Tags

, , ,

taken from: iwantcovers.com

taken from: iwantcovers.com

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Hello reader sekalian. Hohoho…

Jaraknya cukup singkat dengan postingan lalu. Hanya beberapa hari. Well, karena hari ini saya mengalami sebuah peperangan batin—berlebihan, tapi rasanya tidak juga.

Selama 24 tahun terakhir, Jayapura Papua merupakan alamat resmi saya.  Pati, Bogor, Yogya, Enschede dan Jakarta hanyalah alamat-alamat sementara—brb cek katepe. Saya menyimpan Jayapura pada tempat khusus dalam kehidupan saya—nah kan jadi mellow. Di sanalah tempat saya dibesarkan dan sampai detik ini, proporsinya masih lebih besar waktu yang saya habiskan di sana dibandingkan di tempat lain. Masa di mana pergi ke amusement park setahun sekali merupakan liburan yang selalu ditunggu-tunggu, masa di mana saya berebut perhatian orang tua ketika adik saya baru lahir, masa di mana saya beranjak menjadi remaja dan melalui segala kenakalannya, masa di mana saya habiskan bersama teman-teman yang sudah hampir 21 tahun saling mengenal dan memahami. Terutama adalah masa saya menghabiskan hampir separuh hari bersama kedua orang tua saya setiap minggu, setiap bulan, sepanjang tahun, yang mana sekarang sudah tidak lagi. Paling banter dalam setahun kami ketemu selama sebulan.

Terlalu banyak hal-hal yang ingin diceritakan. Terlalu banyak kenangan. Terlalu banyak drama dan pelajaran.

seperti setiap cerita dan langkah berbeda pada tiap pasang sepatu.

seperti setiap cerita dan langkah berbeda pada tiap pasang sepatu.

Hal inilah yang membuat emosi saya semacam terpecah. Dimulai dari hari Minggu kemarin, orang tua saya mengabari bahwa ada prospek percepatan mutasi orang tua saya ke Pati. Soal mutasi sendiri sudah menjadi wacana tiga tahun terakhir dan tahun ini orang tua saya benar-benar mengajukan untuk pindah. Yang menjadi kejutan adalah, I didn’t expect the process would be this fast. My parents predict that they can officially move next June. WHAAAT???

I plan to go back to Jayapura soon after the official date is decided which I assume will be in the end of this year or early of next year.

Dari kemarin ada dua hal yang secara tidak sadar memenuhi ruang pikir. Pertama semakin cepat orang tua saya pindah ke Pati artinya saya akan punya alasan untuk sering-sering pulang ke Pati. Saya menjadi bersemangat, yang mana tidak pernah bisa saya lakukan jikalau itu tentang Jayapura. Flight fares still become main obstacles to go home.

Saya kemudian membayangkan kenyamanan rumah, ide mendekor kamar yang belum rampung gegara sempitnya waktu luang dan yang baru-baru saja terlintas di kepala adalah waktunya membuat no-bake oreo cheese cake di rumah, yang belum terlaksana selama saya tinggal di Jakarta.

Di lain waktu—seperti penderita bipolar—kesedihan lah yang mendominasi. Percepatan ini pun bisa berarti saya harus lebih cepat mengucapkan selamat tinggal kepada individu-individu, kepada tempat-tempat favorit, kepada memori, kepada cerita.

Tetapi sepertinya semua harus dimulai dari saya. Bagaimana saya akan menerima dan terus melangkah. Bagaimana saya membuat persepsi. Jadi mungkin ini bukan selamat tinggal tetapi sampai bertemu kembali. Semoga kita benar-benar akan dipertemukan kembali.

 

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

cheers
atviana

Advertisements