Tags

, , , , , , , , , , ,

Manusia hanya bisa berencana—dan berusaha setidaknya.

Disclaimer: yang saya ceritakan di bawah ini, beneran kejadian nyata, nggak dilebih-lebihkan, termasuk semua orang baik yang saya temui sepanjang perjalanan. Kalau nggak semuanya ada fotonya, yaa maaflah ya g sempet. Ketika panik, kadang-kadang, insting dan naluri yang memimpin.

Warning: ini postingan panjang banget, kalo butuh bacaan ringan kayaknya skip aja. :D

Assalamu ‘alaikum wr wb.

Hello my dear reader? Semoga sehat-sehat ya di tengah musim kemarau berkepanjangan ini, meski sudah dipenghujung Oktober, hujan nampaknya belum terlalu signifikan turunnya—yes di Pati baru beberapa kali hujan selama 3 mingguan saya dirumah, dan intensitasnya sedang cenderung rendah, dan suhu udara yang Subhanallah, 33 deg kalo siang dan 24 deg kalau malam. Jujur 2 hari pertama pulang dari yurop, berasa timpang banget. Pake AC 20 derajat nggak berasa apa-apa.

Ya, Oktober sebentar lagi berakhir, 2018 tersisa dua bulan lagi. Yeah waktu cepat sekali berlalu. Entahlah mau mellow apa mau optimis muhasabah. Wkwkwk rada bingung ini mood nya pas ngetik paragraf ini. Tetapi sebenarnya yang mau saya ceritakan kali ini bukan soal itu. Kwkwkw. Gimanasik babang! Sebelum Oktober berakhir, dan sebelum detail-detail ceritanya terhapus dari benak, saya mau cerita lengkap drama 4 hari terakhir solo traveling saya di Eropa kemarin. Yang ngikutin IG story udah dapet kisi-kisi sih, kalo saya mengalami “travel drama” tapi ciyus, yang baru tahu cerita ini hanya segelintir orang. Padahal Gw fix sempet “mau” hilang di Eropa. LOL. Bagaimana ceritanya?

Cerita ini dimulai ketika saya memutuskan untuk keliling-keliling Eropa sendirian selama 10 hari. Sebenernya nggak beneran keliling-keliling juga, wong “cuma” mau ke 3 kota aja. Saya terbiasa memberikan judul/tema pada perjalanan yang saya lakukan, dan tema kali ini adalah: mengunjungi teman. Itinerary awal saya dari Bochum saya ke Paris – Barcelona – Ghent – Frankfurt. Di mana disetiap kota saya mampir, saya berencana mengunjungi teman-teman. Oiya saya transfer antar kota/negaranya menggunakan Flixbus. Well, detail soal Flixbusnya akan saya ceritakan di postingan berbeda.

Nah sebagai gambaran umum, review pengguna Flixbus di internet itu katakanlah bikin jiper buat newbie solo traveler macam saya ini untuk mencoba. Serius, coba aja googling lah. Tapi setelah teman-teman menyelesaikan membaca postingan ini seenggaknya mendapatkan sudut pandang baru (either positive or negative side). Mengapa saya nggak memilih akomodasi lain seperti pesawat atau kereta?

  1. Flixbus menawarkan harga paling affordable—JELAS!;
  2. Naik pesawat itu, artinya akan ada tambahan cost semacam, airport transfer, baggage/luggage cost (apalagi naik LCC), dan saya jujur males banget ribet check in di bandara. Sudah cukuplah 30 jam total saya habiskan untuk perjalanan dari Pati-Semarang-Jakarta-Bangkok-Frankfurt-Bochum;
  3. Kalo kereta jelas-jelas mahal cyin, apalagi kereta antar Negara, mamak nyerah lah;
  4. Kita bisa menikmati perjalanan darat, karena banyaaaaaak yang bisa dilihat! Kalau nggak naik night bus, tapi si saya kebanyakan tidur. Alasan-alasan tersebutlah yang membuat saya memberanikan diri naik Bis antar Negara, sendirian, dan kebanyakan malam hari.

Hari pertama sampai hari keenam amanlah, sudah mulai nyaman banget naik Flixbus, apalagi sama Terminal Bercy nya Paris. Dimulai dari tanggal 1 Oktober, saya memulai perjalanan dari Barcelona sekitar jam 4 sore, menuju Paris untuk transit dan pindah Bus menuju Ghent pada pukul 10 pagi keesokan harinya. Dramanya dimulai dari sini. Mungkin karena saya udah nyaman ya, jadi kewaspadaan agak sedikit turun, bisa dibilang jadi agak santai. Saya depart dari Paris menuju Ghent menumpang Bus dengan nomor L803 jurusan Denhaag.

Yang juga patut diketahui, Flixbus ini perusahaan transportasi online startup berbasis di Jerman yang melayani trayek seluruh Eropa dengan banyak partner perusahaan moda transportasi. Jadi bis-bis yang melayani trayeknya Flixbus, nggak semuanya punya Flixbus. Si Bus L803 ini milik perusahaan transportasi Belanda bernama Verhoef.

Singkat cerita, saya santai banget tuh di sepanjang perjalanan. Sampai di Lille, kota perbatasan Perancis – Belgia, si Supir (sendirian, nggak pakai kondektur) bilang kalau nanti aka nada istirahat selama 25 menit. Nah sejam duajam kemudian, bis berhenti di sebuah rest area di kawasan Nazareth, yang kemudian gw liat di google map hanya selemparan batu dari Ghent. It was 15 minutes away from city center. Bis berhenti dan semua penumpang diminta turun selama 25 menit. Padahal biasanya meski berhenti untuk smoke break atau break-break yang lain, saya nggak pernah turun lo. Tapi ini terpaksa. Ya udah saya turunlah membawa ransel yang emang isinya laptop, dokumen dan duit, tetapi tentengan kabin nggak saya bawa, karena berat cyin. Saya ke convenient store beli makan-minum dan semacam menghabiskan waktu 25 menit ini. Kesalahan saya, saya menjadi sangat santai dan nyaman. Ketika saya merasa sudah cukup, saya mulai berjalan ke arah Bis Verhoef putih di kejauhan yang masih parkir di tempat yang sama.

Eh jarak 50 meter kok bisanya mendadak mulai jalan ya. Ya udah gw mulai panik disko lah disitu, mulai lari buat ngejar-ngejar bisnya. Tapi apalah daya dengan tubuh non atletis, nggak pernah lari, kecil ini, gw nggak bisa ngejar itu Bis, ataupun si Supir Bis nggak menyadari gw udah lambai-lambai pasrah sambil lari-lari di kejauhan. Dengan tatapan nanar dan merutuki diri sendiri gw memandang Bus Putih itu melaju pergi bergabung dengan kendaraan yang lalu lalang dengan kencangnya di Jalan Tol.

Yaa Salaam. Ini jalan tol, rest area, nggak ada transportasi publik, nggak ada bis kota, nggak ada trem, nggak ada subway. Udah mau tambah panik. Gw memaksa diri untuk get a grip dan banyak-banyak istigfar. Ini beneran lo, nggak mengada-ada.

Gw akhirnya lari lagi masuk ke rest area, dan mulai nanya-nanya orang. Gw pertama ke restaurant, untuk ngecas HP sekaligus nanya-nanya, karena baterai pun habis disaat kritis. Dengan muka pucet dan English gw yang agak belepotan gegara panik, gw menjelaskan kondisi gw ke penjaga restaurant dan nanya apa mereka bisa bantu—ya keles, menurut gw? Tapi patut dicoba. Dan mereka jawab, mereka g tau harus gimana. Wkwk. Mereka nyuruh gw ke minimart buat nanya petugasnya. Nah disinilah gw mulai mendapat pencerahan.

Ternyata kejadian begini, ditinggal bus di rest area tersebut bukan hal baru 😑. Ya menurut ngana. Gw dikasih nomor Flixbus buat dihubungi dan nomor taxi buat menjeput gw dan nganterin ke rumah temen di Ghent atau setidaknya ke pusat kota. Nah sebelumnya saya juga—maaf lah ya, ini gw dan saya dicampur-campur, saking excitednya ngetik—menghubungi teman saya di Ghent untuk mengabarkan peristiwa ini.

Nomor CS Flixbus g bisa dihubungi. Jelas. Nelponlah untuk manggil Taxi, tapi mereka g punya armada buat jemput gw. 😰. Satu-satunya cara ya gw nyari tumpangan untuk ke pusat kota. Yang mana sebelumnya gw nggak tau kalo jaraknya cuma 15 menit.

Gw akhirnya ke parkiran buat nyari tumpangan. Tapi sebelum itu, gw berusaha ngirim email ke CS Flixbus, ngisi form lost & found items, karena barang gw (1 suitcase dan 1 tentengan) masi di Bus. Hiks. Dan melakukan tindakan-tindakan P3K lainnya.

Fokus saya waktu itu bukan ke barang sih, tapi bagaimana saya bisa nyampe Ghent. Sudah nanya banyak orang yang bawa mobil, tetapi nggak ada yang ke arah Ghent City Center atau bisa ditumpangi. Sampai di satu moment, pandangan gw jatuh kepada babang-babang yang mau naik mobil Mercy setelah selesai membeli segelas kopi—nebak ajasik.

Sebenarnya jujur, gw jiper dan ragu-ragu sangat mau menghampiri babang Mercy tersebut. Karena apa, serius style babangnya tampan mirip Harry Styles. Ini beneran gw nggak bohong, tapi sekali lagi, karena kepepet, gw beranikan diri. Gw tanyalah doski, mau ke Ghent nggak, kalau iya gw boleh numpang kah? And he said yes, and sure I could join him. Haaaa babang Harry Styles sang Savior.

Sebelum gw masuk kursi depan, dia beres-beres dulu. Emang sih mercy, tapi agak acak adut isinya. Anak kuliahan kayaknya. Udah tuh, mobil melaju ke Ghent City Center, dan kami. pun ngobrol-ngobrol ringan.

Namanya Babang Louise, mau visiting temennya di Ghent, and he thinks Ghent is beautiful. Gw bilang sama dia, ini kali pertama gw ke Ghent, dan Ghent is indeed beautiful. Udah tuh sampai di City Center, Gw diturunin di Zuid, semacam central stops untuk bis dan trem dan janjian ketemuan sama temen di sana. Nih dibawah ini, petikan obrolan chat gw dengan teman di Ghent yang juga ikutan kubuat panik.

Nah disitu gw sempet menunggu, duduk termenung sendirian (sebenarnya ramai sih, gwnya aja yang sendirian) ditengah udara musim gugur yang dingin. Ketika menunggu temen itulah, mulai sedikit keinget soal barang bawaan yang entah rimbanya ada di mana. Mana kemarin pas di Barcelona disempetin belanja juga, jadinya rada-rada patah hati gitu. Belom berani ngabarin orang rumah, karena kebanyakan isi koper selain baju kotor adalah titipan orang rumah.

Ketemulah sama temen kemudian kami langsung menuju rumahnya. Nginep semalem, tetapi dengan beban ini rasanya malam musim gugur jadi tambah dingin dan gw nggak bisa tidur. Alhasil semaleman searching soal penderitaan serupa orang-orang yang ditinggal Bus di Nazareth dan bagaimana kelanjutan nasib barang-barangnya. Semakin banyak gw googling, semakin patah hatilah gw. Kayaknya gw harus menyiapkan hati untuk kehilangan barang bawaan tersebut. Karena pengalaman positif soal kehilangan barang di Flixbus itu kayak mencari jarum dalam jerami.

Oiya sebelum naik untuk tidur, saya memutuskan untuk, mencoba jalan terakhir dan satu-satunya dan ternekat untuk melacak barang-barang yang hilang tersebut, yakni dengan membeli tiket Bus L803 jurusan Ghent Denhaag di jam yang sama keesokan harinya. Selain googling saya juga mencoba mengubungi CS Flixbus melalui beragam akun media sosial, yang yang paling responsive adalah twitter.

Tetapi gw nggak dapet banyak solusi disini, dan si CS setelah gw mintai pendapatnya soal ini, juga bilang coba aja ke Denhaag. Tetapi di Denhaag itu berdasarkan testimony temen dan pantengin Google Map lokasi halte Flixbusnya itu dipinggir jalan dekat Denhaag Central. Nggak kayak Paris atau Barcelona yang ada terminalnya gitu. Semakin kecutlah gw, kemungkinan besar gw nggak dapet info apa-apa kalau gitu.

Bersambung yaaa, biar g panjang.

Post lanjutannya klik disini.