Tags

, , , , , , , , , , , , ,

Assalamu ‘alaikum wr wb.
I’m back with another traveling post.

Beberapa waktu sebelum saya melakukan trip ke Jerman, saya sempat mengungkapkan keinginan terpendam kepada salah seorang teman baik saya yang saat ini memang sedang bermukim di sana untuk mengunjungi daerah desa ala-ala Jerman dengan rumah-rumah—seperti—kue jahe. Nah, setibanya saya di Eropa, akhir pekan pertama saya habiskan dengan mengunjungi sebuah pedesaan atau istilahnya si aldstaat or old town di bagian barat daya Jerman, persis berbatasan dengan Belgia, namun masih di dalam wilayah North Rhein Westphalia—sehinga beli tiketnya bisa agak murah, one day ticket untuk NRW region. Namanya Monschau.

Monschau ini kota kecil yang berlokasi tepat di lembah dataran lumayan agak tinggi yang dikelilingi bukit kecil gitu dan dibelah dengan sungai yang mengalir ditengah-tengah kota—atau desa.

Untuk sampai ke Monschau, saya dari Bochum naik kereta langsung ke arah Aachen. Tapi saya stop dulu di Cologne buat janjian sama temen. Baru deh jump to the next train to Aachen. Berikut ini Map nya, rute kereta dan nomor Bus dan stops nya untuk sampai ke sana dari arah Cologne.

Sampai disana, pas baru masuk sebenernya jujur saya agak-agak underestimate, “Yaelah gini doang”. saya sebelumnya membayangkan seperti foto-foto desa Bavaria yang cantik-cantik itu. Tetapi saya salah, beberapa belokan dan gang kemudian, hingga saya mencapai tengah kota, saya baru terkesima. “Oke baeklah, Monschau itu cantik. Hahahahaha”.

Dengan bunga-bunga ala musim semi-panas yang masih banyak bermekaran. Rumah-rumah kue jahe yang didominasi warna putih abu-abu dan coklat yang semuanya lucu serta elevasi desa yang agak landai membuat desa ini terkesan magis. *nah kan saya mulai lebay, padahal sebelumnya underestimate banget.

Udah tuh, foto-foto aja terus. Berhenti poto, berhenti poto. Nah selain muter-muter di seantero kota yang sebenarnya sempit banget itu, kemudian kami mendaki ke salah satu bukit menuju kastil Monschau, kediaman tuan tanah zaman dahulu kala. Pokoknya rumah orang paling tajir se-Monschaulah. Sebenernya temen juga ngajakin naik ke bukit yang satunya lokasi menara pandang, tapi gw kibar-kibar bendera putih. Menyerah, kataku “lu naik aja sana sendiri, gw nyeraaaah”.

Dan sesampainya di Monschau cuaca berubah menjadi sunny-sunny anget gimana gitu. Perfect lah buat tamasya. Padahal sebelumnya otw dari Bochum agak-agak mendung dan windy. Lupa deh pagi itu apa pakai gerimis segala atau nggak. Soalnya selama dua minggu saya tinggal di Bochum, sering turun gerimis sampai hujan ringan-sedang, dan tentunya dingin cyin.

Karena cuaca enak banget tuh, waktunya makan eskrim. Satu hal yang selalu saya kangenin dari traveling—terutama di Eropa, makan eskrim ketika tamasya. Jadi eskrim sudah menjadi property foto saya kalau kemana-mana, pokoknya wajib, kudu, harus. Cek aja, semua postingan traveling saya pasti ada eskrimnya. :D

Oiya, dari stasiun Rothe Erde ke Monschau jalannya agak naik turun berkelok ya dan melewati daerah sub-urb nya Aachen gitu. Tetapi cantik-cantik lo rumahnya, banyak tamannya me suuukkaaaa.

So, buat yang mau atau sedang berencana ke daerah North Rhein Westpalia macem Dusseldorf, Koln, Dortmund dan sekitarnya, bisalah mampir kesini. Worth your time kalo cuacanya bagus. Next wishlist ketika ke Jerman lagi adalah ke desa-desa Bavaria di Selatan Jerman—dan mengunjungi kastil yang cantik-cantik itu. Point ini belom kecoret dari trip kemarin nih karena minim sumber daya—lagi ngirit.

See you till next traveling post yaaaaaa.
Wassalamu alaikum wr wb.

Cheers,
atviana