Tags

, , ,

Kapankah waktu yang tepat itu?
Apapun sebenarnya konteksnya, waktu menurut hitungan manusia itu nggak pernah tepat. Yang paling tepat adalah waktunya Alloh.

***

Sebulan terakhir—sepanjang februari ini banyak yang terjadi. Bulan ini semacam masa transisi saya dan keluarga, terutama anak saya yang baru 1.5 yo itu untuk memasuki dunia baru. Dan ia—saya sangat yakin—berusaha keras untuk beradaptasi dan dia berhasil. He is really a shalih, smart, sweet, silly boy! *duh belom-belom udah mello

Sebenarnya saya sedikit demi sedikit sudah mulai mempersiapkan tibanya hari ini. Seriusan. Sejak tahun kemarin, saya cicil sedikit demi sedikit. Meskipun saya nggak punya planning pasti karena beneran saya nggak kebayang nanti akan seperti apa. Yang jelas saya punya satu visi besar bahwa saya tidak akan berlama-lama terjerembab seperti ini, bahwa saya akan mulai thriving, meraih mimpi satu persatu. Meskipun belum jelas ya timelinenya, apa dan dimana.

Bulan depan saya dan keluarga akan memulai tantangan baru, perjalanan baru, medan perang baru. Rasanya campur aduk sih. Beda banget dari lima tahun lalu meskipun konteksnya sama, tetapi ya jelas kondisinya berbeda. Rasanya lain menyambut dream job di ibu kota seperti sebelumnya. Tidak ada debar-debar menanti, yang ada adalah cemas meninggalkan. Sedikit khawatir soal can I do it (again), with all the complexities? Tetapi lebih dominan, will it sustain? What I will do next, after this one?

Wajar, kecemasan ini bergeser karena sejatinya prioritas pun berubah. Namun satu hal yang saya sadari seperti yang saya katakan sebelumnya. Waktu manusia itu lebih sering melesetnya. Planning yang kita buat, tidak selamanya akan berjalan sebagaimana yang kita inginkan. Planning Alloh lah yang terbaik.

Selama 2018, saya gagal dua kali melamar menjadi dosen perguruan tinggi—satu Universitas Negeri bergengsi banget, satunya Universitas Swasta berkembang sangat potensial. Dua-duanya karena alasan yang sebenernya cukup drama yang kalo diingat-ingat koplak banget lah. Dua-duanya ada faktor human error gw sih, tetapi beneran itu di luar kapasitas gw—I really tried my very best, believe me.

Selain itu sudah tak terhitung berapa banyak berkas lamaran yang saya kirimkan kemana-mana sepanjang tahun kemarin sejak akhir 2017, semua nggak pernah ada respon positif. Hingga awal tahun ini, sebuah pesan whatsapp mendarat yang mengawali semua prosesnya, hingga akhirnya offer letter saya terima dua hari lalu dan telah saya iyakan.

Apa artinya ini? Merinding gw kalo mikir ini. Artinya Alloh sudah menyiapkan semuanya pada waktuNya. Pada waktuNya di sini adalah waktu saya siap untuk memulai LDR dengan anak, dan telah tiba waktunya juga anak sudah siap menghadapi bahwa saya harus “sekolah”.

LOL. ini sih istilah doang ya.

Karena orang tua saya dua-duanya adalah guru, jadinya selama 1,5 tahun terakhir kalau saya menjelaskan ke anak, Kung dan Uti kemana? Oh ke Sekolah. Palo pun udah sering ya kuajak baik ke sekolah Uti atau sekolah Kung. Dan diapun juga sekarang udah sekolah, tante Icha pun lagi sekolah di Pare. Jadinya, Ibuk kerja di Jakarta pun istilahnya “Ibuk sekolah”. My smart sweet and cute son knows, everyone in the family has to go to school. Semacam telah kami tanamkan, filosofi keluarga kami adalah belajar. Never stop learning.

Dan ya, saya belajar banyak sekali hal dua tahun terakhir—or let say tiga tahun terakhir. All the bitter and sweet. All the pain and happiness. All the tears and laugh.

No, I don’t say it would be easy. No it’s never being easy. But I know, we can do it. We can pass it gracefully, full of bless, together. Aaamiiinn.

Dan saya juga ingin menyampaikan, bahwa saya sampai pada titik ini adalah berkat doa dari semua orang. I know you all have been praying for me and my son, all the friends and families. I love you all, semoga Alloh mencurahkan rahmat dan berkahnya kepada kalian, semoga Alloh mengabulkan segala cita dan mimpi dalam doa-doa kita. Aaamiinnn. *gw beneran mbrebes mili disini.

XOXOXOXO
atviana