Tags

, , , , , , ,

Pernah gak sih merasa warna favorit tiba-tiba berubah seiring waktu?
Atau konsepsi akan sesuatu yang dulu mati-matian kita percayai kemudian (begitu saja) terasa janggal di kemudian hari?

Eyya, apaan sih, but it’s kinda true you know. Setiap dua tahun sekali warna favorit saya berubah (more or less). Bisa diwakili oleh tendensi saya dalam pemilihan warna pada suatu kurun waktu tertentu dalam bentuk mengumpulkan dan membeli barang-barang—yang cenderung sepele.

yellow salmon shades

yellow-salmon shades. image source: imagekind.com

Sekitar tahun 2007-2008 saya ngidam warna kuning. Beberapa waktu kemudian beralih ke warna orange-salem pucat. Kemudian sekitar tahun 2012 saya menggilai warna merah, dan akhir-akhir ini saya memproyeksikan kamar baru saya dalam warna pink dan baby mint/baby tosca. The next post will be just about my new room makeover it seems. *smirk.

red-orange shades

red-orange shades. image source: etsy.com

Beradasarkan penelitian, memang preferensi terhadap warna, berubah seiring bertambahnya usia. Asosiasi warna terhadap ekspresi emosi merupakan hal yang mendasari perubahan kecenderungan seseorang. Budaya dan kumpulan informasi yang dipupuk seiring bertambahnya umur juga mendorong seseroang untuk menunjukkan pergeseran terhadap preferensi warna kesukaan. Kalau kita meng-googling di Google Scholar, ternyata banyak sekali jurnal yang membahas soal ini. Namun sayangnya saya nggak akan membahas itu. Yang jelas, perubahan kecenderungan atas warna kesukaan merupakan sebuah fakta ilmiah. *sok ilmiah

f in yellow

f in yellow

Jadi normal-normal saja apabila kita menunjukkan perilaku tersebut, hehehe.. Meskipun begitu rasanya tetap ada warna yang selalu menjadi favorit, disadari maupun tidak—dan bagi saya itu artinya baby pink.

pink peonies. image source: favim.com

pink peonies. image source: favim.com

Cheers

atviana

Advertisements