Tags

, ,

numbers money calculating calculation

Photo by Breakingpic on Pexels.com

Tulisan ini dibuat berdasarkan Tweets saya beberapa sore yang lalu di akun @fitrieatviana yang privat—wkwkwk—dengan beberapa penyesuaian agar bisa di post sebagai blog post.

***

Aku mau curhat soal Si J—Sang Penasehat Keuangan Independen itu. LOL, gw bukan salah satu korbannya sih, cuma pendapat pribadi semacam pengalaman bersentuhan dengan akun ini. Trigger dari curcolan ini adalah karena ku abis baca postingan Tirto ini. Baca ajalah ya langsung. Ku nggak mau ngomongin soal masalah-masalah tersebut. Bukan ranahnya.

Kucuma mau curcol pengalaman personal yang mengambil banyak pelajaran dari utas story Instagram dan Feed sosial medianya.

Sebenarnya, patut diapresiasi jugalah, bagaimana usaha si Penasihat Keungan ini untuk meningkatkan literasi finansial terutama kaum muda Indonesia. Ku mulai kenal Instagramnya sekitar awal tahun 2018 dari repost-an teman-teman.

Banyak yang bisa dipelajari di sana. Mulai dari bagaimana memulai merencanakan keuangan, pentingnya punya saving dan emergency fund. Yang mana kalo nggak merasa bisa relate ya udah, ku nggak ambil pusing sama sekali, toh masih banyak hal positif gitukaaan…

Banyak saran yang akhirnya saya ikuti. Terutama pada saat itu kondisi keuangan saya cukup—katakanlah—morat marit. Sampai akhirnya Qadarullah, saya bisa kembali bekerja, ada pemasukan, bisa nyicil ngisi emergency fund lagi, bisa nabung, mempersiapkan dana pendidikan anak, terus beli bond dikit-dikit.

Tapi semua berubah sejak akhir 2019, dan maraknya sih pada 2020 ini. Ketika kondisi ekonomi secara umum yang memang lagi menurun, Di setiap akun media sosialnya, ini kok postingan yang keluar semua kayak bikin diri insecure. Apalagi untuk pegawai kontrakan yang nggak pasti-pasti kayak saya ini, yang bisa di-cut kapan aja.

Kalau berdasarkan standarnya dia, saya g bakal punya rumah, saya juga nggak bisa ini nggak bisa itu. Ku bener-bener jadi insecure, takut, dan cukup lelah secara emosional jujur saja mikirin semua ini. *kalau dipikir-pikir efeknya lumayan juga lah ya penyebaran ketakutan ini…

Akhirnya karena merasa sedikit terancam dan minder dan insecure itu tadi—dan menemukan temen yang sama-sama merasa demikian—saya jadi lebih sering nyekip storynya itu. Dan waktu itu sempet mikir sebuah kepercayaan umum, hal yang terlalu melambung tinggi dan dielu-elukan banyak orang biasanya nggak oke. Selain itu kalau ada hal yang terlalu bagus untuk menjadi nyata, ya biasanya emang terlalu bagus untuk menjadi nyata alias boongan.

Terus intinya gimana mbak? Wkwkwk…

Intinya adalah setelah kasus ini marak diberitakan, panjang diulas pada utasan twitter dan kolom-kolom gossip Instagram, saya semacam diingatkan, untuk bekerja sebagai jalan ibadah. Ada Tuhan yang memegang segalanya. Harus cepat-cepat istighfar karena pernah merasa takut kekurangan seakan tidak percaya akan rezeki setiap hamba yang telah ditakar kadarnya.

Mungkin emang nggak bisa beli rumah, tapi kan selama ini nggak kehujanan juga, punya tempat bernaung yang jauh dari kata cukup dan harus disyukuri.

Mungkin nggak mampu punya kendaraan sendiri, ya ada Abang Grab ini kan? Lagian masih bisa nebeng Uti dan Kung pun. Ahahaha…

Mungkin nggak bisa punya tabungan berjuta-juta, tapi kalo pas waktunya bayar SPP bocah masih cukup. Dan semoga selalu dicukupkan hingga sampai ke jenjang yang dicita-citakan…

Ketika waktunya beribadah ya dimampukan. Gitu ajalah ya prinsipnya.

Semua punya waktunya masing-masing, kadarnya masing-masing. Percaya bahwa Alloh telah mengkadarkan segala sesuatu.

With lots of love,

atviana

***

Anw, gw lagi suka dengerin You Are Beautiful-nya Day6, lol oke, saya telat. Cuma karena ini lagu masuk lagi di chart dan list of “hot video” di yutub, akhirnya kudengerin dan kok enak.

Berikut ini adalah versi World Tour nya yang kayaknya baru-baru ajadeh kemarin sebelum Korona menyerang. Jangan lupa nyalain subtitle biar ngerti. Ehehehe…

Enjoy!