Tags

, , , , , ,

Hallo!!

Sekitar akhir November tahun kemarin dalam rangkaian kunjungan saya ke Sanya, China, Saya sempat mengunjungi sebuah area konservasi budaya suku pribumi di Pulau Hainan. Nama area konservasinya adalah Li and Miao Minority People Village. Jelas lah ya dari judul tempatnya. Hahahaha…

Area konservasi ini, selain melestarikan Suku-Suku pribumi Pulau Hainan yang sebenarnya terdiri dari beberapa suku, namun yang utama adalah orang-orang Li dan Miao—juga merupakan atraksi wisata. Pengunjung disuguhi beragam sajian, mulai dari museum-museum yang berisikan aneka rupa keragaman budaya, praktik keseharian orang-orang Li dan Miao yang berbeda jauh dari kebiasaan orang-orang Tiongkok daratan, suguhan drama dan tari-tarian, hewan hingga budaya debus yang ternyata ada.

Pertunjukan Musikal tari dan drama yang menggambarkan kehidupan mereka sehari-hari

Pertunjukan Musikal tari dan drama yang menggambarkan kehidupan mereka sehari-hari

atraksi debus ala-ala orang Hainan

atraksi debus ala-ala orang Hainan

Pengalaman ini sebenarnya sangat menggelitik karena saya serta merta teringat dengan kebudayaan dan praktik keseharian suku-suku pedalaman/pribumi di Indonesia, terutama Suku Dayak. Baru memasuki gerbangnya saja, saya disambut oleh ukiran/pahatan/sculpture yang tidak jauh berbeda dengan yang dimiliki oleh Suku Dayak. Hoooh…

Woman and Her Cloths Making Process

Woman and Her Cloths Making Process

salah satu tarian-permainan yang juga dimainkan oleh orang Indonesia

salah satu tarian/permainan yang juga dimainkan oleh orang Indonesia

Mohon maaf sebelumnya yang saya utarakan disini bukan berdasarkan pengalaman saya sebagai ahli, namun sebagai orang awam yang secara mencolok menemukan beragam kesamaan-kesamaan tidak identik.

Mari kita lihat bagaimana Orang-orang Li dan Miao berbusana dan berhias seperti gambar berikut, teringat sesuatu?

the girls in their traditional cloths

girls in their traditional clothes

Kemudian masuk lebih jauh menelusuri museum-museum kain tenun, sulam dan kerajinan perak. Saya kembali menemukan kesamaan-kesamaan pola dan susunan bentuk, juga warna-warna pilihan.

Pattern

Fabric Pattern

handmade colorful bracelets

handmade colorful bracelets

Begitu pula dengan usaha bercocok tanam, memelihara ternak, mengumpulkan makanan, saya semacam melihat cerminan suku pribumi Indonesia di sana.

menenun dan menari

menenun dan menari

Dibalut dalam sebuah taman konservasi yang memiliki trek-trek menarik baik untuk dilalui dengan berjalan kaki maupun menumpang kereta-kereta wisata, tempat ini benar-benar men-display kehidupan kaum minoritas tersebut. Ironis sih sebenarnya. Pendapat saya terbagi menjadi dua dalam hal ini. Positifnya, masyarakat asli memiliki tambahan penghasilan ditengah maju nya perkembangan jaman, yang rasa-rasanya kehidupan mereka mungkin tidak lagi se-relevan dulu. Yang mana mereka tidak secepat itu mengikuti perkembangan peradaban. Negatifnya adalah well, yang didisplay ini individual dan komunitas nyata lo. I think they have their own life. They have their own purpose. Dengan menyajikan kehidupan mereka sebagai bahan konsumsi publik, kiranya mereka mungkin akan mulai kehilangan esensi. Tapi itu pikiran pribadi saya sih. Hahaha…

Ambil contohnya saja Suku Badui yang terpisahkan antara Suku Badui Dalam dan Suku Badui Luar. Well, saya nggak bisa banyak bahas ini sih, soalnya saya kurang paham. Intinya, setiap kebijakan laksana pedang bermata dua, dan sekarang pintar-pintarnya individual atau komunitas menggunakan pedangnya. Nebas buah kelapa atau nebas ayam tetangga.

Kesimpulan lain yang saya pahami setelah kunjungan singkat—dan sepertinya agak terburu-buru itu—bahwa saya semacam membuktikan kepada diri sendiri bahwa pelajaran jaman sekolah yang saya terima itu benar adanya. Bahwa teori masyarakat asli Indonesia berasal dari daratan China selatan, mungkin benar adanya. Perasaan yang sama saat saya mengunjungi Musee de Louvre Paris dan melihat, dua piramida kembar dari film the Davinci Code, atau melihat Codex Hamurabi yang benar-benar bertuliskan huruf paku.

Mengacungkan jempol bagi mereka adalah sebuah salam

Mengacungkan jempol bagi mereka adalah sebuah salam

Ini lah yang membuat saya menyukai traveling—meskipun kalau boleh dibilang saya bukan tipe backpacker yang sukanya ngeluh kalau kebanyakan jalan—pengalaman mengunjungi tempat baru, merasakan atmosfer baru menjadikan kita semakin kaya.

Saya kemudian teringat janji masa kecil saya dulu. I really want to visit the all seven wonders. Hahahaha… semoga ya bisa terlaksana.

 

Cheers

atviana

Advertisements