Tags

, , , , , , ,

dear stranger, eehem.. ^^! 

Assalamu alaikum wr. wb.

Hello Readers, how are you?

Kalau boleh dikatakan, akhir-akhir ini isi postingan blog saya adalah catatan kehidupan –yang cenderung curcol– *ecie… dan hari ini entah kesambit apa, saya dan teman-teman membicarakan tentang jodoh. Tentang janji Allah, bahwa perempuan baik hanya untuk lelaki baik, and vice versa.

Saya punya sebuah teori, seorang pribadi yang baik untuk pribadi baik lainnya berarti kesepadanan. Kesepadanan dalam arti potensi masa depan dan kapasitas kepribadian. Masih dalam pandangan saya, setiap manusia tidak sepenuhnya berkarakter hitam dan putih, kecuali Rasulullah saw, manusia pilihan yang telah dibersihkan jiwa dan raganya dari sifat-sifat kemunkaran. Setiap manusia punya potensi baik maupun buruk, jadi artinya jikalau sepasang jiwa itu dijodohkan, mereka mempunyai kapasitas untuk melengkapi satu sama lain.

Dua pribadi yang dijauhkan atau kasarnya tidak berjodoh ;p, berarti secara otomatis gak ada klik-klik nya.. hahaha.. Seperti yang telah disampaikan oleh Allah, Apa yang kita anggap baik belum tentu baik untuk kita, dan yang kita anggap tidak baik, mungkin malah sebaliknya. Misalnya seperti ini, ketika seorang pribadi dengan potensi untuk “naik kelas” dan menjadi lebih baik akan cenderung bertemu dengan orang yang sama-sama memiliki potensi tersebut, atau mungkin malah sedang proses menuju kesana. Orang-orang yang sejenis ini punya visi misi atau at least sudut pandang yang sama sehingga mudah untuk saling mengakomodasi. Lain halnya jika dua pribadi dengan kapasitas dan potensi yang berbeda, yang satu tidak akan bisa mengimbangi yang lain atau malah tidak dapat mengerti alasan dibalik suatu perubahan yang dilakukan. Probabilitas kebersamannya cenderung kecil. :3

Tetapi kadang-kadang kita menemui dua orang dengan kepribadian sangaaaat bertolak belakang namun berjalan lempeng aja, karena–sekali lagi menurut hemat saya–mereka sama-sama punya potensi untuk membuffer perbedaan, atau cenderung punya kapasitas untuk menjembatani ketidaksamaan yang mereka miliki. Nah intinya tergantung potensi dan kapasitas individual. Dua pribadi yang tidak mampu mengatasi perbedaan akan cenderung bubar jalan, dan juga cenderung nantinya akan memilih pribadi dengan kesamaan potensi. Balik lagi deh ke teori sebelumnya :p

Satu pribadi saja sudah rumit, apalagi dua. Hahahaha… :p

Mengutarakan memang lebih mudah dari menerapkan. Ketika saya masih berkabung dalam kata mengapa saya lupa–cenderung melupakan–sebenarnya saya lebih dari paham akan hal ini, hanya saja saya hanya berdiri pada anak tangga yang selalu sama, tidak naik dan tidak turun. Menunggu sebuah tamparan keras, atau sebenarnya saya sudah merasakan tamparan perih, hanya saja saya terlalu bebal untuk menapak naik :p

Anw, apa yang saya bicarakan ini? Entahlah, mungkin sebuah catatan kepada diri sendiri di tengah kegilaan mempersiapkan sidang dan menonton sebuah talk show. Well, doakan saja! Semoga saya cepat bertemu separuh jiwa dengan kepribadian yang bisa saling mengakomodir, yuk aminin berjamaah! –eyaa ujung-ujungnya ini…

 

Sampai jumpa di postingan selanjutnya.

 

with love and cheers,

atviana

 

Image via Favim.com

Advertisements