Tags

, , , , , , , , , , , , ,

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Hello para reader sekalian? Apa kabarnya?

Mumpung karena hari ini belum ada kerjaan yang berarti saya mau update kabar dulu. Hahaha…

Tiga minggu terakhir ini rasa-rasanya kegiatan day to day padat sekali. Mulai dari jadwal training dan workshop, pindahan kosan, berita terbaru dari teman-teman lama, menjadi panelis diskusi untuk pertama kalinya, jalan-jalan ke Taman Bunga Nusantara (lagi) dan mencoba belajar berteman.

Dimulai dari sekitar tiga minggu lalu, Acik dan saya memutuskan—secara mendadak—bahwa kita akan mengadakan sebuah weekend gateway ke taman. Pilihannya tentunya terbatas: Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibodas atau Taman Bunga Nusantara. Dan kami memilih yang terakhir. Apa yang paling menarik? Adalah bahwa kami hanya menggunakan angkutan umum pulang-pergi ke daerah Mariwati Cipanas, Cianjur tersebut. Such a very new experience for me. Itu kali kedua kami kesana. Kali pertama kunjungan saya sekitar awal tahun 2010 bersama Iyut, Kak Mel, Sigit, Joko dan salah seorang temannya sedangkan kali pertama kunjungan Acik bersama Anis sekitar dua tahun lalu.

flower

Keberuntungan dan nasib baik merindangi hari itu. Cuaca sejuk segar, langit biru cerah agak berawan tanpa hujan. Suhu yang cukup sejuk dan waktu tiba kami—yang boleh dibilang kepagian—membuat suasana menjadi menyenangkan. Karena kami bisa benar-benar menikmati taman tanpa kehadiran banyak pengunjung lain, dan bunga-bunga di sana sedang dalam kondisi prima. *smile ear to ear*

Katakan Peta, Peta, Peta!

A post shared by Fitrie Atviana Nurritasari (@fitrieatviana) on

 

trees

Dilanjutkan di minggu berikutnya dengan sesi pindahan Acik yang mendadak ke Jogja kemudian farewell party yang juga dadakan dan menandai batalnya rencana perjalanan ke Bandung yang dijadwalkan awal bulan September ini. Sepanjang Agustus-September ini saya banyak ditinggalkan oleh teman-teman yang kemudian mengejar mimpi masing-masing di tempat yang baru. Agak sedih si sebenarnya, namun tentunya ini adalah fase hidup yang dilalui oleh hampir semua orang. Ditinggalkan.

Kemudian di minggu berikutnya adalah diselenggarakannya sebuah Workshop pengelolaan Situ di Jabodetabek dan saya diminta dan ditunjuk si Bos untuk mewakili beliau menjadi pembicara selain jadwal pindahan kosan. Fiuh! Ini yang menarik. Ini adalah kali paling pertama saya. Belum pernah saya berdiri dalam sebuah forum dan menjadi seorang pembicara slash panelis. Well, I nailed it! Alhamdulillah.

 

Berhubungan dengan soal pindahan kosan, saya sebenarnya ingin sharing kamar baru saya, cuma belom ada rapi-rapinya sejak pindahan kemaren—saksi hidup: Anis yang sudah berkunjung, tanyain aja seberapa berantakannya kamar saya. Project untuk dekorasi pun belum dimulai, bahkan belum juga direncanakan. Tapi pindah kosan ini merupkan sebuah kenaikan kelas. Lebih luas, lebih lega, lebih nyaman dan lebih banyak sinyal serta sinar matahari, Yeaaay!! Yang pernah mengunjungi kosan lama saya pasti mengerti. Hanya saja tersisa satu masalah krusial si sebenarnya. Kosan baru letaknya agak-agak lebih jauh dari kosan lama, sehingga sehari-harinya jadi lebih manja. Pakai ojek mulu—juga didukung oleh promo rate Grab Bike!! Fufufufu…

Sepanjang minggu berikutnya, Bos saya memutuskan meletakkan jadwal workshop dan training course penuh dalam satu minggu. Sebenarnya sih oke-oke saja, semua temanya menarik. Mulai dari diskusi para peneliti Asia Pacific tentang hydro hazard modeling, hingga unit private training tentang dynamic system modeling. Mulai dari konferensi alumni sebuah Exchange ke Amerika hingga Fire Drill kantor di akhir minggu yang tiba-tiba. Hanya saja after effect ditiapharinya adalah kelelahan sesampai di kosan paling tidak pada pukul 7 malam. Dan pilihan beberes kamar tentunya menjadi sangat tidak menarik dimana berbaring di kasur menjadi pilihan yang lain.

training

Akhir minggu lalu saya juga membeli sebuah buku dengan sebuah pendekatan “iseng-iseng berhadiah” saat membeli. Hanya berbekal sinopsis di sampul belakang saya membeli buku dengan judul The Girl Who Saved the King of Sweden. Metode ini sering saya gunakan dan sering juga membuat saya kecewa namun tidak berlaku untuk buku ini. Benar-benar masuk daftar klasifikasi yang saya rekomendasikan untuk dibaca dan dinikmati.

the girl who shaved the king of Sweden

the girl who shaved the king of Sweden

Jujur, tokoh dan ceritanya membuat saya sebal bukan main. Masalah yang bisa diselesaikan oleh suatu kesempatan yang secara ajaib ataupun direncanakan muncul namun kemudian harus gagal berantakan begitu saja karena keidiotan tokoh lain. Dan hal tersebut terus berulang selama 20 tahun dengan cara yang berbeda-beda di Swedia. Belum lagi 25 tahun penceritaan terdahulu yang berlatar di Soweto dan Pindaba yang tidak kalah bikin sebal sekaligus sangat menggelitik. Pokoknya buku ini memuat hal-hal menarik dari sejarah, humor, kepentingan politik semasa dan pasca perang dunia kedua, hingga kepiawaian penulis dalam mempertemukan tokoh-tokoh multi-ras dalam sebuah alur cerita menarik, tentang Nombeko yang jenius untuk menyelamatkan dunia—atau raja Swedia paling tidak. Ha!! #thegirlwhosavedthekingofsweden :D

Mungkin sudah saatnya saya beli buku bagus—lagi.
Apa ceritamu?

See you till the next post.
Wassalam.

cheers
atviana

Advertisements