Tags

, , , , ,

Assalamualaikum wr wb.

Ini postingan dadakan, nggak ada niat bikin postingan tetapi Ya Alloh, gw kayak abis dapet ilham jadinya ya udah yuk kita share ilmunya.

Malam ini one of my good friend @firdana.ayu setelah diskusi panjang ngalor ngidul me-mention soal Filosofi Kehidupan, bahwa kegagalan-kegagalan yang kita temui adalah cara Alloh untuk mengarahkan kita kepada hal yang baik dan benar.

Dan ini benar adanya.

Coba diingat-ingat lagi. Kita mungkin sering sekali gagal melakukan suatu hal tetapi kemudian diganti dengan yang lebih baik, jauh jauh lebih baik. Begitupula yang gw alami beberapa saat terakhir. Kegagalan besar yang gw rasakan ternyata menyelamatkan gw dari keburukan yang lebih merusak.

Gw kemudian bersyukur, benar-benar bersyukur, gw kayak abis lolos dari kandang macan gitulah analoginya. Dan langsung teringat, yang Alloh timpakan buat gw kemarin hikmahnya ya ini. Gw nggak berlama-lama kena toksik beracun yang mencemari kesehatan jiwa raga.

Selama ini gw selalu bertanya-tanya, mengapa gw ditimpakan kemalangan dan ujian seberat ini, kok rasanya hidup nggak adil banget sama gw. Tetapi gw salah besar.

Sejatinya manusia tidak pernah menyadari hal-hal ini sebelum tabir dibukakan oleh Alloh. Dan tabir penutup itu tadi malam mulai tersingkap sedikit demi sedikit. Bahwa kemalangan ini terjadi bukan untuk menyakiti gw, tetapi untuk menyelamatkan gw. MasyaAlloh, maha besar Alloh.

Selama ini gw juga sebenarnya wondering, anak itu adalah cerminan orang tua. Ketika anak menunjukkan atau mengekspresikan kualitas A B C, besar kemungkinan ya orang tuanya juga kualitasnya ya A B dan C. Nggak akan lari jauh-jauh lah. Seperti ada benarnya peribahasa, buah jatuh tak jauh dari pohon atau air cucuran atap jatuh ke pelimbahan juga.

So kemarin-kemarin itu gw nggak habis pikir, ini anak gimana cara dididiknya sama orang tuanya, kok bisaaa, kok bisaaa dan seterusnya dan seterusnya. Eeeh malem ini, terkuak sudah, persis seperti peribahasa di atas. Plek tumemplek.

Ya udah kalo gitu sih g heran lah ya.

Dan kemudian gw secara personal semakin ringan untuk berlepas diri dari keburukan-keburukan ini. Bukan lagi sakit hati, tetapi kesyukuran semerta-merta kepada Alloh, bahwa saya dan anak saya di hindarkan dari marabahaya. Dan juga sesuai dengan fitrahnya, yang dzolim akan berkumpul dengan sesama dzolim dan tidak ada orang baik yang akan tahan dengan kedzoliman, berangsur waktu akan merenggang juga jaraknya. Sudah sunatullah begitu.

Nah, karena sudah menjadi lebih positif. Mungkin saatnya kita membuat resolusi. Yeah saya menganggap tahun 2018 ini adalah titik baru saya memulai hidup, kita lanjutkan di tahun depan. So lets begin.

Tahun depan izinkanlah saya Ya Alloh untuk:

  1. Meningkatkan kualitas diri, spiritual emotional dan sosial
  2. Memperbanyak bersyukur
  3. Memperluas kesabaran [karena katanya sabar itu tanpa batas]
  4. Berdamai dengan Inner Child, dan terus giat belajar parenting sesuai Fitrah anak.
  5. Lebih progressif dan produktif dalam bekerja dan berusaha
  6. Belajar investasi, punya investment yang hidup dan menghidupi

Mungkin kesannya masih terlalu general banget ya, biarlah resolusi detailnya menjadi simpanan pribadi.

So, Pray to Alloh, be positive, work hard, do good and kebaikan-kebaikan lain insyaAlloh akan menghampirimu dengan derasnya. Percayalah!

Sebagai penutup seperti distatuskan semalam oleh sahabat baik saya yang lain:

Semoga ada hikmah yang bisa dipetik.
Wassalamualaikum wr wb.

With a lot of loves,
atviana