya berbulan-bulan. G di topup juga pas merah. Kan lucu. Sampe g bisa dibuka lagi app nya. Ya salammm…

Mewakili rasa-rasa insecure, seperti yang pernah kubahas di postingan beberapa waktu lalu. Dua suara dalam kepalaku ngobrol:

“Maybe you won’t have a house.”

“But you already have a home.”

“You wont have lots of money.”

“But you already have enough.

Ini adalah curcol paling gaje, lompat-lompat, nggak ada juntungannya.

Intinya isi kepala dan isi hati beneran bermacam-macam dan seperti diaduk-aduk. Terlalu banyak temanya. Kemudian menambah list tersebut beberapa waktu terakhir ku udah dua kali mimpi ke Jerman. Demi apa…

Like the dream were so real, tujuan kunjungan jelas dan make sense. Dalam mimpi ketemu orang-orang yang make sense pula. Ku pernah baca, mimpi adalah hasrat terdalam alam bawah sadar kita, termasuk coping strategy kita menghadapi dunia nyata. Entahlah…

Perasaanky diaduk-aduk dan diuleni kayak roti