Tags

, , , , ,

Assalamualaikum wr wb. 

Hello my dear good readers.

How’s your sunday? Full with house chores? Nyahahaha. Samalah yaa mak mak.

Saya dan keluarga besar baru saja mengikuti jalan santai menjelang peringatan 17an, keliling kampuang. Lumayan sih, bikin keringetan. Saya bukan termasuk orang yang suka olahraga, tapi saya suka jalan kaki, so acara ini worth our time banget.

Ketika sedang santai istirahat, saya kemudian terinspirasi untuk menulis postingan ini. Karena baru saja saya melihat unggahan temen tentang hasil karya anaknya dan emang keren banget dan secara otomatis saya langsung memuji. Memuji ke emak nya sih.

Well, ini sudah menjadi kebiasaan saya beberapa tahun belakang. Memberikan pujian, rewards dan beragam kalimat positif kepada ponakan, adik, teman-teman dan sekarang termasuk kepada anak sendiri. Gimana yaa, berkat hasil banyak baca-baca blog ibuk-ibuk dan akun parenting, kalimat positif itu efeknya keren banget untuk meng-encourage anak-anak atau bahkan para orang dewasa supaya maju ke arah yang lebih baik.

Sebenarnya usaha ini sedikit banyak bermula dari pengalaman pribadi. Bukannya saya sering di encourage zaman dulu. Sebaliknya, saya lebih sering—sepertinya, karena lupa-lupa inget—mendapat kritikan dibanding positive encouragement. Meskipun orang tua saya, selalu positively encouraging, tetapi lingkungan tidak sepenuhnya demikian dan itu NGGAK ENAK obviously.

Saya jadi merasa potensi pribadi saya nggak secara maksimal tergali. Ya udah lah ya, udah terlanjur gede. Sekarang pun kalo mau digali lagi masih bisa sih. Cuma kebanyakan malesnya. Hahaha. Dari kapan coba pengen belajar skill baru tapi nggak jadi-jadi: bikin komik (sampai udah nyari-nyari Pad gambar, untung belom dibeli, kan lumayan cyin), handlettering and water painting (punya banyak kuas ngganggur tinggal beli water paint baru) daaan segudang rencana-rencana crafting lain. 😝

Intinya sebenarnya bukan itu. Wkwk. Intinya adalah sebagai orang yang relatively sudah lebih dewasa *eyaaak, penting rasanya untuk meng-encourage anak muda kekinian supaya mampu meningkatkan berbagai potensi positif—apasih bahasa Indonesianya meng-encourage?? *beneran nanya. Meskipun mungkin potensi-potensi tersebut belum terlihat signifikan di masa sekarang,  karena zaman terus berubah dan berkembang. Sama halnya kayak gw juga gak taulah nanti jaman Apalo gede kayak apa yang kekinian dan in.

Apalagi, dengan maraknya trashy content yang berseliweran di dunia maya atau pun nyata saat ini, yang OMG didukung atau kerennya diendorse orang-orang yang relatively terkenal yang punya banyak pengikut—ini juga terinspirasi oleh tulisan Mba Puti soal content, iklan dan influncer yang sumpah gw setuju banget.

Contohnya apatuh, sinetron Orang Ketiga, gw kaget dan sempet shock pas tau ada sinetron dengan tema begituan di TV, bukan cuma sekedar gosip-gosip akun Instagram. Taunya pun termasuk telat karena udah episode 100an gitu.

Dan kemudian pikiran yang terbersit otomatis dalam benak gw adalah: Apaan jadi Pelakor dan pelaku Selingkuh bangga gitu? OMG otak ditaroh mana??—mungkin ketinggalan di WC trus ke-flushed.

Terus bangga dipamer-pamerin seakan butuh validasi dan pengakuan. Eh situ sehat Mbak? Sakit jiwa yang jelas.

Nggak aneh lah semakin banyak aja orang-orang yang mencontoh perilaku kayak gitu dan nggak punya malu. Norma dan nilai jelas-jelas mulai bergeser. Well, dosa memang ditanggung masing-masing sih, cuma kalau masyarakat kebanyakan sudah menganggap normal hal ini, mau jadi apa generasi anak-anak kita kelak. Kita juga akan ikut dimintai pertanggungjawaban jikalau kita sendiri malas untuk inisiasi perubahan meski kecil. *cailah bahasa gw 😂

Lanjut ya, encouraging youngsters means kita juga turut memupuk tunas-tunas kecil yang sedang bertumbuh. Mungkin dengan pujian kecil kita dibuatin jus sama ponakan, gedenya doski termotivasi bikin usaha kuliner sehat, atau ketika adek lo udah mulai jago makeup dan konten IG nya bagus, sapatau nanti laku jadi positive and healthy content creator, biar teredukasi dikitlah masyarakat kita. Who knows Genk!

Ini juga terjadi sama Apalo, doski paling seneng nonton orang masak dan ikut bersih-bersih. Sampai-sampai Kung nya bela-belain beli sapu kecil khususon buat dia. Ibuk berdoa dalam hati, semoga rajin sampe gede lah ya deek, bantuin beres-beres rumah ammiin amiin...

Meski sebenernya lebih banyak bikin recoknya dibanding bantuinnya saat ini, tetapi kalimat positif tentunya akan berdampak lebih membangun dan Insyaalloh menjadi investasi di masa depan. Aaamiin Allohuma Aammiinn…

What do you think?

Wassalamu alaikum wr wb.
Have a wonderful Sunday ya everyone!

atviana

Advertisements