Tags

, , , , , , , , , , , , ,

Hello all, this is the chapter 3, I hope you enjoyed the previous two

~~~

Sahabat itu Selamanya – Friend is Forever

Chapter 3

~~~

“Bergembiralah,  James!”  Remus menepuk punggung James perlahan, saat mereka sarapan pagi tanggal 14 Februari. Sirius hanya tertawa di sampingnya yang menduduki kursi tepat disebelah James, sedangkan Peter sudah menyantap roti isinya dengan lahap, hanya sesekali ikut tertawa.

“Prongs, kau tidak akan mati hanya karena Lily menolakmu, sobat. Masih banyak gadis lain,” Sirius menimpali sambil mengerling ke arah James di tengah usaha menuang pialanya dengan jus labu. James hanya melempar tatapan diam-atau-mati ke arah Sirius sekilas, kemudian kembali menusuk-nusuk daging asapnya yang sudah hampir beruabah menjadi daging cincang dengan semangat seekernya yang membara.

“Padfoot, berhentilah menggoda James,” Remus memandang Sirius serius, dan mengerling James tidak enak.

James seakan kehilangan semangat hidupnya setelah dua minggu lalu Lily membatalkan kencannya tanpa kasihan terhadap James. Dua minggu yang tenang bagi Hogwarts karena nampaknya Raja Onar itu juga kehilangan seluruh mantera onarnya. Hanya sesekali menatap ganas semua anak yang melihat kasihan pada dirinya seakan ia siap membunuh mereka satu persatu. Sirius pun menjadi bosan, ketika James menolak untuk segala macam tindak keributan yang akan dilakukan.

“Aku tidak menyangka, bukannya ia sudah bilang mau, kemudian ia bilang tidak, seperti akan mati saja,” James merutuk pelan. Sirius, Remus dan Peter menoleh ke arahnya dan ternganga di udara.

James tidak pernah berkata apa-apa sejak malam itu setelah penolakan Lily. Yang sempat ia ucapkan pada ketiga sahabatnya hanya, “tidak, dia tidak mau, hogsmeade,” dan setelah itu ia tidak pernah mengungkitnya lagi.

Ketiganya memberi tatapan prihatin kepada James. Sirius pun yang mulanya akan membuatnya jadi bahan godaan, mengurungkan niatnya.

“Ayolah sobat, jangan begitu terus, mungkin ada sesuatu yang harus dilakukan Evans hari ini, jadi ia tidak bisa pergi,” Sirius mulai menghibur, diikuti gumam setuju Remus.

“Dia kan Ketua Murid, mungkin saja ia sedang mengerjakan tugas dari McGonagal, tapi kau malah merutukinya sepanjang minggu,” Remus membela Lily.

“Kau juga kan Ketua Murid, tapi tidak ada yang kau lakukan saat ini,” balas James sengit, sambil menatap Remus seakan Remuslah yang memerintahkan Lily untuk bertugas.

“Yeah, mana ada tugas di saat kunjungan Hogsmead, Valentinan lagi. Siapa yang mau, kalau aku sih, ogah…” Sirius berkata santai, kemudian membuka mulutnya lagi, setelah sebuah ide brilian melintas di kepalanya. “Atau mungkin, James, karena Remus terlalu sering bikin ribut, McGonagal jadi tidak memberinya tugas apa-apa.” Peter tertawa, Remus mau tak mau ikut tertawa pelan. James menatap mereka jengkel bergantian.

“Bukan begitu. McGonagal tahu tanggal berapa ini, ia membebastugaskan aku, ingat?” kata Remus tanpa memandang teman-temannya karena asik melahap kentang tumbuknya, seakan kegiatan bulan purnamanya adalah hal biasa yang biasa saja.

“Lagipula James, kalau kau jadi pergi dengan Evans hari ini, kau akan melewatkan sepanjang hari, oh tidak mungkin juga sepanjang malam. Kau tahu kan, cewek-cewek itu. Jadi kau mungkin akan melewatkan petualangan kita malam ini. Lagian bukannya kau ada latihan Quidditch siang nanti?” tanya Sirius bersemangat. James hanya mengedik lemah.

Kemudian mereka menyelesaikan sarapan dengan tertawa-tawa. Membahas kegiatan apa lagi yang akan mereka lakukan di malam bulan purnama ini, adalah salah satu kegiatan favorit mereka, mau tidak mau James pada akhirnya ikut bergabung.

Di sisi lain meja Griffindor, jauh dari empat sekawan tukang bikin onar itu, Lily memotong-motong telur dadarnya tidak bersemangat. Diusahakannya tersenyum melihat semua teman-teman ceweknya begitu bersemangat membicarakan soal cokelat-cokelat, tempat-tempat paling romantis di Hogsmeade dan hal-hal semacam itu. Ia hanya menatap mereka muram, masih janggal bahwa ia dan Severus pergi kencan hari ini sebagai teman, atau apakah hanya Lily yang menganggapnya begitu. Ia juga tidak tahu.

Lily menggelang perlahan.

Kerinduannya akan persahabatannya kembali menelusup dalam hatinya penuh-penuh, mengalahkan semua rasa kegetiran di hatinya, apalagi saat pandangannya menyapu seluruh meja Gryffindor dan mendapati James juga sama lesunya seperti dirinya, walaupun dikelilingi tampang-tampang semangat dan bahagia. Lily mempercepat sarapannya, karena sudah semenit yang lalu Remus menatapnya seakan meminta jawaban yang selama ini dihindarinya. Dan akhirnya James membuang muka saat pandangan mereka tidak sengaja bertemu.

“Lily, maaf aku terlambat,” Mary duduk disebelah Lily sesaat sebelum Lily meninggalkan meja. Mary kelihatan sangat bersemangat. Anak kelas tujuh Ravenclaw yang ditaksirnya sejak lama mengajaknya keluar bersama hari ini. Jadi dia agak kelewatan bahagianya.

Lily hanya tersenyum singkat dan mengangguk setuju atas penampilan Mary. Untuk tidak terlihat tidak menghargai Severus Lily pun tampak tidak kalah memesonanya, rambut merah gelapnya digerai indah di bawah topi wol dan bebatan rapat syal katun. Di luar masih dingin tetapi hawanya cukup menyenangkan. Matahari mulai bersinar lumayan cerah ketika hari beranjak siang.

Lily, meninggalkan kerumunan di Aula Besar, yang merayap perlahan ke Aula Depan, menuju sortiran Filch terhadap siapa-siapa yang memiliki izin ke luar Hogwarts. Surat izin orang tuanya sudah terlipat rapi, aman dalam kantong jaketnya. Tongkat telah terjepit nyaman dalam sakunya. Lily menganggap semuanya sudah pas, dan berdiri agak jauh dari kerumunan, karena pada dasarnya mereka akan menatap tak percaya, atau bahakan menatap mencemooh seperti yang sering mereka lakukan kalau ia terlihat berjalan dnegan Severus.

Lily bersandar pada salah satu pilar agak tersembunyi di sisi Aula Depan, matanya mencari-cari dan ia terus memperhatikan anak-anak yang berhamburan keluar, tetapi matanya belum menemukan Severus. Kemana gerangan kah ia. Lily tidak begitu cemas, karena Severus mungkin menghindari keramaian. Ditata perasaannya kembali, inilah yang benar-benar diinginkannya hari ini. Melakukan sesuatu yang lebih berguna, yaitu memperjuangkan sahabatnya kembali, ketimbang memenuhi permintaan seorang temannya yang jelas-jelas arogan, culas, sombong, dan serangkaian sifat lain yang ditempeli pada James di samping julukannya sebagai Biang Onar, dan Pahlawan Quidditch.

Tapi kalau di pikir-pikir, dan diperhatikan keributan yang dilakukan James jauh berkurang sejak kelas tujuh ini tetapi, menggeleng kuat-kuat menepiskan satu sisi dalam kepalanya yang menyalahkan Lily atas tindakannya itu.

Lily, hanya menunggu dan terus menunggu hingga orang-orang terakhir yang bergegas memenuhi janjinya di hari itu berlari melewati sortiran Filch. Kemudian sepi. Filch berjalan tertimpang-timpang, kucingnya Mrs. Norris mengeong disampingnya mengikutinya kemanapun Filch pergi. Tatapannya jengkel meneliti daftar anak-anak yang telah memiliki izin hingga baris terakhir nama itu, merasa bahwa ia tidak meloloskan seorangpun yang tidak miliki izin. Wajahnya sudah berwarna biru, di bawah dinginnya hari itu. Salju akhirnya turun tipis diantara sorotan lemah cahaya matahari.

Filch menatap sekeliling dan tatapannya bertemu Lily. Seakan meminta penjelasan ia berusaha mendekati Lily, dari gerak-geriknya mengira Lily tidak memiliki izin dan berniat menyelinap keluar, lelaki tua menyebalkan, geram Lily dalam hati yang terpaksa menujukkan surat izinnya padahal ia belum, setidaknya untuk saat ini melanggar tapal batas gerbang Hogwarts.

Filch akhirnya menghilang ke Aula Besar dengan Mrs. Noris mengekor di belakangnya, mengendus-endus. Lily, nampak kecewa sudah hampir tiga puluh menit ia menunggu. Tangannya kebas, punggungnya kaku bersandar di pilar yang sedingin es batu. Lily sangat tidak percaya Severus Snape tega membuatnya menunggu selama itu, hal yang tidak pernah dilakukannya karena setahu Lily, Snape itu sangat menghargai waktu. Tidak habis pikir mengapa.

Kemudian sebersit pikiran memengaruhi Lily, yang menyatakan Snape tidak akan datang. Snape pasti datang-pasti datang, lawannya dalam hati. Namun seseorang dengan jubah penyihir hitamnya yang seperti kelelawar, pemuda tujuh belas tahun dengan tampang kaku tanpa ekspresi, yang menatap Lily dari kejauhan, bergumam pelan namun pasti berusaha menyampaikan isyarat dalam hatinya kepada Lily, bahwa ia Severus Snape tidak akan pernah menepati janjinya hari itu, ia tidak akan pernah datang. Memandang Lily sekali lagi, kemudian beranjak pergi dalam diam. Dalam hati ia berharap Lily bisa memaafkannya, suatu saat nanti.

~~~

See you till the next chapter,

cheers,

atviana

Advertisements