Tags

, , , , ,

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Selamat hari raya Idul Fitri 1436 H, Taqobalallahu minna wa minkum, syiamana wa syiamakum… EID Mubaraaaak!!!

Apa kabarnya reader sekalian di Bulan Syawal ini? Dua belas hari terakhir saya habiskan di Pati, Jawa Tengah untuk berlibur, berlebaran besama keluarga. Semacam culture shock sih—yang mana sudah dirasakan sejak 8 tahun terakhir setiap berlebaran di Pati—suasananya nggak seramai kalau berlebaran di Jayapura. Hehehe…

Momentum lebaran, untuk orang khususnya di daerah Jawa itu identik dengan acara kumpul keluarga, kemudian dilanjutkan dengan piknik. Well, berkebalikan dengan berlebaran di daerah rantau. Karena jauh dari keluarga besar, berlebaran di Jayapura itu artinya merayakan Hari Raya bersama tetangga, kolega, teman yang mana jumlahnya banyak banget. Apalagi Bapak dan Ibu saya sudah semacam di-tua-kan di kompleks dan di komunitas, kunjungan tamunya nggak berhenti. Hehehe—disitulah seni dan ramainya.

Bersama keluarga

Bersama keluarga

Momentum Hari Raya tahun ini juga sedikit berbeda dari biasanya meskipun saya tidak melewatkannya di Jayapura, timeline media sosial isinya soal serba-serbi Lebaran di Papua. Bukannya cerita indah-indah, tapi cerita-cerita nggak enak serba isu sara dan kriminalitas. Yang mana parahnya, kebanyakan yang membagikan cerita dan berita tersebut, tau soal Papua aja nggak, pernah tinggal apalagi. Nope! Trus sok-sok an dan gegaya-gayaan share berita yang nada-nadanya menghasut.

Sedikit dibahas, ini bermula soal adanya kabar pembakaran masjid/mushola di Tolikara. Pada tanggal 17 Juli itu, saya juga dapet broadcast message mengenai hal itu, tapi ya nggak semerta-merta share ke publik, tanpa klarifikasi. Nah habis itu eh banyak banget yang berbagi berita yang sama, tanpa meihat pangkal masalah yang penting SARA dan eksis. Err…

Untuk disimak, selama saya tinggal di Papua, permasalahan toleransi keberagaamaan itu rasanya apa ya, semacam sudah menjadi dasar kami untuk hidup dan bersosialisasi dalam kultur yang heterogen, baik suku, budaya, maupun agama. Jadi rasanya sangat miris/getir kalau tindakan kriminal yang beritanya marak dibagi-bagikan tersebut berpangkal dari urusan ketidak-toleranan agama. Rasanya non sense, lebih masuk akal kalau tindakan kriminal tersebut dilatarbelakangi isu politik yang mlipir-mlipirnya ke masalah separasi—yang memang rada-rada stabil nggak stabil. Sekali lagi jangan dilupakan Papua itu kaya barang tambang, so bisa ditelisik sendirilah ya—ini bukan teori konspirasi, tapi nyata-nyatanya dunia ini yang penuh konspirasi.

 

Wallahu ‘alam bishowab.

Wassalamu ‘alaikum, wr. wb.

di sawah

Cheers
atviana

ps: Penulis lahir di Pati Jawa Tengah, namun besar dan tinggal di Jayapura hingga lulus SMA N 1 Jayapura, kemudian bermukim berpindah-pindah selama 8 tahun terakhir. Saat ini berdiam di Jakarta, namun masih regularly mengunjungi Jayapura hingga Juni kemarin Orang Tua penulis memutuskan untuk pindah ke Pati, ceritanya ada di sini. Mungkin nanti akan kembali. Doakan saja.

Advertisements