Tags

, , , , , , , ,

Aktualisasi Diri

Benar-benar sebuah pengalaman aktualisasi diri—meski setelah semua yang telah dilalui. 

Hari ini saya baru saja menghadiri rapat orang tua murid sekolah anak, membahas bagaimana rencana belajar mengajar selama satu semester ke depan. Meski setelah semua yang terjadi, sangat bahagia rasanya, secara individu sebagai saya, ataupun sebagai orang tua—Ibunya anak, saya masih dimampukan untuk berdiri tegak di sana, memiliki suara, memiliki kemampuan memilih dan menentukan serta dihargai.

Mungkin bagi orang-orang yang tidak pernah berada pada titik terendah kepercayaan diri, aktualisasi seperti ini tidak akan banyak bedanya. Tetapi mampu menjadi orang tua yang berdaya bagi saya pribadi, merupakan prestasi tersendiri.

Sorry to break this to you, you did shatter my life once, but I can fly again even higher.

animals avian beaks birds

Photo by mali maeder on Pexels.com

 

Kenangan

Satu lagi, beberapa hari lalu saya kehilangan seorang idola, Prof Sapardi Djoko Damono. Bisa ditemukan di blog ini seberapa sering saya membahas tentang beliau, tentang puisi-puisi beliau dan tentang hujan bulan juni. Berita kehilangan beliau cukup membuat berduka sekaligus mengingatkan, bahwa kita, sangat dekat adanya dengan kematian. Semoga jasa beliau dalam perkembangan sastra Indonesia tercatat sebagai amal ibadah dan diterima oleh Alloh Yang Maha Kuasa.

Dan kemudian saya membolak-balik halaman buku kumpulan puisi beliau dengan judul Melipat Jarak dan menemukan satu puisi manis yang saya sertakan disini sebagai tribute untuk Sang Maestro:

Kenangan

/1/
ia meletakkan kenangannya
dengan sangat hati hati
di laci meja dan menguncinya
memasukkan anak kunci ke saku celana
sebelum berangkat ke sebuah kota
yang sudah sangat lama hapus
dari peta yang pernah digambarnya
pada suatu musim layang – layang

/2/
tak terdengar lagi
suara air mulai mendidih
di laci yang rapat terkunci

/3/
ia telah meletakkan hidupnya
di antara tanda petik