Tags

, , ,

Ingin sebenarnya berbagi hal yang tidak terlalu personal, tetapi itu seperti harapan palsu karena blog ini pun mengambil platform sebagai personal blog. Wkwkwk. Tetapi maksud saya mungkin kurang lebih ingin sekali berbagi suatu hal yang less curcol gitu kali ya, karena nulis apapun pasti ditutup dengan curcol. Dan karena kondisi emosional saya saat ini, jujur saja saya sangat-sangat membutuhkan menulis sebagai sarana terapi. Jadi ya maaf lah ya~ kalau semua tulisan saya meski mengembara kemana-mana ujungnya menye-menye juga. LOL.

Cerita kali ini saya mulai dengan weekend penutup Bulan Maret lalu, saya bersama dengan teman-teman yang telah saling mengenal, berbagi tangis dan tawa selama dua belas tahun terakhir sejak di IPB, menghabiskan waktu yang memberi makan jiwa: kunjungan ke Balai Kota Jakarta, Museum Pustaka di Perpustakaan Nasional, cuci mata di Local Market Id dan Semasa di Kota Tua, menikmati gelato enak daaaaan makan sushi setelah ngidam berminggu-minggu.

Mengapa saya katakan memberi makan jiwa? Karena saya jauh merasa lebih kaya setelah melihat hal-hal indah dan artistik, setelah banyak jeprat-jepret lewat kamera. Itu sebabnya saya suka banget main ke museum, mengunjungi galeri dan pameran atau sejenak duduk-duduk di taman terbuka.

Sebenarnya saya mau share beberapa foto yang saya ambil selama weekend kemarin tetapi apa daya, I lost my SD Card sebelum sempat di back up. Hiks. So I couldn’t share my precious pictures. *gayak

IMG_20190404_201001.jpg

Selama menghabiskan waktu dengan teman-teman, saya menyadari suatu hal yang sebenarnya tidak terlalu saya perhatikan sebelumnya, sampai mereka utarakan: bahwa saya jauh terlihat bahagia, berbinar-binar dan ceria.

20190404_203315_0000.png

One of my dear friends, yang tersisa dari foto-foto yang saya ambil, yang tentunya ikut raib bersama sd card yang hilang.

Well teman-teman saya ini adalah orang-orang yang berada di garda terdepan yang jauh-jauh datang dari mana-mana (Jakarta, Jambi, Yogyakarta, Bekasi, sebut saja) mengunjungi saya ke Pati, menghibur, membesarkan hati, menguatkan dan juga menghabiskan waktu bermain bersama Varo. Mereka adalah salah satu support system saya yang luar biasa.

Entah ya… Mungkin memang benar adanya.Saya mungkin jauh lebih bahagia sekarang—dibandingkan berbulan-bulan lalu, setahun lalu, atau bahkan tujuh belas bulan yang lalu.

Weekend kemarin baru saya habiskan bersama anak—meskipun sangat sebentar—setidaknya me-recharge kekuatan mengobati kerinduan. Dan satu hal yang mungkin menjadi sumber utama kebahagiaan saya adalah saya kembali menjadi saya yang sebenar-benarnya.

Meskipun sebenarnya kenyataan ini kedengarannya agak sedikit ironis. Seakan-akan saya lebih berbahagia di sini dibanding di sana bersama anak. Tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah.

Kalau saya bisa memilih, kalau semua yang terjadi dalam hidup saya sesuai dengan apa yang saya kehendaki dan saya rencanakan, ingin sekali saya bisa tetap membersamai tumbuh kembang anak sekaligus melanjutkan cita-cita. Terlalu ideal dan terlalu utopia kedengarannya.

Segalanya tidak semudah itu, dan tentunya hidup tidak selalu berjalan seperti apa yang kita inginkan.

Hidup berjauhan dari Varo, mengeluarkan sisi terbaik hubungan kami in my very own perspective. Saya akan sangat-sangat menghargai setiap detiknya, setiap senyumnya, setiap sapaannya.

Dan hal baik secara pelan-pelan mulai datang satu persatu—kesempatan baik ditawarkan kepada saya. Meski sifatnya masih sangat abstrak, tetapi saya bisa melihat sedikit fondasinya. Atasan saya yang telah saya kenal sejak pertama menginjakkan kaki di kantor tahun 2014, semacam memberi sebuah wawasan baru tentang melanjutkan pendidikan bersamaan dengan bekerja. Ini adalah kemungkinan yang tidak pernah berani saya bayangkan sebelumnya. Ini kesempatan yang baik sekali.

Well, it indeed sounds complicated and hard already but seriously this is a real chance for me, I could to make it works. I could make things happen. Somehow. Karena ini adalah mimpi. karena saya tidak pernah menyerah mengejar mimpi.

xoxoxo
atviana

#np: I dont know, berpisah sama Varo bikin aku sering ngedengerin lagu-lagu macam Menunggu Kamu nya Anji atau You Are The Reasonnya Scot Collum yang kemarin jadi post juga. Well..

lihat aku sayang yang sudah berjuang,
menunggumu datang menjemputmu pulang,
ingat selalu sayang hatiku kau genggam

jika bukan kepadamu, aku tidak tahu lagi
pada siapa rindu ini akan kuberi?