Tags

, , , , ,

Jadi ini soal peristiwa mati listrik total yang beberapa waktu lalu melanda wilayah Jabodetabek dan sebagian Jawa Barat. Jadi begini, mungkin kedengarannya ironis ya, karena sobat-sobit kita di wilayah timur, seperti teman-teman di Jayapura misalnya kejadian mati listrik total adalah bagian dari keseharian. Dan ketika Jakarta mengalami mati listrik selama kurang lebih 12 jam lebih kemudian langsung menjadi sangat heboh. Sepertinya jadi sedikit lebay kalau dilihat dari sudut pandang teman-teman di timur.

Sebenarnya kericuhan kemarin itu timbul karen satu hal penting yang terlewat, masyarakat Jabodetabek dan Jawa Barat tidak terbiasa dengan adanya peristiwa ini sehingga istilahnya kita kurang siap siaga.

black posts on black pavement beneath falling rain

Photo by Joey Kyber on Pexels.com

Kalau dilihat dari perpektif disaster risk, masyarakat yang tidak siap siaga ini sangat rentan bila terpapar bencana. Yeah bisa dilihat kemarin, hampir semua orang yang saya kenal—teman-teman, kolega—pada saat mati lampu tidak punya back up emergency genset—kecuali mereka tinggal di Apartemen ya, ini lain perkara, tidak punya cadangan uang tunai yang cukup karena gerakan cashless, sebagian besar tidak punya cadangan makanan yang cukup apabila kejadian ini kemudian bertahan lebih lama.

Bisa dilihat betapa chaos-nya. Kalau dibandingkan dengan masyarakat Jayapura yang sudah lebih terlatih dan terbiasa, kapasitas dan tingkat kerentanannya lebih rendah. Mereka sudah siap siaga, mereka punya persiapan-persiapan untuk menghadapi mati listrik yang tentunya berpengaruh kepada semua fungsi kehidupan kita sehari-hari.

Tetapi saya yakin, mati listrik kemarin juga membawa perspektif baru untuk kita masyarakat yang tidak siap, bahwa tidak tertutup kemungkinan Jakarta akan mengalami kejadian seperti ini lagi di masa mendatang. Dampak positifnya, kejadian kemarin melatih kesiap-siagaan kita. Masyarakat menjadi lebih aware terhadap kejadian bencana.

green and white male gender rest room signage

Photo by monicore on Pexels.com

Seperti culture bangsa Indonesia yang selalu melihat sisi positif dari segala sesuatu—kita membangun kesiap-siagaan kita melalui bencana ringan mati listrik lalu. Karena sejatinya mati listrik hanya satu bagian kecil ketika suatu bencana terjadi—misalnya gempa atau tsunami.

Yeah, bukan berharap datangnya kejadian bencana, namun kita sebagai penduduk Indonesia dengan potensi bencana yang tinggi harus siap siaga dengan setiap kemungkinan yang ada. Seperti misalnya mempersiapkan emergency kit dan mendidik anggota keluarga untuk mengantisipasi datangnya bencana.

Mungkin demikian yaa!

atviana