Tags

, , ,

Assalamu ‘alaikum wr wb.

Hello my dear good reader. Hari ini saya kembali dengan satu postingan, yang sebenarnya lebih cocok kalau saya rilis taggal 28 Oktober kemarin, ketika Hari Blogger Nasional. Tetapi apalah daya, ide saya membuat tulisan ini baru muncul sore tadi. Triggernya adalah ketika saya mendapatkan sebuah pesan dari salah seorang teman yang berbunyi: “Kenapa cewek suka ngeblog?” and seriously I really took a moment to draw the answer.

I wanted to say, according to science yes, women talk more than men. Hence women use blog as one way to let go her 20.000 words a day, otherways she will be in distress. LOL. but after I found out more studies in contrast said that men and women speak equally same number of words in any ages, read this. Jadi kayaknya jawaban gw tadi sore salah. Wkwkwk.

Hanya saja kemudian saya jadi berpikir? Mengapa saya suka ngeblog?

Blog ini pertama kali dibuat sekitar tahun 2010 atau 2011. Lupa tepatnya, mungkin nanti kalau ada notifikasi anniversary dari WordPress saya baru beneran inget. Tahun itu blogging bukan hal baru lagi. Maksud saya adalah, udah semacam telat kali ya baru bikin blog kala itu.

Saya sempat lama berpikir lo, untuk beneran memutuskan bikin blog. Semacam maju mundur cantik gitu. Takut nggak bisa konsisten. Nah motivasi terkuat adalah ketika memasuki masa-masa menulis skripsi di tahun 2011, saya rasanya seperti diwajibkan untuk menulis setiap hari sama pembimbing—ini beneran nggak bohong—jadinya saya seperti terbiasa menulis secara teratur dan harus punya outlet supaya istikomah. Bisa dikatakan kontemplasi yang terjadi laksana akan mengambil sebuah keputusan untuk hal yang sifatnya maha serius padahal sebenarnya isi blognya nggak seserius itu.

Akhirnya saya putuskan untuk membuat sebuah akun di WordPress. Mengapa WordPress? padahal banyak teman yang sudah lebih dahulu blogging mepet-mepetnya ke Blogspot. Jawabannya simple, karena saya nggak suka hal-hal mainstream. Udah itu aja. LOL. Tetapi kemudian, setelah beberapa waktu saya berdiam di WordPress saya melihat perbedaannya. Saya merasa blog saya lebih rapi, lebih terstruktur dan less alay—mohon maap ini preference pribadi—dibandingkan kalau saat itu saya memutuskan untuk bikin akun di Blogspot. Mungkin ini karena WordPress pada waktu itu cukup membatasi opsi customize tampilan untuk akun gratisan.

Kemudian dari tahun 2011 itulah saya mulai rajin ngisi blog, dengan postingan-postingan ringan terkesan curcol, kegiatan sehari-hari, pemikiran random, puisi-puisi—dulu rajin mengungkapkan hal-hal lewat puisi, sekarang lebih sering lewat cerita—dan hal-hal apa saja yang saya anggap menarik, termasuk hobi jalan-jalan, crafting, fotografi dan makan.

Dan saat ini kayaknya WordPress lagi gencar-gencarnya ngiklan, ngasi diskon dan promo untuk upgrade ke akun premium. From atviana.wordpress.com jadi atviana.com aja. Sebenarnya nggak mahal dan gw jadi punya akses to many premium features, tetapi kok kayaknya, kesan personal blog yang modest, humble dan semacamnya juga langsung pupus dan sirna ketika domain berganti. Dan saya tentunya harus menyesuaikan isi konten blog yang udah bejibun untuk penyesuaian transisi nama, and that’s obviously indeed a hardwork. I’m too lazy for that.

Seiring berjalannya waktu, sekarang ada pula istilah microblogging, yang pada mulanya banyak dilakukan di media seperti Tumblr. Tetapi kemudian merambah ke platform lain termasuk Snapchat, Instagram, Whatsapp—caption dan Stories—you name it. IMHO saya mengaggap ini juga termasuk microblogging. Semakin variatiflah medianya. Tetapi secara personal saya masih menganggap blogging adalah outlet sosial media utama saya untuk bercerita panjang tanpa batasan jumlah karakter, waktu tayang atau apapun batasan yang diberikan platform terkini.

Sebelum punya blog, saya sebenarnya cukup sering menulis note di Facebook atau dulu jamannya Friendster, tetapi kok rasanya agak alay ya, dan kurang bebas saja. I mean, di media sosial itu isinya ya teman-teman, kolega yang tahu saya secara personal. Saya jadi tidak bisa dengan bebas mengungkapkan gagasan dengan lebih jujur, beda sekali rasanya. Dan seperti yang pernah saya singgung pada postingan yang telah lalu blog adalah tempat saya merasa paling jujur dan apa adanya bercerita.

Sekitar 80% pembaca blog ini nggak kenal sama saya secara personal, meski ada ya yang sudah lumayan kenal lama dan jadi blogger buddies. Kalau ada yang niat banget main kesini dan membaca entri-entri meskipun bukan teman sesama blogger itu hanya ada dua golongan, 1. my close friends who know me inside-out and love to read my stories atau 2. Lo, who have no brain, heart or even humanity destroyed my life but now are so curious about it. 😂

I dedicated this long paragraph for you. Yes I know you occasionally come here and read my stories, want to know what happen to me. You don’t know me as person, so I bet you really want to know me. Even back then, when I didn’t set my social media as private, I bet you scrolled up and down my IGs to feed your sick and crazy curiousity. Why? Because I have mooooreee interesting life than yours? LOL. Your life is so flat, sad, miserable and indeed nothing significant happen to you, so you want other people to be miserable too. It is so sick. Sakit jiwa. The most funny thing was when you changed your Instagram ID to something so similar with how I named mine! So you are kindof my follower then? OMG, don’t you have some pride to hold on? Now I am happy, yes happy, eventho my life is soo frikkin hard right now but obviously I still have more interesting life than yours. I don’t have to be someone else to be happy, I don’t need to ruin somebody else’s house to build mine, I don’t have to destroy others dream and happiness to make my own. I fight for me and I don’t need any other human beings approval or validation, you hear me! Someday you two will get your turn and payback. No, don’t worry I will keep writing here with some more brutal honesty and you can sit and watch when I’m thriving. So SHAME ON YOU!

Untuk bagian ini, dulu dan sekarang pun sama aja ya, saya masih menggunakan blog untuk bercerita hal-hal random dan curcol.

Wassalamualaikum wr wb.

With love,
atviana