Tags

, , , , , , ,

~~~

the previous chapter

~~~

Sahabat itu Selamanya – Friend is Forever

Chapter 2

“Severus, Severus… Severus kau dengar aku, berhenti kubilang,  SNAPE BERHENTI KUBILANG!!” suara Avery meledak memenuhi koridor kosong di lantai tiga. Snape sudah berusaha memutar mencari jalan lain menuju ruang rekreasi Slytherin di bawah tanah seusai pelajaran Mantera, tetapi Avery berhasil menemukannya dan memojokkannya di sana.

Snepe masih terengah atas usahanya berlari tadi. Ujung tongkat sihir Avery berada tepat di atas permukaan kulit leher Snape. Ditusuknya tongkat itu lebih dalam sehingga membuat Snape sedikit tersengal.

“Kenapa akhir-akhir ini kau menghindari kami Snape? Kau ingin mundur? Sudah terlambat sobat, setelah Newt sialan itu selesai, selesai sudah semuanya. Tak ada lagi penghalang antara kita dan dia, Sev…” Avery kedengarannya bergairah, namun ia tetap tidak melepaskan cengkeramannya atas Snape yang dirapatkannya ke dinding. Ujung tingkat sihir Avery terasa panas di kulit Snape namun Snape tetap bergeming. Mata hitamnya menatap tajam mata abu-abu Avery yang mengecil: mengisyaratkan ketidaksukaan.

“Lepaskan aku, atau kau akan menyesal Avery,” suara Snape terdengar datar tetapi ancamannya, sejenak membuat Avery bergidik. Wajahnya kaku tanpa ekspresi seperti biasa, tetapi sorot mata hitam Snape, agak membuat nyali Avery menjadi ciut.

“Apa kau akan menyerangku, Snape? Tak akan, tak akan pern—

“DUAR!!!!” suara ledakan besar berasal dari tongkat Snape yang sekarang terjulur, membuat Avery terbanting ke sebelah lain dinding koridor itu.

“Sial!” Avery mengumpat keras, berusaha bangun dan sesegera mungkin untuk mengejar Snape, namun Snape telah menghilang di ujung koridor. Ujung jubahnya telah menghilang di kejauhan. Avery bergegas pergi, langkah timpang Filch terdengar mendekat. Ia tidak mau terlibat masalah, apalagi hanya gara-gara Snape.

***

“Lily, kau sudah gila, apa yang telah kau lakukan?” kata Mary sambil mendelik kepada Lily. Lily hanya menatapnya lemah, kemudian berbaring di tempat tidurnya. Mary beranjak bangun dari tempat tidur Lily yang kemudian berderit singkat. Ia bersedekap marah dan menatap Lily tidak percaya.

“Kau akan menyebabkan kekacauan besar Lily, Potter akan membunuh Snape kalau dia tahu, oh Lily, apa yang telah kau perbuat?”

“Mary, kau berlebihan, James tidak akan membunuhnya, dan apa haknya?” Lily balas memandang Mary. “Aku bukan pacarnya—

“Yeah, kau memang bukan pacarnya, tapi kau kan temannya, dia telah mengajakmu duluan Lily,” potong Mary yang kemudian terlihat shock. “Dan ingat,  itu, setelah usaha yang kau dan aku tahu tidak mudah, dan semalam apa yang kau lakukan padanya, membatalkannya demi-demi, oh Tuhan, demi seorang Snape?” Mary membelalak pada Lily, kemudian berbalik ke jendela ke arah danau yang masih membeku. Matahari memancar lemah dari bingkai jendela.

“Severus sahabatku, Mary, aku ingin sahabatku kembali,” Lily berkata lemah.

“Dan apa persisnya? Pergi ke Hogsmeade dengannya tepat di hari Valentine akan membuat sahabatmu kembali? Akan membuatnya berubah?” tanya Mary menantang.

“Tidak—

“Nah, kalau begitu apa gunanya, Lily?” tanya Mary lemah. Lily membisu. Mary kemudian duduk di sampingnya menatapnya prihatin.

“A—a —a— aku telah membuatnya berjanji tidak melakukan sihir hitam lagi, dan—dan menjauhi teman-teman pelahap mautnya itu.” Lily tercekat sesaat kemudian air matanya meleleh. Ia menatap Mary meminta pembenaran dalam matanya.

“Kuharap ia memenuhi janjinya Lily, dan kau….” Mary menghela napas perlahan, “dan kau mendapatkan sahabatmu kembali,” Mary mendekap Lily erat dalam pelukannya, dan Lily pun terisak pelan.

***

“Hampir dua minggu, dan dia pasti sudah gila,” Mulciber menatap garang Avery yang duduk di hadapannya sore itu. Seusai pelajaran Mantra, lagi-lagi Snape mangkir dari pertemuan kecil mereka.

“Dan kau tahu, Malfoy akan menemui kita di Hogsmeade Sabtu nanti, apa katanya kalau Snape tidak datang,” Mulciber menggeram, meletupkan buncahan bunga api dari ujung tongkat sihirnya membuat beberapa anak kelas satu Slytherin yang lewat memekik tertahan. Avery menggeser posisi duduknya. Melempar edisi sore Daily Prophet ke seberang, yang langsung mendarat ke dalam perapian yang baru saja menyala. Apinya langsung berkobar.

“Persetan dengan Lucius, aku tidak peduli, tetapi dia sudah tahu, Snape akan bergabung, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita kalau Snape tidak muncul,” Avery mendelik marah pada Mulciber.

“Kau sudah omong besar pada Lucius, Snape itu hebat, dan tidak rugi merekrut dia. Dan Lucius pasti sudah memberitahu dia, kalau Snape akan datang, tapi Snape…” Avery tampaknya akan berbicara lagi tetapi kemudian ia diam sesaat sebelum melanjutkan, “aku tak tahu apa yang dipikirkannya, tampaknya dia punya rencana lain Sabtu nanti.”

Avery menoleh ke samping pada lubang lukisan yang baru saja berderit terbuka. Mulciber memutar kepalanya untuk melihat dan Severus Snape sedang melewatinya dengan tergesa. Avery tentu saja tidak ambil resiko kehilangan Snape lagi. Dilucutinya senjata Snape yang tidak siaga dan memojokkannya di sudut ruang rekreasi yang gelap. Terjadinya begitu cepat.

“Sudah puas kau bermain-mainnya?” Avery bertanya geram pada Severus Snape yang mengatupkan bibirnya rapat memandang kedua temannya dengan tatapan ketidaksukaan bercampur dengan kerinduan yang hangat, yang hanya diketahui oleh Snape sendiri.

“Ayo, kita cari tempat aman!” Mulciber menyeret Severus pergi dengan ujung tongkat sihirnya berada di antara tulang belakang Severus. Mereka bertiga melewati pintu Ruang Rekreasi Slytherin dengan banyak adu hantam, tetapi Snape kalah jumlah. Melawan dua orang dengan dua tongkat sihir, tentunya akan lebih mudah bila berpura-pura menurut dan pergi dengan damai, tetapi Severus Snape tidak terlalu pandai saat itu, sehingga ia telah berhasil dilumpuhkan di sudut kelas kosong bawah tanah, berdekatan dengan Ruang Rekreasi Slytherin dengan wajah babak belur dan kena mantera sengat.

“Apa kau pikir kau hebat Snape?” tanya Avery berang, dilemparkannya tongkat sihir Snape ke seberang lain ruangan. Snape tidak mampu melihat dengan jelas. Wajahnya sudah membengkak hebat dan semerah ceri. Kesakitan merayapi tiap senti kulit wajahnya yang serasa tertusuk-tusuk, ia hanya mengerang pelan, berusaha melepaskan diri dari ikatan tali tak kelihatan yang dibuat oleh Avery.

“Sudah kukatakan padamu, kau tidak bisa mundur sekarang. Apa kau takut Snape? kupikir kau orang yang pemberani, tetapi ternyata hanya pengecut yang bersembunyi di balik topeng kepura-puraan,” Mulciber membungkuk saat mengatakan itu. Sambil menatap Snape dengan raut penuh nanar kemenangan, diangkatnya wajah Snape dengan ujung tongkat sihirnya. 

“Jangan pernah sebut aku pengecut!” raung Snape keras. Mulciber sekali lagi menjentikkan tongkatnya  dan Snape berjengit kesakitan selama beberapa saat, kemudian hening. “Dan aku tidak akan lanjut Mulciber,” kata Snape lambat-lambat, sambil menatap Mulciber sama garangnya, keringat menetes-netes membentuk jalur-jalur bening di pelipisnya.

Raut wajah Snape semakin memerah, tangannya terus menggapai-gapai. Berusaha berkonsentrasi memanggil tongkatnya kembali. Avery melihatnya agak kasihan namun sedikit bercampur perasaan tak percaya. Sebuah ketidakpercayaan bahwa ia juga bisa merasa kasihan.

“Kupikir dia membutuhkan ramuan untuk mengobati itu,” kata Avery yang ditujukannya pada Mulciber, namun masih memandang Snape berang.

“Dan kupikir ia bisa membuatnya nanti, dia bisa membuatnya sendiri, kau tahu itu Avery, dan bagaimana kalau dia kabur,” Mulciber menatap Avery tidak percaya, menganggap bahwa Avery gila.

“Dan apa menurutmu yang akan dilakukan Slughorn jika melihat murid kesayangannya membuat ramuan untuk mantera sengat, dan tahu bahwa kaulah yang memantrainya?” tanya Avery datar. Matanya menangkap kegelisahan sesaat Mulciber. “Dan apakah kau berpikir aku akan kalah dengan seseorang yang sudah kena mantera sengat tanpa tongkat?” tanyanya lagi.

Mulciber mengumpat pelan dan bergegas pergi menemui Matron Hogwarts untuk meminta ramuan untuk Snape yang kini sedikit beringsut ke arah tongkatnya ditinggalkan.

Langkah-langkah kaki Mulciber bergema di kejauhan lorong bawah tanah. Avery hanya berputar-putar sejenak dalam kelas kosong itu, sambil mendengarkan suara-suara di luar yang sepertinya sesenyap diberi mantera penyenyap. Ia berpikir keras. Snape sudah mencapai titik di mana ia bisa memanggil tongkatnya tanpa tongkat. Satu keahlian kecil yang ia pelajari dari sebuah buku tua di perpustakaan.

Avery masih mondar-mandir, namun diusahanya yang kesekian kali untuk menghapus kecemasannya memikirkan apa yang akan dilakukan selanjutnya kepada Snape, ia tidak sengaja menendang tas milik Snape yang tergeletak terlupakan setelah pergumulan tadi. Snape bergidik ngeri saat kaki Avery menendang keluar kotak pink Snape yang mulanya berada di dalam tasnya.

Avery membungkuk, memungutnya, merasa tertarik. Dibukanya kotak itu dengan ketukan pelan tongkat sihirnya. Dari baliknya seekor rusa betina perak mengintip dari balik tatakan beludru merahnya. Avery menyeringai penuh kelicikan. Matanya berkilat-kilat memandang surat yang terikat rapi dengan pita perak. Snape menatapnya ngeri.

“Jangan sentuh itu!!” teriak Snape berusaha menghentikan langkah Avery selanjutnya.

“Memangnya kenapa kalau aku menyentuhnya, Snape? Kau tidak keberatan kan?” tanyanya dengan nada penuh kegairahan. “Kuharap gadis yang akan kau beri ini, adalah orang yang pantas Snape, dan aku sudah sering memperingatkanmu,” Avery memandang Snape angkuh.

“Itu bukan urusanmu, Avery, dan kita tidak pernah sepaham tentang itu, dan ingat itu bukan masalahku, tapi masalahmu! Dan aku tidak akan lanjut, kau dengar, aku berhenti di sini!” Snape berkata gusar kepada Avery yang semakain berang atas kata-kata Snape.

“Apakah ini mengkonfirmasikan sesuatu, Snape? Bahwa anggapan kami selama ini tidak salah, bahwa kau memang menyukai Darah Lumpur, dan aku tidak percaya Snape, Darah Lumpur… Dan tidak ada alasan yang bisa menghentikanmu bergabung, tidak jika itu seorang Darah Lumpur, dan maaf saja, kau sudah terlibat cukup jauh,” kata Avery, menatap Snape yang balas menatapnya tajam dari balik pelupuk matanya yang membengkak.

“Sudah kukatakan bukan urusanmu, dan persetan dengan anggapanmu,” kata Snape tajam.

“Aku tidak menyangka. Kupikir kau menganggap Darah Lumpur tidak berarti, seperti kami menganggapnya demikian, sama dengan kami kau juga tidak menyukainya, tetapi ternyata kau malah mengencani seorang Darah Lumpur diam-diam? Kau terlalu pengecut Snape! Dan kegilaan apa yang membuatmu mangkir dari kelompok kita, apakah kepengecutan lagi Snape?” kata Avery tidak sungkan-sungkan.

“Dan satu hal yang kau mungkin lupa, tentang Darah Lumpur,” Avery bergerak perlahan kepada Snape dan berkata tepat di depan wajahnya. “Tidak mengertikah kau Snape? Bahwa mereka sama tidak layaknya seperti Muggle.”

“BERHENTI BICARA!!!” Kata Snape keras, hingga suaranya bergema di langit-langit. Avery terkejut sesaat, namun pandangan kebenciannya tidak surut, tangannya masih memegang kotak Snape yang setengah terbuka. Direnggutnya surat yang terikat rapi dengan kasar, dan menjatuhkan sisanya. Liontin Rusa betina perak berdenting pelan ketika terlempar dan mengahantam lantai batu yang keras. Namun tak seorangpun memandangnya. Kedunya menatap tajam perkamen yang berada pada genggaman Avery.

“Coba kita lihat, sebenarnya siapa cewek sialan ini,” Avery berkata keras sambil menyentakkan pita peraknya.

“Hentikan, kubilang hentikan sekarang!!!” kata Snape yang  tak diacuhkan Avery yang semakin bersemangat membuka gulungan perkamen. Jantung Snape berdetak kencang seiring dengan semakin dekatnya Avery dengan kebenaran, namun kata pertama yang dilihat Avery pada baris pertama perkamen membuat ia berpaling pada Snape.

“Apa ini—

“Aaaarrrgghhhh…” Avery mengibas-ngibaskan tangannya, melemparkan perkamen yang telah terbakar habis ditelan api di lantai. Yang hanya menyisakan sebentuk tipis abu hitam.

“Berani sekali Kau Snape!!” raung avery marah, tetapi sekarang tangan Snape sudah mengacung dengan tongkat sihirnya.

“Dan Evans?? Apa yang kau pikirkan? Ternyata kau sama bodohnya seperti Potter yang mengejar dia, tetapi kalau kupikir lagi kau lebih bodoh karena mengejar Darah Lumpur!” Avery berjengit, masih merasakan tangannya terbakar atas serangan Snape, tetapi dia terus melanjutkan.

“Kau hanya membuang-buang waktumu, dia sudah punya Potter, Snape. Dan kau hanya akan menjadi orang ketiga, dan akan selalu begitu menjadi penonton, jika kau terus setia, Evans mungkin akan berpikir kau akan menjagakan anaknya dengan Potter untuknya sebagai baktimu, betapa bodohnya.”

Snape tidak mengerti apa-apa atas perkataan Avery barusan tetapi kata-kata itu begitu menusuk, menorehkan luka dalam yang tidak dengan begitu saja bisa terhapuskan. Kata-kata Avery terus berulang, tetapi tidak ada makna apa-apa untuk seorang Severus Snape saat itu, saat berumur 17 tahun, hanya menyisakan kekesalan yang mendalam, yang berarti hukuman baginya ditahun-tahun mendatang, saat ia benar-benar mengetahui artinya: takdirnya.

“Kau tidak tahu apa-apa, Avery, tidak akan pernah tahu, dan tak akan pernah merasa!” Severus berkata dan menatap Avery penuh benci. Tongkatnya terus mengacung hingga ia benar-benar aman dan sendirian.

“Aku tidak akan pernah membutuhkan perasaan semacam itu Snape, apalagi terhadap Darah Lumpur, itu menjijikkan kau tahu! Dan kalau kau memang tidak tahu, atau mungkin kau berpura-pura tidak tahu, Evans tidak akan pernah bisa menyukaimu Snape, karena orang sepertimu tidak akan pernah disukainya, kau akui atau tidak kau sama seperti kami, dan dia benci kami, kau tahu itu!” Avery memandang Snape mencomooh. Wajah Snape mengeras, mengatupkan mulutnya rapat-rapat, hatinya bagaikan teriris.

“Dan lagi, kalau kau masih saja bersikeras, kau tahu konsekuensinya Snape, kau juga tahu bahwa kelompok Pangeran Kegelapan semakin kuat. Jika kau memilih tidak bergabung, dan aku sudah tahu kelemahanmu adalah Evans, mudah saja bagi kami, untuk datang, dan melenyapkannya,” Avery menatap tajam Snape dan melafalkan empat kata terakhir dengan lambat, jelas, dan meninggalkan kengerian di wajah Snape, mengingat reputasi-reputasi Pangeran Kegelapan membuat ia sedikit bergidik.

Snape diam, hanya mata hitamnya yang masih berkilat-kilat memandang Avery. Sedangkan Avery masih menikmati hasil usahanya menakuti Snape, dan Avery tahu ia berhasil.

“Dan bagaimana kalau aku berubah pikiran?” Snape akhirnya mengeluarkan suaranya yang hanya seperti desisan.

“Dan itu artinya, aku melupakan masalah tentang Evans dan menganggap ini tidak pernah terjadi, tetapi…” Avery kembali pada suara kelicikannya.

“Apa?” tanya Snape gusar.

“Berhenti berhubungan dengan Evans dan kembalilah kepada jalan yang benar, ” Avery bergumam.

“Ternyata kau lebih pengecut dibanding siapapun Avery,” Snape berkata lambat, membuat Avery agak shock.

“Dan apa maksudmu? aku tidak lupa bahwa siapa yang pengecut dalam masalah ini,” Avery berkata menantang.

“Kau hanya takut akan keselamatanmu, Avery, karena dia, aku tahu, dia sudah tahu aku akan bergabung dan menganggap bahwa aku akan benar-benar bergabung, jadi aku tidak akan menjelaskan lagi apa yang akan dilakukannya padamu jikalau aku tidak bergabung, masalah Evans tidak pernah penting bagimu, karena kau hanya takut, jikalau aku tidak ada, kau takut sendirian bersamanya! Akuilah, kau takut bersamanya, dan hanya aku yang biasa kau andalkan!” Snape berkata seakan menampar Avery keras-keras membawanya kembali kepada kenyataan itu, bahwa memang yang diincar oleh Pangeran Kegelapan adalah orang-orang berbakat seperti Severus Snape dibandingkan orang seperti dirinya.

Snape memungut kembali liontin Rusa Betina Peraknya, dan bergegas menyeberangi ruangan, meninggalkan Avery yang mematung. Saat melewatinya Snape beruajar pelan.

“Bahkan mungkin, aku sedang berpura-pura tidak tahu saat ini. Bahwa sabtu nanti yang ingin ditemui mereka adalah aku, karena kalian tidak pernah akan berguna untuknya. Aku bersumpah, kau akan menyesal mengajakku ikut bergabung, walaupun Pangeran Kegelapan akan berterima kasih atas kesetiaanku.” Kemudian Snape melangkah pergi melewati Mulciber yang baru beberapa langkah lagi menghampiri kelas yang sekarang telah kembali senyap.

~~~

Hello, all, this is the second chapter I hope you’ll like it. And you can read the next chapter here.

enjoy

atviana

Advertisements