Tags

, , , ,

Kejadian ini terjadi sudah lewat berminggu-minggu lalu—bahkan mungkin hitungan bulan ya. Baru kubaca-baca lagi dan direvisi untuk dipost. Untuk pelajaran bagi semua lah ya…

***

influencers-3151032_1280

Huo huo huo, ada apa gerangan gegap gempitaaa. Sebenarnya sih saya nggak pengen post soal ini sekarang, takutnya saya nggak objektif namun saya takut lupa juga jadinya ya sudah diketik ajalah ya.

Jadi ceritanya begini. #lol

Di dalam diri kita masing-masing saya yakin—apalagi pada era media sosial seperti saat ini—memiliki kecenderungan untuk memupuk bakat-bakat menjadi selebriti. Yang membedakan biasanya adalah kadarnya saja. Ambil contoh, seberapa bahagia anda ketika postingan blog tetiba mendapat lonjakan statistik di suatu minggu yang cerah? Atau ketika IG story disaksikan banyak orang? Atau postingan IG anda dilove banyak orang? Atau kalau followernya sudah sampai sekian-sekian ribu, gimana perasannya sis?

Tahulah ya rasanya. Meski hanya dalam skala kecil, merasa menjadi terkenal, dielu-elu dan disukai banyak orang memberikan asupan dopamin dan serotonin dalam otak yang cukup bikin terbang tinggi, dan secara kimiawi proses ini adiktif—yeah efeknya mirip-mirip narkotik. Saya kutip laman Psychology Today disini biar bisa baca langsung artikelnya yang rada-rada ilmiyah.

Tetapi pengalaman apa yang baru saya alami? Apa hubungannya dengan ini?

Kita para blogger pasti punyalah ya, satu atau dua orang temen blogger yang seiring dengan perkembangan media sosial kemudian bertransformasi menjadi selebgram or so called influencer dengan pengikut sekiyan puluh ribu?

Adalah ya.

Nah aku ada satu orang orang, let say temen blogger. Dulu pas kenal lewat blog, nggak deket-deket banget juga. Saling follow dan comment. Aku juga suka baca blognya karena informatif dia banyak membahas soal fashion. Tetapi akhir-akhir ini jarang kulihat nulis blog lagi dan aku juga sudah jarang main kesana. Tetapi aku jadi followernya dia di Instagram sebagai ganti. I believe she didn’t even notice.

Nah tetiba kemarin, eh atau dua hari lalu. Lupa persisnya, si Mbaknya update IG story membahas soal fashion item dan menurut pribadi gw itu menarik dan she has a style in writing this kindof subject. Dan lagian udah lama banget dong dia nggak nulis macem begini-begini. Saya sebagai “mantan” pembaca blog dia jujur saja merasa senang dia nulis lagi. Dan karena gw ekspresif langsung lah gw DM:

You shall more write about these kinda things!

Apaya ini spontanitas perasaan gw, dan mungkin pesannya kuat ya sebagai encouragement, dibales dong sama dia. Wkwkwkwk. She said she will try her best. Nah nggak berhenti disitu sodara-sodara.

Tapi maaflah ya, saya nggak nyertain skrinsyut skrinsyutan terkait masalah ini. Meskipun demikian, I didnt make this up. I just dont want to blow this up hanya pengen sharing pelajarannya saja.

Semalam akhirnya kutahu, percakapan tersebut di skrinsyut doski dan diupload di IG story lanjutan dengan tambahan polling yang nanya ke followernya apakah sebaiknya dia mulai update IG story fashion like what I said or not. Dan disitu duh gw nggak mau besar kepala semacam encouragement gw jadi dorongan dan semangat buat dia, pake banget gitu.

Tetapi yang mengganjal di hati gw adalah, ketika si Mbak selebgram update itu sebagai IG story, gw dibikin sebagai anonim. Well, gw bukan banci tampil ya sodara-sodara. Tetapi gw merasa encouragement gw itu nggak benar-benar diberikan proper credit. Yang bikin furious kemudian adalah, setelah itu dia post beberapa skrinsyut juga yang ngomongin item fashun itu dan masing-masing dimention atau paling nggak, nggak diblur foto profilnya.

Tetapi ya cyin percakapan sama gw itu adalah satu-satunya percakapan yang dia posting yang isinya dorongan buat dia banyak menulis lagi, dan dia akui atau tidak ngasih efek besar bagi dia, ide bagi dia untuk tetap menulis.

Duh gw nggak boleh berasumsi sih soal apa motif dibalik ini, hanya saja gw jadi merasa dia menganggap gw kurang terkenal, kurang oke, kurang pantes untuk diberi kredit atas dorongan dan support yang gw kasih ke dia. Ya ampun…

Salty ya gw? Apa gw berlebihan?

Well, ya sudah. Seenggaknya hari ini gw sudah memberikan efek positif kepada satu orang meski nggak dianggep. Wkwkwk LOL.

woman sniffing yellow flowers

Photo by Artem Beliaikin on Pexels.com

Giving Proper Credits

Terus selanjutnya apa? Gw kan cerita sama sahabat gw soal ini, eh sobit gw nyeletuk “mungkin dia pengen melindungi privasi elo.” Eh tapi, doski juga yang nyamperin Mbak Selebgram by DM kalo seenggaknya dia harus kasi proper kredit ke gw, intinya gitu sih. Ckckck.

Untuk gw sih pelajarannya ajalah ya tentang pentingnya giving proper credits or appreciation. Sehingga mungkin meski gw bukan siapa-siapa gw selalu berusaha mencantumkan reference, memention pihak-pihak yang memberi ide, inspirasi, dorongan atau apapun yang berkaitan dengan topik yang sedang gw tulis. Ini sih attitude lah ya.

Dan akhirnya gw memutuskan untuk unfollow mbak selebgram tersebut. Karena mungkin bagi dia ini sepele dan nggak cukup signifikan, hanya saja kita memiliki pandangan berbeda soal value yang harusnya dijunjung tinggi. Lagi pula saya mending dapat feed lain yang lebih berfaedah sajalah.

Setidaknya kemarin mbaknya karena masalah attitude, sudah kehilangan 1 supporter—not follower yes.

affection appreciation decoration design

Photo by Carl Attard on Pexels.com

Ya ampun secara nggak langsung postingan ini membuktikan bahwa ini juga cukup mempengaruhi gw sih. Satu postingan khusus. My my…