Tags

, , , , , , , , , ,

Salah seroang sahabat saya hari ini membuat status Facebook yang cukup menarik. Baginya Hijrah itu butuh keberanian. Well, what she said is accurately true. Mungkin saya tidak berada persis di posisinya saat ini, tetapi apa yang ia rasakan tentu saja sering saya alami.

Tiga bulan terakhir ini katakanlah saya harus berkutat dalam mengambil keputusan untuk hijrah dari Jogja, segera setelah kelulusan. Pada saat itu tantangan yang saya hadapi adalah harus berpisah dengan segala kemudahan yang ditawarkan oleh tipikal kota-kota besar. Saat itu saya berencana untuk tinggal di Pati. Rencana ini jujur saja bikin saya patah hati. Hahaha…

I should be apart with friends, alone with nothing to do and so on, yang artinya nggak ada pasokan k-drama atau variety show, nggak ada acara hang out atau girl’s night out yang sering dilakukan baik di Jogja maupun di Bogor. Bagi saya pribadi ini sebuah tantangan. Tetapi tentu saja di Pati saya akan mendapatkan fasilitas dengan kualitas nomor 1, rumah sendiri, makan gratis, dekat dengan keluarga. Ahahaha… Masih jiwa mahasiswa gratisan ini mah…

Home Sweet Home

Home Sweet Home

Jogja besties

Jogja besties

Sebelum rencana itu terlaksana saya sempat selama satu bulan tinggal bersama adik saya di Solo. Alibinya sih menemani, tetapi mungkin alasan sebenarnya adalah saya belum siap berpisah. Jadinya dalam satu bulan itu saya sering bolak-balik Jogja-Solo, what a journey.

Setelah itu, Alloh swt mengabulkan doa saya yang nggak bisa tinggal di Pati lama-lama dengan panggilan untuk segera ke Jakarta. Eits, tunggu dulu, jangan senang dulu, karena sebenarnya ini merupakan sebuah tantangan yang lain. Bagi kamu yang belum pernah tinggal di Jakarta jangan nyinyir ya… Hahaha…

Pindah ke Jakarta artinya harus siap dengan segala konsekuensi yang ada dan beradaptasi kembali, mulai dari biaya hidup yang tinggi, tingkat kesibukan kota yang nggak pernah mati, masyarakatnya yang (lebih) individualis (ini dalam opini saya), macet, polusi dan apapun lah yang mau kau daftar. Sangat bertolak belakang dengan tempat tinggal saya yang terakhir. Hanya saja tinggal di Jakarta juga memberikan saya ruang jelajah yang makin luas. Kota ini memberi fasilitas yang tidak terlayani sebelumnya terlepas dari fakta bahwa setiap tempat pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Terutama bagi saya yang mengandalkan tranportasi publik dan gedung bioskop, pada masa awal tinggal di Jogja saya sempat mengalami stress ala Mbak F. Cuma bedanya saya nggak koar-koar di medsos aja—aniwey, gw juga mbak F ya? hahahaha…

Karena kebiasaan saya berpindah-pindah dalam 10 tahun terakhir, saya menyadari bahwa setiap tempat punya tantangan tersendiri. Yang kau cari belum tentu bisa kau temukan, namun masing-masing kota juga bisa menawarkan apapun yang selama ini tidak pernah kau bayangkan dan kau akan mensyukuri akan hal itu. Dan Jayapura masih berarti satu hal: Rumah. Jangan salah, saya masih merindukan pulang ke Jayapura. :) Hanya saja bukan tinggal dalam jangka panjang. LOL :D

For the sake of oldies, GFM IPB Bogor Mates

For the sake of oldies, GFM IPB Bogor Mates

NL besties

NL besties

Snowy Enschede...

Snowy Enschede…

One of Jogja beauties: Drini Beach

One of Jogja beauties: Drini Beach

Intinya adalah keberanian untuk Moving on dan Moving forward. Kita nggak bisa stuck di suatu titik tanpa bergerak karena itu melawan fitrah manusia yang dinamis. Dan kita memang diperintahkan untuk berhijrah, baik secara spiritual maupun murni dalam konsep literalnya: tempat tinggal.

Kau tahu, dalam kepala saya saat ini jujur saja, sudah ada semacam perencanaan untuk kembali berhijrah dalam 2 atau 3 tahun ke depan. Kemana? Biar nanti takdir yang menjawab… Tsaaah… Ayo Merantau!

Tulisan ini saya dedikasikan untuk kakak Erna Nur Rahmawati yang lagi galau.

cheers

atviana

Advertisements