Tags

, , ,

Assalamu alaikum wr wb.

Hello dear readers.

Tahun akhirnya berganti, sedikit berbeda dari pergantian tahun kemarin. Tadi malam saya cukup sadar untuk menyadari bahwa hal-hal akan berubah. Tahun lalu antara 2017 ke 2018 saya seperti hanya menjalani hari demi hari tanpa terlalu menyadari tahun telah berganti [atau malah waktu telah berlalu, cepat].

Sebenarnya, saya mau buat satu postingan kemarin. Tetapi semalem, I sleep through the night early. Kayaknya sama aja sih dari tahun ke tahun, mumpung hujan deres dan Ao udah nyenyak, Ibuk ikutan bobok aja. Postingan yang ingin saya buat masih berkaitan soal bucket list dan resolusi yang ingin saya laksanakan di tahun 2019.

Intinya sih, saya pingin lebih banyak meresonansi gelombang positif. Implementasinya bisa pada banyak hal ya. Tapi yang ingin saya capai utamanya hanyalah self acceptance and peace. To be honest dua hal ini adalah momok terbesar saya setahun belakang. Hingga saya memutuskan untuk kembali menghadirkan kegiatan-kegiatan positif sebagai resolusi nyata untuk mewujudkannya. Salah satunya adalah kembali membaca buku.

Mungkin ini bukan hanya terjadi pada saya, tetapi kebanyakan orang, yakni terjangkiti virus gawai. Yeah lihat saja postingan saya beberapa waktu lalu soal smartphone di mana banyak kegiatan yang sudah pindah dilakukan di telpon seluler pinter daripada di perangkat lain.

Nah g tau deh ini gw doang atau kalian juga merasakan hal yang sama, banyak berinteraksi dengan hape, ujung-ujungnya kembali ngintip halaman media sosial, termasuk blog. Wkwkwkwk. Dan rasanya saya sudah terlalu terjangkiti, dan terlalu banyak menghabiskan waktu scrolling instagram, jadinya saya memutuskan untuk kembali membaca buku sebagai sarana jalan pulang dan terapi.

Jadi saya sengaja membuat Reading Challenge pribadi untuk tahun 2019, 12 judul buku dulu deh, sebagai pemanasan. Daaaan saya udah start 2 minggu lalu kayaknya dengan membaca ini, saya selesaikan dua hari sebelum 2018 berakhir.

Ceritanya, saya udah punya buku ini sejak tahun 2015. Yeah saya juga tipe orang yang suka hoarding buku. Salah satu kegiatan impulsive saya ketika lagi galau adalah pergi ke toko buku dan belanja. Sebenarnya ini judul klasik ya, harusnya saya udah baca ini dari dulu-dulu. Tetapi jujur saja, dulu pernah punya pengalaman pas SD baca buku Huckleberry Finn yang juga klasik, dan ternyata nggak enak. Berasa nggak nyambung dan nggak relatable. Yeah mungkin karena masih terlalu belia ya bacanya. “cailah“.

Nah pengalaman saya baca ini malah bikin ketagihan. To Kill A Mockingbird, bagi saya sekarang sedikit banyak seperti ikut memberikan panduan soal parenting. Saya belajar banyak hal dari bagaimana cara anak-anak Finch dibesarkan. Bagaimana Atticus mempertahankan prinsip yang ia percayai dan bagaimana prinsip itu akhirnya bertumbukan dengan kultur masyarakat barat zaman itu. Berlatar di kota fiksi Maycomb, Alabama sekitar pertengan tahun 1930an ternyata cukup relatable lah dengan kondisi sekarang ini, meski dengan berbagai penyesuaian.

Seperti yang saya tulis pada IG story saya di atas, pesan moral terkuat terletak pada fakta bahwa di dunia ini hanya ada 1 jenis manusia, yakni manusia itu sendiri terlepas dari berbagai atribut yang tersemat. Manusia memiliki keharusan untuk memanusiakan manusia lain.

Buku ini lekat menggarisbawahi bagaimana prasangka dapat mempengaruhi setiap keputusan sadar yang kita ambil. Hal yang sangat-sangat nyambung untuk era digital seperti saat ini di mana setiap orang memiliki kebebasan untuk mengekspresikan gagasannya, dan banyak prasangka terbersit sebagai dampak langsung maupun tidak langsung.

Konflik utama yang terjadi menurut saya bermula dari kegagalan seorang individu–atau dua, memanusiakan manusia lain. Demi mencapai kepentingan dan kebahagian pribadi, hak hidup orang lain dipertaruhkan. Tidak main-main, harganya adalah nyawa seorang manusia. Meski disampaikan dalam pemikiran innocent bocah 6 tahun–karena buku ini diceritakan melalui sudut pandang Scout Finch yang memulai awal cerita sebagai siswa kelas 1 SD–pesan yang disampaikan begitu tajam, bahwa kematian sia-sia yang terjadi hampir di akhir buku hanyalah akibat seseorang mengaggap nyawa orang lain–manusia lain–tidak sepadan dengan kebahagiaannya sendiri, atau mungkin di masa itu, menghindari prasangka dan penghakiman orang lain lebih krusial dibandingkan nyawa seorang warga kulit hitam.

Ada pola aneh yang sangat relatable. Fakta bahwa keegoisan seseorang berakar dari prinsip, “yang penting gw dan keluarga gw bahagia, terserah orang lain mau jungkir balik kek atau mati sekalian”. Sudah terlalu banyak contohnya. Mengapa kok kayaknya saya sensitif sekali soal ini? Karena jujur saja, saya ini dipaksa untuk mengalami hal demikian. Pada suatu titik, nyawa saya pernah menjadi taruhan. Kedengarannya berlebihan, tetapi saya pernah berada pada periode depresi parah dan itu menjadi titik terendah hidup saya. Alhamdilillah sudah lewat.

Secara gamblang dapat dikatakan hak saya dan anak saya untuk hidup dalam kondisi sehat jiwa dan raga telah tergadai. Hanya karena ada individu-individu yang menganggap mereka jauh lebih pantas berbahagia meski dengan merampas kesempatan anak saya memiliki masa depan keluarga yang sehat dan utuh, dan tentunya memenggal mimpi dan harapan-harapan pribadi saya.

Bangkit dari keterpurukan itu, kemudian membaca buku ini yang samasekali tidak saya sangka memiliki pesan sekuat ini memberikan pembelajaran bahwa, yeah manusia brengsek selalu ada aja sih. Mau di dalam cerita atau di dunia nyata. Membuat buku ini jauh lebih berkesan dibanding kalau saya membaca buku ini pada zaman dulu–atau saya aja yang terlalu menjiwai untuk mengaitkan hal-hal berkaitan. Entahlah.

Setidaknya saya jadi lebih apaya, merasa lebih content satu tingkat lebih tinggi setelah membaca ini. 😊

Satu pengalaman yang menyenangkan bisa menemui satu buku yang enggan untuk diletakkan lagi setelah bertahun-tahun.

Selain Book Reading Challenge, saya juga membuat target pribadi mingguan maupun bulanan, dalam membaca scientifict paper/article serta menyelesaikan latihan ielts yang sudah lama saya tunda-tunda. Ini berat banget sih challenge nya. Tetapi ini saya lakukan demi masa depan lebih baik, eyaaak. Nggak gitu, soalnya saya merasa, kalau kepala nggak dipake mikir lama-lama nanti bisa butek. Jadi ini saya anggap sebagai latihan. Dan pasalnya saya juga memulai jadi freelance writer di salah satu portal berita, masih soal science blogging, jadi baca jurnal lumayan memberikan angin segar dan makanan sehat untuk otak.

Orang bilang: You are, what you eat, what you read, what you listen and what you speak sih. Jadi saya sedang dalam usaha untuk memberi makan hal-hal positif ke dalam jiwa. Niatannya sik, pengen makan sehat juga dan olahraga. Semoga bisa istikomah ya. πŸ˜†

Till next post,
Wassalam,
atviana