Tags

, , , , , , , , , ,

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Hari minggu lalu, 14 Juni 2015, Gramedia Pustaka Utama mengadakan launching novel yang ditulis oleh Bapak Sapardi Djoko Damono. Kabar ini santer sejak beberapa bulan terakhir tentang beliau akan membuat novel sebagai interpretasi dari puisi Hujan Bulan Juni, daaan akan diterbitkan pada bulan Juni. Pada waktu itu masih kabur jadwal rilisnya dan beberapa minggu lalu, saya melihat postingan facebook teman semasa kuliah saya Dimas Tiara, yang mengabarkan Minggu kemarin adalah jadwal rilisnya. Langsung campur aduk rasanya. Soalnya kemungkinan tidak bisa hadirnya masih tinggi. Schedule musti diatur jauh-jauh hari dan ketika hari Jumat tiba, akhirnya jadwal bisa kosong untuk Minggu sore itu dan pergilah saya berserta Firdani Asri ke Central Park, tempat launching dilaksanakan.

Sudah penuh dong sodara-sodara saat kami tiba. Yang mana mengejar busway dari kawasan Kuningan yang sebelumnya ditempuh menggunakan Mikrolet 44 dari daerah Tebet. Pokoknya perjuangan. Hahaha…

Sebelumnya pada Minggu pagi saya menyelenggarakan sebuah kelas melukis—akan saya ceritakan pada postingan tersendiri—jadi hari Minggu kemarin semacam hari memberi makan jiwa saya: melukis dipagi harinya kemudian mendengarkan Pak Sapardi bertutur di sore harinya.

Kembali pada persoalan tempat yang sudah penuh. Saya dan Aci setelah membayar lunas buku novel kami, memutuskan untuk “menyelinap” dan ngampar di depan para peserta yang duduk di kursi. Artinya kamilah yang paling dekat dengan panggung kecil itu. VVIP seats banget. Meski ngampar.

Musikalisasi Puisi

Musikalisasi Puisi

Dimulailah acara dengan musikalisasi puisi Aku Ingin, dan dibacakannya puisi Hujan Bulan Juni. Kemudian Pak Sapardi muncul dengan menggunakan tongkat—seumuran kakek saya nampaknya, kalau kakek saya masih hidup. Setelah beliau memasuki arena—halah bahasanya—kemudian ada beberapa audiens yang secara acak tampil membacakan puisi. Baik puisi Pak SDD maupun puisi buatan sendiri.

Deklamasi Puisi

Deklamasi Puisi

Dan tibalah pada acara inti, launching novel Hujan Bulan Juni oleh Pak SDD dan perwakilan dari penerbit. Setelah itu yang menarik adalah sesi dimana Pak SDD melakukan story telling salah satu bagian dari isi buku. Dari sini sebenarnya sudah ada gambaran mau dibawa kemana cerita ini. Sebelum itupun saya sempat membaca tuntas synopsis pada sampul belakang, dan niat saya untuk Move On malah diombang-ambingkan kata-kata beliau. Wkwkwkwk…

Launching Novel Hujan Bulan Juni

Launching Novel Hujan Bulan Juni

Penuturan Cerita

Penuturan Cerita

Saya dan Aci pun memutuskan—meskipun kami belum membaca novel ini—sepertinya jalan ceritanya manis-manis menyakitkan—meminjam istilah Aci. Sama seperti setiap kisah cinta saya selama ini. LOL. Curcol.

Well, highlight dari acara kemarin, selain saya bisa bertemu muka, dan mendapatkan tanda tangan Pak SDD saya sempat berbincang. Benar-benar small talk. Saya katakan pada beliau. “Terimakasih sudah membuat buku ini”. Dan ucapan terimakasih saya itu mewakili untuk buku Kumpulan Puisi Hujan Bulan Juni beliau, yang seperti pernah saya katakan.

Bertemu langsung dengan Pak SDD

Bertemu langsung dengan Maestro

Buku itu seperti berbicara untuk mewakili saya, puisinya mewakili apa yang saya rasakan. Dan sebagai penutup kiranya bolehlah saya menyertakan paragraf pada sampul belakang:

Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar sapu tangan yang telah ditenunnya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susun-berususun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi dilembar sapu tangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri oleh ketabahannya sendiri oleh tarikan dan hembusan napasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang. Bagaimana mungkin.

Selfie 2

Sampai jumpa pada postingan selanjutnya—setelah saya membaca buku ini tentunya.

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Cheers

atviana

Advertisements