Tags

, , , , , ,

Assalamualaikum wr wb.

Hello dear good readers! How are you?
Saya berharap semuanya sehat-sehat dan baik-baik yaa. Alhamdulilaah saya oke banget. Saya memulai nulis ini ketika ada di dalam RER menuju Bercy dalam perjalanan yang akan membawa saya dari Paris menuju Barcelona. Yep, udah 3 harilah gw di Paris dan hari ini saatnya berpindah. Sebenarnya saya punya 2 draft lain yang harusnya saya terbitkan. Tapi serius pengalaman saya bolang di Paris kemarin harus saya tulis duluan. Mumpung masi anget.

Rencana perjalanan ini dimulai dari obsesi terbesar saya untuk mengunjungi Musse d’orsay dan Louvre untuk yang keduakali. Sebabnya apa, katakanlah saya ini punya strong connection dengan museum, seni dan barang-barang purbakala.

Mungkin kalau dipikir-pikir saya akan memilih untuk tidur saja sekarang. Saat ini saya berada di dalam Bus dari Barcelona menuju Paris—kembali—untuk mencapai kota selanjutnya yang akan saya kunjungi. Karena saya ini orangnya gampang kena motion sickness kalau melakukan aktifitas yang ada hubungannya dengan membaca ataupun menulis—dalam hal ini mngetik. Tetapi keinginan saya untuk segera posting entri ini terlalu membuncah dan semangat sepertinya melebihi kantuk, hingga akhirnya disinilah saya, membuka laptop dan mengetik kata demi kata.

Perjalanan kali ini merupakan perjalanan yang penting artinya bagi saya. Tidak untuk membuktikan kepada siapa-siapa. Perjalanan ini adalah proses yang saya jadikan sebuah titik awal saya kembali untuk bergerak maju. Sebuah turning point sebelum umur saya menginjak kepala 3, dan sebagai permulaan saya untuk kembali menata hidup. Dan menariknya adalah, saya sadari atau tidak, Paris menjadi kota penghibur hati saya. Saya seperti selalu kembali ke Paris setelah sakit hati yang teramat parah.

Perjalanan ini benar-benar saya lakukan sendiri. Meskipun saya nginep di tempat temen sih, tetapi saya menjelajah sendiri, berpindah antar negara sendirian. Jujur ya, kemarin pas di Parisnya, saya nggak mikir ini lo samasekali. Saking excitednya mengunjungi tempat-tempat yang menjadi obsesi ataupun keecited-an saya karena akhirnya saya berhasil solo traveling di Eropa. Ini milestone. Jelas.

Tepat hari ini, mungkin hari bersejarah bagi saya. Mungkin.

Karena sebenarnya saya juga nggak yakin. Kemuakan masih terpeta nyata di dalam hati. Tetapi diakui atau tidak, ya ini hari penting. Sehingga penting rasanya saya bagikan tulisan ini sebelum hari ini berakhir, waktu Eropa tentu saja.

Sebagai pengantar mungkin saya musti cerita soal kecintaan saya kepada lukisan-lukisan Van Gogh dan Monet yang beraliran impressionist, dan ketika saya melewatkan karya-karya mereka di kunjungan saya ke Paris tahun 2013 lalu saya semacam merasa patah hati—sedikit.

Nah, sejak itulah, salah satu obsesi saya ketika kembali ke Paris adalah, saya harus mengunjungi Musée d’Orsay tempat lukisan-lukisan tersebut berada. Lukisan Van Gogh favorit saya sebenarnya nggak ada disitu sih. Lukisan yang judulnya Starry Night bermukim di New York. Tetapi lukisan lain yang berlatar Seine di waktu malam tentunya nggak bisa saya lewatkan. Itu sebabnya saya bener-bener excited kemarin.

Berikut ini lukisan-lukisan (beberapa) yang menarik hati saya selama kunjungan di Musée d’Orsay.

Selanjutnya tentang Musée Du Louvre. Yakinlah kalian pasti tahu soal museum ini gegara Monalisa dan semua latar dari cerita the Da Vinci Code. Tetapi saya tertarik sama Louvre sama sekali bukan karena itu.

Sejujurnya saya nggak satu selera sama lukisan-lukisan koleksi Louvre. Yang menjadi daya tarik utama saya pada Louvre adalah koleksi artefak-artefak Mesopotamia dan Egyptnya. Bukan berarti saya melewatkan Monalisa begitu saja. Saya udah lihat sih doski di kunjungan saya ke Louvre yang pertama—waktu itu jelas gratis karena masih student. Tetapi, sorry to say, saya nggak terlalu terpesona. Wkwkwkwk.

Yang ada waktu itu illfeel duluan karena apa: 1. Wing Denon lantai 1 lokasi Monalisa itu pasti penuh banget, 2. Dan menuju Monalisa wing ini isinya lukisan dan patung realis—terkenal sih, macem lukisan da Vinci yang lain serta patung-patungnya Michael Angelo. Tetapi sayang nude kebanyakan, dan saya nggak terlalu nyaman dan nggak selera saya. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, saya lebih suka lukisan-lukisan impressionist or neo impressionist yang menggambarkan landscape eropa yang cantik-cantik itu.

Nah akhirnya di kunjungan ini, saya skip lah itu Monalisa, langsunglah saya ke Wing Richelieu lantai 0 dimana artefak Mesopotamia menunggu dan apa yang menanti saya sebagai pembuka? Ya, Codex Hamurabbi. Ini nih, artefak yang bikin saya merinding di tahun 2013 lalu.
Selama masa sekolah saya suka banget sama pelajaran sejarah, terutama sejarah purbakala dan sejarah-sejarah yang sifatnya ancient gitu. Dan si Codex Hamurabbi ini sebelumnya hanya bisa kulihat lewat buku sejarah dan waktu itu saya berdiri tepat dihadapannya dan memandang huruf-huruf paku itu terpahat di prasasti batu hitam.

Codex Hamurabi

Saya girang bangetlah kemarin. Kemudian ruang demi ruang saya jelajahi, sampai ke Wing Sully, lokasi artefak Mesir berada. Dan Louvre punya mumi dong. Nyahahahaha.

Dulu saya waktu kecil punya cita-cita untuk mengunjungi 7 keajaiban dunia, dan saat ini sebenarnya saya mencoba mewujudkannya satu-persatu. Termasuk mengunjungi piramida di Mesir ya. Hanya saja karena belum terlaksana, kunjungan saya ke Louvre dengan koleksi artefak Mesirnya sudah sedikit mengobati itu.

Nah kan, selama wandering sendirian di sisi Sungai Seine, menapak dari Musse d’Orsay sampai Notredame, sayamah sekalipun cyin g kepikiran. Baru kepikiran ketika saya sudah mau meninggalkan Paris, ketika saya memulai menulis postingan ini tiga hari lalu. Paris merupakan kota tempat saya mengobati sakit hati.

Orang-orang beranggapan Paris adalah kota paling romantis sedunia. Mungkin ada benarnya, karena seriusan deh, orang Paris itu romantis. Wkwkw, jago gombal dan flirting lah pokoknya. Gimana gw bisa tau? Bisa ajalah ya. Wkwkwk. Yang jelas itulah anggapan umum tentang Paris. Saya pun sebenarnya beranggapan demikian. Hanya saja, dua kali saya ke Paris, dua-duanya setelah saya mengalami break-up moment, dan yang terakhir ini katakanlah parah banget, sehingga bagi saya Paris adalah kota break-up gateaway.

Bonus: Video yang nggak sengaja kerekam pas mau ngambil foto di bawah Inversed Pyramid yang terkenal. Ciyus ini eijk nggak ngeh kalo mencet video instead of picture 😂

Baper ya? Biarin. Yang penting keren. :p

Hal menakjubkan lain dari perjalanan ini adalah, di setiap kota persinggahan saya menemukan cerita-cerita lain, dari orang-orang lain yang juga sama-sama memilukan, sama-sama punya bagian nyeseknya masing-masing. Di sini saya tersadar bahwa, everyone has their own story, really!

Hikmah yang kemudian saya petik adalah, setiap orang punya ujian sendiri-sendiri dan sekali lagi seperti apa yang sudah difirmankan, ujian yang diberikan kepada manusia tidak lain adalah yang dapat ditanggungnya. Artinya apa yang saya alami sekarang sudah digariskan tidak akan di luar kemampuan saya. Saya harus yakin itu.

Kembali lagi soal Paris, saya enggak berharap ya, nanti ketiga-kalinya saya menginjakkan kaki disini saya harus berada dalam background yang sama. Nggak saya nggak berharap begitu, tetapi Paris tetap menjadi kota spesial dalam jurnal traveling saya. Nggak pengen jumawa, tapi bisalah kalo muter-muter Paris sendirian mah sekarang. Dan kembali, di setiap tempat-tempat baru yang saya injak dan membuat saya takjub saya berdoa dalam hati:

Ya Alloh, izinkan Alvaronizam untuk menginjakkan kakinya di sini juga ya, berilah ia kesempatan untuk bisa menuntut ilmu dan memetik hikmahMu yang luas.

Aamiiin

Wassalamu ‘alaikum wr wb.

Lots of love,

atviana