Tags

, , , ,

Battle of Wits

ketika timeline isinya barang dagangan

 

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Halo readers sekalian, how are you?

Ah, judulnya provokatif yak?
Hehehe…

Tidak bermaksud nyinyir ataupun menyinggung golongan tertentu, karena saya juga termasuk pada golongan yang berjualan online di media sosial. So what’s the matter actually?

Sebenarnya ini sudah lama bercokol di kepala, tapi belum ada nyali untuk menulis. Hanya saja semalam sebelum tidur ada semacam pemicu yakni hal yang saya baca di timeline facebook. Sebuah postingan salah seorang teman yang beriklan untuk suatu bisnis MLM yang menyasar kelemahan MLM tetangga. Well, mata saya jadi sakit dan akhirnya memilih buat matiin paket data dan tidur.

image is not mine. source: somewhere from internet.

image is not mine. source: somewhere from internet.

Sebenarnya sah-sah saja, apapun pilihan MLM atau jualanmu dan menggunakan media sosial apapun sebagai wadah promosi. Hanya saja perlu diingat bahwa media sosial itu semacam papan pengumuman yang juga digunakan oleh orang lain dan rasanya tidak patut kalau mau beriklan pake acara menyindir produk orang lain apalagi menggunakan akun pribadi yang mana asal muasalnya akun pribadi ini dipakai untuk menjalin komunikasi dan pertemanan.

Saya sampai membuat fanpage sendiri untuk jualan saya, yang mana teman-teman memiliki kebebasan untuk tidak me-like. Artinya bebas untuk menerima atau tidak menerima segala macam postingan yang akan saya buat. Untuk urusan status yang bikin sakit mata gampang aja si sebenernya, dengan hide permanently dari timeline—yang mana sudah sering saya lakukan terhadap postingan-postingan alay tanpa perlu unfriend—tapi terkadang malah hal-hal semacam ini yang memberikan warna pada hidup saya—please get a life! You should throw those words to me. LOL!

Secara personal, saya termasuk golongan yang kontra pada praktek MLM. Pendapat pribadi loh yaaa…  don’t get me wrong. Hahahaha—konservatif memang—tetapi saya tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan produk dari suatu MLM tertentu. Yang saya anti hanyalah sistemnya. Jadi sebernarnya males banget kalau sudah ngeliat gelagat-gelagat mau diprospek.

Saya memilih jadi member suatu MLM hanya supaya bisa dapet diskon untuk membeli produk. Berlaku untuk Ori*la**, yet my membership expired years ago. And today when I want something from their catalogue I will ask for a member price from friends who look for points. Win-win solution right?

Kekekeeke… Jangan ditiru!

Beberapa hari lalu saya juga semacam dikasih sinyal buat gabung member asuransi. Karena lagi-lagi asuransi juga semacam MLM mameen!!! Namun saya sebenarnya sudah punya polis dari asuransi tersebut karena tuntutan kantor. Mungkin saya akan merasa butuh untuk memiliki asuransi kesehatan dan tabungan pensiun tetapi untuk investasi berbasis saham—yang juga digunakan oleh lembaga asuransi—dan sistem asuransinya sendiri sifatnya masih abu-abu dalam syariat.

Well, you name it syaria economy, but in practice they still have ribaa. It is something widely known. Pernah punya percakapan panjang sama temen-temen deket soal ini, dan agak bikin maju mundur juga untuk punya polis asuransi. Namun karena ini dibayarin kantor sih, yaaah… bit afraid tho. :)

Intinya adalah perang untuk menjaring konsumen dan downline adalah hal yang bikin sakit mata. Okelah saya bisa paham kalau urusan mencari konsumen. Dunia ini semacam pasar raksasa dimana hanya ada dua inti: demand and supply. Jadi sah-sah saja bagi tiap individu untuk menyediakan supply kepada yang membutuhkan barang atau jasa. Hal yang tetap jadi isu adalah menjaring downline. *garuk-garuk kepala… Wkwkwk…

Once I ever asked to my very close friend with MLM business: honestly which one do you sell? Your product or your system? And her answer made my day. The system.

Nah kan.

Kalau tidak dikelola dengan baik sistem ini bisa merusak pertemanan, memutus persaudaraan daaaan menyebabkan prasangka. Macem saya ini yang udah prasangka kemana-mana sama setiap iklan MLM di facebook.

Jadi, just do your business with manner guys. We still have friendship in the edge of everything. Don’t spoil that.

 

Wassalamu ‘alaikum. wr. wb.

Cheers,
atviana

Advertisements