Tags

, ,

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Satu tahun lagi hampir berlalu. Karena pandemic rasa-rasanya, kita melewati sepanjang 2020 dengan banyak ketidakpastian. Seperti orang-orang lainnya, bagi saya tahun ini penuh naik dan turun. Banyak sekali yang terjadi tetapi rasa-rasanya saya seperti masih di Bulan Maret lalu.

Malam ini hujan turun sangat deras, dan beberapa minggu terakhir ini saya semacam terserang eksim. Ya Alloh gatelnya… Entah karena makan seafood apa karena di rumah lagi banyak bahan bangunan—lagi ada proses bangun-bangun. Nggak tau deh sebenernya sebab pastinya apa. Pada dasarnya sih emang genetis saya ini alergian, dan selalu punya masalah kulit. Salah air, ganti udara, bikin gatel-gatel semua.

Kemudian tahun yang hampir berakhir membawa kepada perenungan yang lain.

Katakanlah tahun ini, tahun yang cukup berat bagi saya mengelola emosi dan membawa diri dalam pengasuhan anak. Saya menghadapi kenyataan yang sebenarnya cukup membuat saya denial, luka yang saya derita terlalu banyak mempengaruhi cara saya mengasuh. Ketika diresapi, sebenarnya adakah justifikasi yang membenarkan untuk saya sampai merasa begini? Apakah semua sakit hati ini memiliki pembenaran?

Ketika saya mencari-cari jawaban ini yang selalu terlintas di benak adalah pesan-pesan yang diabaikan, jiwa-jiwa yang ditelantarkan, hati yang disakiti dan yang paling melukai adalah perasaan tidak berharga ini, bahwa bagi mereka hidup saya—yang saya jaga dengan hati-hati—tidak ada artinya, sila disia-sia…

Saya mengerti Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, saya juga mengerti waktu yang akan membuat segalanya menjadi lebih baik. Tetapi satu tahun lagi hampir berlalu dan saya masih saja di sini…

Photo by Tairon Fernandez on Pexels.com