Tags

, , , , ,

Assalamu ‘alaikum wr wb.

Hello dear readers, I am writing to you on my journey back to Jakarta. Di atas kereta Gumarang Eks-2 kursi yang nemplok ke jendela. Sorry ya mau sombong dikit soalnya gegara sekarang kerjaannya bolak-balik Jakarta Semarang mainannya cuma Kereta Ekonomi, mentok-mentok Ekonomi Premium. Tetapi karena untuk kali ini udah kehabisan tiket, kita naik ekse lagi. Heu zaman sudah berubah Alfonso.

Kalo inget zaman dulu bolak balik Jakarta Semarang ogah kalo nggak naik kereta ekse. Wkwkwkwk. Demi beli berlian cyin, musti hemat.. #gayalumak

Well, sejak Jumat lalu saya menghabiskan long weekend bersama keluarga dan juga my adorable son di Yogyakarta. Masih perlu digarisbawahi, Yogyakarta adalah kota favorit keluarga kami. My Mum and Dad kinda have special bond with this wonderful city. Jauh sebelum saya atau adik saya sekolah di sana. My parents from time to time sudah suka sekali ke Yogyakarta. Di tambah adekku dan aku juga pernah lama tinggal disana akhirnya kita semua punya bond khusus, termasuk Awo.

Awo ya kecil-kecil begitu udah 3 kali ke Yogya. Jadi dia udah bisa membuat korelasi, kalau naik mobil jauhan dikit berarti ke “jogja“, he knows already.

Kata Ibuku si, judul liburan kemarin adalah nyenengin Awo. LOL but we know deep down inside, my mom is the one who needs extra vacation. Akhirnya kita ke Jogjalah sodara-sodara. Meeting pointnya di Semarang, karena saya sudah terlanjur punya tiket kereta ke Semarang dari Jakarta, dan saat ini kembali ke Jakarta pun dari Semarang.

Menginap di Rifka Annisa Guesthouse, yang mana perlu dibuatkan satu paragraf khusus untuk reviewnya: nyaman, aman, affordable dan lokasinya mudah dijangkau dengan transportasi online ya, bukan publik. Hanya saja Guesthouse ini nggak terlalu dekat dari pusat kota, tetapi di situlah enaknya. Nggak ramai, dan children friendly. Kamarnya memang diperuntukkan untuk keluarga. Kalau kembali ke Yogya, guesthouse ini masih menjadi pilihan utama.

Terus kami kemana aja? Karena judulnya nyenengin Awo, ya tujuannya semua yang kid-oriented macem: Kidzoona—Awo seneng banget ya ampun main di sini, Kebun Binatang Gembira Loka—di mana dia ketemu semua binatang yang cuma dilihat di buku, dan belanja lah, apalagi.

Yang jelas semua senang, Awo senang, Uti senang, Kung dan Icha senang. Ibuk juga senang.

Tetapi hal yang beneran out of my expectation terjadi selama liburan kemarin adalah berita tak terduga yang tiba-tiba datang dari negeri antah berantah. My God. Baca whatsapp dari temen, gw langsung kliyengan. Tapi jujur ya, gw masih nggak ngerti musti merespon bagaimana. Mungkin saking nggak bisa me-relate-nya karena lagi liburan. Yang jelas cukup bikin syok sih.

Dan satu hal menarik lain yang nggak disangka, blog ini ternyata mencapai audiens yang tidak pernah gw pikirkan sebelumnya. I really wasn’t expecting that honestly.

Yeah, bagi pembaca baru yang memang sengaja main kesini karena pengen tahu tentang saya, saya blogging udah dari tahun 2011. Writing is one of my personal outlet and way to express my self. And due to the last mental breakdown I had, menulis adalah salah satu cara saya untuk tetap waras.

I was almost crazy, I was almost reaching the point I want to end my life, but I didn’t, so I write to calm my self, to release the heat inside.

Tidak mudah bagi saya untuk sampai di titik ini, pada hari ini. Banyak perjuangan yang dilalui, banyak pengorbanan yang dilakukan. Bukan hanya oleh saya, tetapi juga keluarga, dan teman-teman tentunya. Banyak-banyak syukur tak henti yang saya ucapkan.

Jika sekarang saya dihadapkan pada pertanyaan, “apakah saya baik-baik saja?” No, I am still not okay, but I am away more happy. Saat ini saya jauh lebih bahagia dan mencoba menjadi lebih positif. Saya kembali menjadi produktif, kembali mencoba menjadi diri saya sendiri lagi.

Saya mecoba mensyukuri hidup, mensyukuri hal-hal yang saya miliki, bukan hal-hal yang tidak saya miliki. Seperti yang sudah sering saya alami melalui pelajaran-pelajaran paling mahal dalam hidup:

Ketika saya ditakdirkan menjalani atau memiliki sesuatu meski berliku jalannya saya akan tetap menjalaninya, dan sebaliknya. Ketika saya tidak ditakdirkan memiliki sesuatu sekeras apapun usaha saya mempertahankannya, tidak akan pernah bertemu jalannya.

And when people—nasty people talk nasty thing about me, so I let them. People will reap what they sow. And I don’t need everyone approval to live and love my life or how to raise my child—especially from person who don’t give a sh*t about it.

IMG_20190407_173443_652.jpg

I am REALLY HAPPY!

 

Sebagai manusia, penyesalan itu sangat sangat manusiawi. Hanya saja pilihannya adalah apakah saya akan tetap berada di situ atau melangkah maju?

Dan setelah semua ini, saya menyadari hidup saya terlalu berharga untuk disia-sia, jadi saya memilih yang kedua.

Wassalam,
cheers,

atviana