Tags

, , ,

Saya punya suatu kebiasaan yang entahlah bisa dibilang positif maupun negatif. Yakni kalu lagi di atas motor diboncengin pak ojek, atau lagi naik mobil/taxi yang tentunya ada drivernya saya itu suka larut sama pikiran saya sendiri yang entah kemana-mana.

Ambil contoh dalam satu hari saya menghabiskan 10-15 menit, dikali 2—minimal 30 menit dalam perjalanan sama babang Ojol. Pendek memang, karena sekarang lokasi kosan lebih dekat di bandingan zaman ngantor pertama di Jakarta. Lol kantornya nggak pindah sih, kosannya aja yg lebih deket.

Selain perjalanan menuju dan dari kantor ada perjalanan-perjalanan lain yang mungkin terjadi. Dan baru saja perjalanan dari kosan ke stasiun Senen—yang cukup lumayan jauh jaraknya dari Senayan, ditempuh sekitar 20-45 menit—bergantung pada jalur dan kecepatan yang dipilih. Saya sempat terhanyut dengan sebuah pemikiran yang cukup filosofis:

Apa sebenarnya arti bahagia?

Nah kan berat.

Dari hasil termenung tadi sambil juga mikirin anak di rumah yang pengen cepat-cepat bertemu, serta kerjaan kantor yang tadi saya tinggalkan sepertiga jadi, saya mikir beneran. Sebenarnya apa definisi bahagia itu?

Bukankah hidup tenang, ibadah tanpa hambatan, bisa kerja dengan baik, anak tumbuh sehat, adem ayem, no drama-drama adalah kebahagiaan?

Bahwa untuk saya menjadi bahagia tidak harus menjalani hidup seperti dia? Atau dia kan?

Begitu saya berfikir. Semacam kesadaran yang timbul bahwa bahagia itu sebenarnya tidak ada standar bakunya selain syariat. Sudah, cukup, titik.

LOL, seperti biasanya saya akan tersadar dari episode menyelami pemikiran ini secara tiba-tiba. Entah, biasanya karena saya akhirnya ngeuh jalan yang dipakai lain—atau salah, atau ternyata tujuannya kelewatan.

Tetapi kali ini lain. Yang menarik saya sadar kembali adalah ketika motor Abang Ojol mulai melintas di jalan Kebon Sirih dari arah Tanah Abang yang membelah Thamrin, ketika mata saya meski sudah membiasakan diri untuk tidak melihat ke arah sana, tetapi gagal, semacam medan magnet kuat yang menuju pada satu logo besar dari sebuah institusi kuning kehijauan yang menyala-nyala, yang jujur saja otamatis bikin mual.

Dan kemudian kuberfikir kembali apakah definisi bahagiaku yang sesungguhnya adalah tidak lagi terasosiasi dengan kemuakan itu?

Wallahualam.

atviana