Tags

, , , ,

Assalamualaikum wr wb.

Hidup ini laksana sebuah perjalanan, tidak selamanya mulus, ada kalanya lurus datar, ada kalanya naik turun berliku, terkadang melalui pemandangan indah, atau malah melewati tempat pembuangan sampah. Pakai peta penunjuk jalan pun juga suka nyasar, apalagi nggak dipandu Google Map. Yah kayak gitulah.

Hari ini, kemarin, dan sebenarnya sebulan dua bulan terakhir, drama datang bertubi-tubi. Mulai drama ecek-ecek sampe drama macem sinetron Indo***r Anakku Bukan Anakmu Karena Tertukar. Benar-benar ujian jiwa raga.

Dan yang paling nyesek adalah yang baru kejadian hari ini. Nggak perlu gamblang ya, intinya ada keluarga, dua pihak berbeda yang kami minta tolong untuk dua hal berbeda tidak berkaitan dan sama-sama sudah menyanggupi dari dua bulan lalu, tetiba satu pihak ragu-ragu ketika H-1 minggu, dan satu pihak lagi gagal menyanggupi tenggat waktu padahal udah mundur-mundurin deadline mulu—Ini kalo kerjaan profesional udah gw kirimin SP keles, dengan anceman pembayaran termin selanjutnya gw stop.

Gimana ya. Duh, yang namanya halangan dan keberatan itu sangat lumrah. Sangat lumrah dan saya sangat memaklumi hal tersebut, tetapi ya nggak juga ketika lu udah bilang oke selang seminggu sebelum pelaksanaan trus tetiba jadi ragu-ragu. Errr…

Be considerate lah. Kita sama-sama punya komplikasi hidup, termasuk saya. Dan saya sedang dalam kondisi sulit dan terjepit gini sehingga meminta bantuan. Artinya I value and treasure your kind help—Anw, gw bukan mo minjem duit. Wkwkwk… It is more urgent and more precious than that.

Apabila pihak yang dimintai tolong keberatan di awal, saya dan keluarga saya akan memaklumi dan masih punya cukup waktu untuk mencari pengganti atau opsi yang lain. Serius deh saya juga nggaak pengen banget-banget nyusahin orang banyak gini kalau bisa. Nah yang membuat saya agak emotionally drained, ini tinggal seminggu and we run out of choices. Literally. She, my great-aunt is our last resource. 😢

Semoga Alloh memudahkan, semoga Alloh memudahkan, semoga Alloh memudahkan.

Mengapa saya tuliskan dalam sebuah post khusus, karena nampaknya akhir-akhir ini saya terlalu sering menjumpai orang-orang yang kekurangan manner. Consideration nya terhadap orang lain dan lingkungan minimal. Dengan prinsip “Yang penting gw dan keluarga gw bahagia, terserah orang lain mau jungkir balik” sangat dijunjung tinggi.

Naudzubillahiminzalik

Contoh lain lagi ya, kemarin kami sekeluarga pergi memenuhi undangan sanak saudara lain yang lumayan jauh. Duduk bersisian di ruang tamu. Kemudian ada tamu lain yang baru tiba duduk di samping Ayahku yang lagi mangku Apalo, eh doski dong cuss mau merokok. Eh, g waras, manner nya g ada. Duduk sebelahan bayi dalam ruangan tapi mau merokok. 😑 Langsung aja Apalo gw gendong bawa ke luar.

Tetapi sebaliknya, setahun terakhir pun saya terus-terusan berjumpa dan dikelilingi oleh orang-orang super duper pengertian dan berempati. Yang selalu dan langsung sigap mengulurkan bantuan dan pertolongan, atau bahkan hanya sebagai tempat sampah saya berkeluh-kesah. Orang-orang yang random banget yang mau mendengarkan saya bercerita.

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri. QS 17:7

Inilah prinsip yang saya pegang, be considerate to others and others will be considerate to you. Ketika kita memudahkan urusan orang lain, kita sama saja dengan memudahkan urusan kita sendiri. Sejalan dengan segala perbuatan kita akan kembali kepada kita meskipun tidak dari arah yang sama. Hal terakhir inipun saya musti harus banyak belajar, karena jujur, ini tidak pernah mudah.

Ketika kita mendapat perlakuan dzolim, kita tidak perlu membalas dengan kedzoliman pula. Karena kedzoliman yang kita lakukan akan kembali kepada kita pada suatu hari. Lo gak akan mudah ngomong kayak gini cyin ketika lo ada dalam kondisi tersebut, percaya deh, ini tuh pelajaran yaaang susah namun insyaAlloh akan dimudahkan seiring berjalannya waktu. Aamiinn.

Hendaknyalah kita memudahkan urusan terhadap orang lain menunaikan kewajiban, dan berbuat kebaikan. Termasuk di sini menunaikan janji, utang dan amanah—karena melalaikan hal-hal tersebut termasuk perilaku dzolim.

Saya juga pengen sharing satu hal yang menggugah saya secara personal. Sebenarnya kesadaran ini sudah mulai muncul beberapa minggu sebelumnya, ketika saya membaca sebuah postingan blog secara random di hari Jumat tentang bersabar yang baik terhadap sebuah ujian. Karena Subhanallah, ini bukan perkara gampang. Seriusan!

Nah kemudian qodarullah berlanjut temanya pada Hari Minggu lalu ketika kajian Ahad Pagi, ustadz nya menyinggung soal tawaqal dan ujian. Pesan beliau, kita jangan sekali-kali bertawaqal terhadap ikhtiar. Bertawaqal hanyalah kepada Alloh.

Plaaak.

Tertamparlah saya. Astagfirullahaladzim. Saya masih sering begitu, melakukan hal yang dilarang. Lebih condong kepada usaha, dibanding bertawaqal dan berserah kepada Alloh. Lagi-lagi musti banyak belajar.

Kata sang Bapak Ustadz lagi, kondisi manusia itu seyogyanya adalah kondisi terbaik sebagai media penghambaan kepada Alloh. Ada orang-orang yang ketaqwaannya meningkat ketika banyak ujian namun ada pula yang sebaliknya.

Ya Alloh, gw langsung berkaca dong. Apa drama-drama kayak ginilah yang bikin gw selalu mengemis-ngemis belas kasihan sama Alloh, makanya gw sering ditempatkan pada kondisi demikian.Seketika gw nahan-nahan air mata pas kajian. Hampir mberebes mili. Nulis ini aja juga agak-agak panas di mata dan hidung.

Gak perlulah saya menarik garis carut marut menghubungkan masalah sebab akibat ini dengan manusia X manusia Y. Sudah males rasanya, saya serahkan itu kepada Alloh. Itu semua menjadi urusanNya. Kembali kepada QS Al Isra: 7 tadi, semua perbuatan akan kembali kepada empunya masing-masing, dan tidak ada satupun yang terjadi di dunia ini meski daun jatuh tanpa seizinNya (QS 6:59). Jadi tawaqal ini hanya kepadaNya.

Di tengah saya menulis ini, saya kemudian ingat nasehat Ayah saya hampir setahun lalu ketika rasanya hati ini tercerabut dari raga:

bertawaqal kepada Alloh, tugasmu hanya bertawaqal kepada Alloh

Fix gw udah mbrebes mili.

Allohumagfirli waliwalidayya warkhamhuma kama rabbayani saghiraa.

Wassalam.
atviana