Tags

, , , , , , ,

My IG post on my first day of work

Apa benar tidak ada waktu untuk menulis?

Tetiba pertanyaan ini muncul di benak ketika melihat tab blog yang terbuka pada aplikasi browsing favorit—yang selalu muncul otomatis saat saya membuka aplikasi tersebut. Kemudian dari sisi lain benak saya, ada suara yang menampik, “ah nggak juga kok!”

Hanya saja rasa-rasanya musykil karena tulisan ini saya buat di sela-sela penantian email approval untuk next step beberapa item dalam list to do saya minggu ini. Well, Boss lagi otw ke bandara, semoga sempet lah ya baca email supaya bisa lanjut ini kerjaan.

Artinya, saya benar-benar mencuri-curi waktu untuk menulis atau mengetik ini. Saya menyadari fakta ketidak-sempatan-saya-untuk-menulis, semenjak bulan Oktober-November tahun lalu, ketika saya sama sekali tidak memiliki postingan apapun di blog. Padahal sepertinya saat-saat itu saya kemana-mana dan banyak melakukan apa-apa—artinya saya punya banyak bahan untuk ditulis.

Alasan paling utama yang dikemukakan adalah banyaknya pekerjaan. Namun mungkin saya sepertinya lupa, tujuan utama blog ini dibuat adalah untuk tetap menjaga ke-istiqomah-an proses menulis, apapun itu isinya—yang kebanyakan cuma curcol. Maaf lah ya. Hahahaa…

Jadi sekarang pertanyaannya adalah: apa benar tidak ada waktu untuk—sekedar—menulis?

Agak antitesis sih jawabannya. Dibilang tidak punya waktu, rasa-rasanya salah. Karena sejatinya saya digaji karena salah satu pekerjaan saya adalah menulis. Namun blog ini terlihat banyak sarang laba-labanya, menggambarkan saya tidak punya waktu untuk menulis.

Mungkin bukan tidak ada waktu untuk menulis, tetapi lebih kepada tidak ada waktu menulis untuk tujuan rekreatif—piknik dengan menulis.

salah satu pekerjaan yang—sampai di bawa kerumah—ya, menulis

salah satu pekerjaan yang—sampai di bawa kerumah—ya, menulis

Semoga istiqomahnya tetap bisa terjaga lah ya.
Wassalamu ‘alaikum.

atviana

Advertisements