Ternyata setahun telah berlalu, dari titik di mana saya disadarkan kepada kenyataan.
Yang mulanya adalah ketidaktahuan nan lugu semerta-merta terganti pengetahuan buas yang merenggut jantung dari rongga dada, dan menghempaskannya ke lantai begitu saja.

Saya pernah menjadi seperti zombie,
semacam kehilangan jiwa, tidak tidur, tidak makan, bersyukur masih teringat Tuhan.

Ya, sudah setahun sejak saat itu. Putraku saja sudah mampu berlari.
Dari gumaman aaa uuu hingga kini bisa ikut bernyanyi, merangkai frasa,
menjadi teman bicara,
penghibur lara.

Sesekali sesak masih terasa di dada, seperti kehilangan udara, sedetik dua detik, ketika otak kekurangan oksigen, dan seakan syaraf dan sel-selnya mati sedikit demi sedikit, dengan nyeri di mana-mana.

Tetapi, saya tidak sendiri.
Tidak pernah sendiri.

Sampai detik ini pun saya masih tidak paham mengapa. Tidak ada akal sehat dan norma yang membenarkan, perbuatannya seakan tidak pernah mengenal Tuhan.

Kemudian saya teringat, seorang Guru pernah memberi nasihat,

Jikalau ada yang menyakitimu dan berlaku tidak adil kepadamu, tidak perlulah risau, itu bukan kerusakan yang dilakukan terhadapmu, tetapi pelanggaran terhadap apa yang telah Alloh perintahkan.

Hanya ini saja yang kami genggam, hanya ini sajalah yang menjadi pegangan.

Dan nanti,
ketika tahun demi tahun silih berganti,
seperti hari ini,
saya akan mengingatnya kembali,
tanpa rasa nyeri.

Semoga Alloh meridhoi.

Senin ba’da ashar di pembaringan bersama putraku yang terlelap, di tengah hari yang kelabu

November 26, 2018