Tags

, , , , , ,

Assalamu ‘alaikum readers yang baik hatinya.

Apa kabar? Semoga sehat-sehat ya.
Saya? Tentu saja baik, Alhamdulillah.

Pagi ini saya tiba di kantor yang hampir katakanlah kosong. Sebagian besar staff unit di mana saya bernaung sedang keluar kota untuk menyelenggarakan sebuah meeting regional yang cukup besar. Dan keinginan saya untuk blogging rasanya mendesak sekali, saking sepinya. Mulailah saya mengais-ngais tiap folder yang judulnya “blog draft” yang ada di hampir setiap drive—portable atau tidak—yang saya miliki. Mulai dari laptop kantor, laptop pribadi, usb stick, HD external yang jumlahnya lebih dari 3, hampir semua ada folder serupa. Sehingga besar keyakinan saya bahwa di salah satunya akan ada minimal satu draft belum matang yang bisa saya kembangkan.

Hal ini sering terjadi, karena saya memiliki kebiasaan memunculkan ide tulisan secara mendadak. Selanjutnya ketika sebuah ide muncul, saya buatkan file MS Word khusus untuk tiap ide. Hanya saja masalah besarnya adalah, seringkali keinginan untuk menulis menghilang sama mendadaknya ketika ide-ide itu muncul. Padahal selesai saja belum. Akibatnya saya jadi punya banyak unfinished draft stored and scattered everywhere.

Pagi ini saya ngublek-ngublek folder-folder tersebut dan menemukan sebuah file dengan judul asli: pandai bersyukur, bagaimana. Saya buka file tersebut dengan penasaran karena jujur saja saya lupa apa isinya. Kemudian menjadi semacam terkesima terhadap satu-satunya paragraf yang ada di situ. Begini bunyinya:

Beberapa hari terakhir ini, facebook—dan teman-teman dekat saya semacam memberikan inspirasi dan pelajaran-pelajaran mengenai hidup. Soal bagaimana seharusnya kita untuk pandai bersyukur atau soal memperbaiki diri. Konteksnya adalah terkadang saya merasa tidak puas pada pencapaian saya, selalu menganggap bahwa—boleh dikatakan—rumput tetangga itu selalu lebih hijau. Fitrah manusia sebenarnya, namun sebagai individu yang beragama, pendekatan ini tidak sehat adanya dan cenderung akan menyakiti diri sendiri. Beberapa hari lalu, teman saya kembali mengingatkan, kuncinya sangat-sangat sederhana: pandai-pandai bersyukur. Itu saja.

Well, itu dia… Hehehehe…

Well, it is kind a thing. Jujur. Kontemplasi yang sering saya lakukan tidak jauh-jauh dari betapa saya kurang bersyukur terhadap apa yang telah ada. Sedangkan telah jelas-jelas tertera pada kitab suci bahwasannya Alloh akan menambah nikmat apabila kita bersyukur dan ketika kita mengingkari nikmat, niscaya azab Alloh itu teramat pedih (QS 14:7). Dan ketika kita bersyukur, itu artinya kita bersyukur semata-mata untuk diri kita sendiri (QS 31:12).

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS 14:7).

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS 31:12).

Mungkin apaya, sudah menjadi takdir bahwasannya pagi ini saya menemukan draft ini kembali sebagai pengingat dan pembelajaran pribadi: saya harus menggalakkan bersyukur.

Atas apa saja.

Atas nikmat-nikmat kecil yang sesekali kita lewatkan. Nikmat tidur dan mimpi yang lelap, nikmat sampai ke kantor dengan selamat, bahkan nikmat secangkir—atau lebih tepatnya satu jar penuh—teh hangat pagi ini.

Kalau kita mau berkaca kepada sekeliling, sesungguhnya semua hal adalah nikmat. Hanya saja sebagai makhluk lalai, kita terlalu sering lalai untuk mengingatnya. Dan bersyukur.

Women holds a cup of hot tea with anise star. Cozy morning at home.

Morning Tea via merakilane

 

Hooh…
Ayuk kita mulai lagi lah ya. Bersyukur dimulai dari hal-hal paling kecil, kemudian hal-hal besar sehingga keberkahan selalu tercurah pada apa yang kita usahakan.

 

Have a very good daaaay everyone!!!
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

With lots of love,
atviana

Advertisements