Tags

, , , ,

Assalamu ‘alaikum wr wb.

Sebelum hari ini berakhir izinkan saya menuliskan kegundahan yang saya rasakan seharian ini.

Pagi ini, 17 April 2019, kita kembali melalui Pemilihan Umum serentak, langsung 5 item, Presiden-Wakil Presiden, DPR D Tingkat I dan II, DPR dan DPD. Mana hampir semua surat suaranya segede-gede gambreng. Untung biliknya muat pas dijembrengin itu suara satu-satu. Saya di sini bukan mau ngomongin soal pilihan ya, biarkan itu menjadi rahasia saya pribadi namun dengan suatu keyakinan, InsyaAlloh saya tidak menyia-nyiakan suara saya seperti periode lalu.

Ini yang mau saya bahas. Pada pemilihan Presiden 2014 kayaknya saya ke TPS tapi saya nggak milih. Tepatnya dulu waktu masih kuliah di Yogyakarta. Jadi ada rasa sesal tersisa. Kemudian dipicu dengan kondisi aktual saat ini saya merasa, saya harus menggunakan hak pilih saya meskipun berliku.

Ya tentu saja berliku.

Intinya saya mau nyoblos aja complicated ya dibumbui dengan periode stress berhari-hari—bukan soal memutuskan mau nyoblos siapa, tetapi lebih ke siapkah saya menghadapi kerumitan yang mungkin akan muncul selama di TPS?.

Serius lo ini nggak bohong. Ketika saya stress, saya akan kembali mengalami gejala sama persis yang saya alami berbulan-bulan lalu. Secara biologis tubuh saya benar-benar bereaksi signifikan terhadap tekanan psikologis. Nggak bisa tidur, asam lambung tinggi, sakit kepala daaan seterusnya.

Dan tibalah hari ini, akhirnya terlewati meski ya ada drama-drama juga. Rasanya pengen ngulek itu cangkem-cangkem nyinyir, kudoakan sajalah agar kau tak harus mengalami apa yang kualami.

20190417_233740_0000.png

Setelah berhadapan dengan berbagai kesulitan setidaknya saya tidak mengulangi kebodohan di 2014 lalu dengan tidak memilih. Setidaknya ada yang bisa saya pertanggung jawabkan di sini, bahwa saya mencoba untuk memberikan keberpihakan saya kepada value yang saya percayai benar.

Dan juga untuk menegaskan, setelah apapun yang terjadi pada saya—setelah semua yang kalian lakukan terhadap kami, tidak ada yang dapat menyurutkan semangat ikhtiar kebaikan.

Ya terbukti sih tadi, yang nyinyir emang sekelompok sama tukang nyinyir, yang dzolim ya emang sekeluarga gitu semua. Nggak heran kalau begitu. So selamat lah ya…

Semoga setelah hari ini Alloh berkenan menggenapkan ikhtiar kita bersama untuk Indonesia yang lebih baik.

Aaamiin Allohuma Amiinn…

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

atviana