Tags

, , , ,

Sedang hujan di luar.

Waktu sudah menujukkan pukul 6, tapi Jakarta masih hujan. Ya udah, ngendon di kantor dulu. Entah mengapa, rasa-rasanya akhir-akhir ini saya merasa melemah jika hujan turun. #eyak. I just somehow feel unwell. Seperti saat ini, semacam nggliyeng-nggliyeng nggak jelas.

Anyway, I think it is time for me to blog something. I want to share my last month’s Korea trip but I have no outline yet.

Biasanya ketika saya membuat Traveling Talk Post untuk trip yang lumayan panjang, akan saya bagi dalam beberapa part dan sampai detik ini saya belum punya outline apa-apa. Ya sudah, lain kali sajalah ya.

Sejujurnya saya nggak terlalu pede sama cerita travel kemarin itu. Apa sebabnya? Saya penganut ideologi random. Apa itu ideologi random?

Begini ceritanya.

Mungkin di awal masa persiapan sebuah rencana perjalanan, segala macam hal—katakanlah salah satunya adalah itinerary—sudah saya buat. Tapi yang kemaren pun nyontek punya si Fani si, dengan adjustment disana-sini. Too many things to do sepanjang September, baca aja ini.

List tujuan wisata sudah ada ditangan, alamat sudah dicari dan sebagainya. Hanya saja pada kenyataannya saya keseringan nggak 100% mengikuti jadwal yang sudah ada.

Banyak sih alasannya. Misal, dengan keterangan bahwasannya saya terlalu ringkih untuk dikatakan sebagai backpacker—saya hanyalah seorang budget traveler—sehingga gampang capean. Dan kebanyakan tujuan wisata di luar negeri itu melibatkan banyak acara jalan kaki. So until one point I will just get too tired to go anywhere. Ya udah banyak istirahatnya deh. Di mana konsekuensinya adalah merevisi jadwal, merubah tujuan atau malah batal jalan-jalan sekalian.

Randomnya juga terletak pada kesukaan saya jalan-jalan tanpa arah yang hanya mengandalkan insting: yuk belok sini, yuk belok situ, dan yuk yuk yuk yang lain. Untungnya si saya melek peta. I’m a GIS person anyway. Hanya saja keterbatasan pengetahuan soal wilayah akan mengantarkan kepada alasan ketiga pada paragaf berikut. Ke-random-an saya juga termasuk random nyoba-nyoba makanan, random masuk restoran sampai random ngeliatin keranjang diskonan. Dan akhirnya adalah tidak semua attractions yang ada dalam daftar diceklis. Yet it was still super fun.

Alasan yang nggak kalah penting nya juga, ideologi random ini erat kaitannya dengan kesasar. Hahahaha…

Berhubung saya hobi random belok, sering tidak sampai pada tujuan yang diinginkan. Salah satu pengalaman paling memorable adalah pas nyari Mesjid raya di Milan. Gosh, it really was something. Nggak ketemu tapi beneran menyenangkan—capek sih.

Bertemu beragam macam orang dengan beragam instruksi arahnya, berbahasa tubuh dimana-mana karena kami nggak bisa bahasa Itali, dan para penduduk lokal nggak bisa bahasa Inggris, gendong-gendong ransel dan semua hal “menyenangkan” lain.

Pengalaman teranyar adalah dalam trip ke Korea kemarin nggak ketemu si Haneul Park tempat silver grass khas autumn. Akhirnya Cuma muter-muter World Cup Stadium doang. Tetapi salah satu pencapaian saya adalah mengunjungi Guri Park yang terletak di luar kota Seoul, yang mana berada persis di pinggir Hangang River, GRATIS, dan banyak padang bunganya. Tapi ada nggak enaknya sih dan juga terjadi sebuah adegan lucu. Pelajarannya adalah banyak-banyak cari info. Ceritanya menyusul aja yak. Ahahhaa…

Cosmos bloomings in Guri Hangang Park. #atvianatravelingtalk #seoulfoliagetrip

A post shared by Fitrie Atviana Nurritasari (@fitrieatviana) on

Check my other posted pictures on my IG feeds.

Satu kekecewaan besar saya atas trip kemarin. Tujuan utama kedua adalah trip mencari dedaunan khas autumn tetapi apalah mau dikata karena pergeseran iklim yang sifatnya global, ternyata awal Oktober belum masuk musim gugur. Pagi ketika akan mendarat di Incheon, saya udah agak misuh-misuh. Gimana nggak, pas ngeliat bawah dari dalam pesawat, coverage masih hijau royo-royo semua. Hiks. Saya emang belum jodoh sama daun maple yang memerah juga dedaunan ginkgo yang menguning.

Ya sudah. Lain waktulah ya.

Daaaaaan akhirnya, output paling mahal dari trip kemarin adalah, saya sukses sekali meracuni suami saya soal jalan-jalan. Dia sekarang kerjaannya ngumpulin objek wisata di Eropa. GOSH, EROPA! Mahal kan? Tapi mimpi adalah doa, jadi saya iya-iyain aja. Fufufu!

Eits, itu bukan output termahal yang ternyata kami terima. Output paling mahal—malah mungkin lebih ke priceless—adalah, I’m positive 6 weeks pregnant. *OMG*

Okay, see you very soon in probably that Korean trip post I hope tapi nggak janji. Ini kerjaan lagi sesuatu banget, with upcoming workshops and office retreat—yang terakhir mah undangan jalan-jalan. Hahahaha…

with love,
wassalam,

atviana

Advertisements