Tags

Andai saja kesabaran Ibu seluas angkasa raya.
Namun ternyata tidak.


Maafkan Ibu yang tidak pandai bersabar, tidak paham apa maumu.

Ibu selalu menggenggam amarah. Yang selalu hampir-hampir merembes, mencari jalan keluar, ketika kesabaran Ibu kau uji. Ketika berjam-jam kau meraung-raung menangis entah karena apa, entah maunya apa. Ketika setiap bulan kau ajak Ibu sambangi dokter favoritmu, tetapi ketika kau akan diperiksa tetap menangis meronta-ronta.

Yang selalu harus lebih sabar dan mengerti adalah Ibu sebagai orang tua.

Hanya saja, semua rasa marah yang menggelegak dari relung hati kemudian mulai menetes deras keluar, mengingat seluruh tanggung jawab yang dibebankan–Ditinggalkan. Sendirian. Berdarah-darah.

Bukan mengenai ketidaksanggupan, kemarahan ini mengakar dari seluruh ketidakadilan–kedzoliman yang nyata. Bahwa terlalu banyak yang take us for granted.

Ibu belum mampu melapangkan dada.
Ibu masih terus mencengkeram amarah.
Ibu belum cukup mampu bersabar.
Ibu masih jauh dan kurang akan ilmu.

Maafkan Ibu, putraku.

Kita mulai lagi esok hari ya, dengan stok kesabaran yang jauh lebih banyak. Ingatkan Ibu untuk bisa menjadi teladan, membimbing kau putraku kepada Jalan yang Lurus.

Semoga Alloh meridhoi, semoga Alloh meridhoi, semoga Alloh meridhoi…

and now, when you are sleeping peacefully after that such drama, I am picturing your beautiful smile and your non stop babling with tears running down my ugly swelling face. We will pass this thru, we will pass this thru my love.