Tags

, , , , , , , , , , , , , , , ,

Minggu pagi biasa, selepas senam pagi yang biasa, dan juga sarapan seperti biasa, serta merawat Hidrangea sp. (yang juga belum menunjukkan tanda-tanda birunya) saya menekuni kegiatan rutin seorang pengangguran: internetan dan tiba-tiba saja saya kepingin banget mendengar salah satu lagu favorit: Halo oleh Beyoncé.

Saya akan memberitahumu terlebih dahulu, mengapa sebuah lagu bisa menginspirasi sebuar artikel yang berbau ilmiah? Well, karena banyak banget (banget-banget) lagu yang saya suka, dalam liriknya menggambarkan kenampakan optik atau menceritakan sebuah peristiwa atmosfer (atau mungkin memang pada dasarnya saya memang menyukai peristiwa-peristiwa atmosfer tersebut, Thanks to Martha yang telah menyadarkanku atas fakta ini: fakta bahwa saya menyukai lagu-lagu dengan benang merah yang sama). Ambil contoh lagu Halo yang telah saya sebut di atas, Vanilla Twilight nya Owl City, Kiss The Rain nya Yiruma, atau Negeri di Awan oleh Katon Bagaskara, dan huuh.. masih panjaaaang daftarnya.

Dan kemudian seperti sebuah pegangan wajib, saya mencari-cari dalam tumpukan buku. Sebuah kopian kitab berjudul Meteorology Today yang ditulis oleh C.D. Ahrens dan mendapati sebuah subbab berjudul: Light, Color, and Atmospheric Optics.

Kau mungkin terbiasa melihat pelangi. Tetapi apakah kau terbiasa dengan istilah twilight? atau pernahkan kau menyaksikan halo?

Ayo kita bahas satu persatu.. :D

1. Halo

Everywhere I’m looking now
I’m surrounded by your embrace
Baby I can see your halo
You know you’re my saving grace…

I do love this part dan lagu ini tetap menjadi favorit setelah pertama kali mendengarkannya di awal tahun 2010 (telat banget yak..). Halo merupakan kenampakan optik yang biasa menyertai Bulan atau Matahari berbentuk cincin cahaya. Hal ini biasanya terjadi karena adanya kristalisasi air (prisma berukuran 15 – 25 µm) di awan-awan tempat cahaya matahari atau bulan tersebut melintas. Sehingga terjadi refraksi cahaya matahari atau bulan sehingga terbentuklah halo.

Ukuran kristal air yang terdapat di awan dapat menentukan besarnya ukuran halo yang terbentuk. Selain prisma kristal air bisa mendispersikan cahaya matahari menjadi pancaran cahaya berwarna-warni karena adanya perbedaan panjang gelombang antar warna. Hal inilah yang menyebabkan kita dapat melihat halo berwarna. Berikut ini adalah halo Matahari yang pernah saya abadikan di sekitar kampus IPB Darmaga (sayangnya hanya menggunakan kamera HP karena saat itu sedang buru-buru untuk mengikuti kelas selanjutnya).

Halo

2. Twilight

Atmosfer kita terdiri dari partikel-partikel udara, air, debu dan molekuler lain yang memiliki densitas beragam. Keberagaman densitas ini tentunya membuat cahaya yang dipancarkan akan mengalami refraksi dan sebaran (scattering). Ketika Matahari atau bulan telah terbenam dari cakrawala atau belum terbit, biasanya langit nampak lebih terang, inilah yang dinamakan twilight atau rembang petang yang biasa terjadi sebelum waktu sholat Maghrib.

twilight di Pelabuhan Ratu. Nurya Utami.

The stars lean down to kiss you
And I lie awake and miss you
Pour me a heavy dose of atmosphere

‘Cause I’ll doze off safe and soundly
But I’ll miss your arms around me
I’d send a postcard to you, dear
‘Cause I wish you were here

But drenched in vanilla twilight
I’ll sit on the front porch all night
Waist-deep in thought because
When I think of you I don’t feel so alone

I don’t feel so alone, I don’t feel so alone…

rembang petang yang dapat dilihat dari balkon Regina Bateng 24. Rizki Sekaringtyas.

Twilight sebelum surya terbit. Poso Lake. Meiji Malale

3. Hujan dan Pelangi

Hujan teringatkan aku
Tentang satu rindu
Dimasa yang lalu
Saat mimpi masih indah bersamamu…

Hujan merupakan fenomena atmosfer yang mungkin paling familiar dengan kehidupan kita sehari-hari. Hujan salah satu bagian dari daur hidrologi yang tidak terlepas dari proses lainnya seperti evapotranspirasi, infiltrasi, run off, dan kondensasi awan. Butiran-butiran presipitasi yang dikategorikan sebagai hujan (rain) memiliki diameter lebih besar dari 0.5 mm sedangkan butiran dengan diameter dibawah 0.5 mm digolongkan sebagai drizzle atau gerimis (see Ahrens 2007 page 174). Di daerah dengan tingkat humidity rendah, terkadang hujan tidak mencapai permukaan tanah karena tingkat evaporasi yang tinggi dan habis dalam perjalanannya dan disebut sebagai virga.

Ketika hujan terjadi dan sinar matahari masih nampak (kondisi Indonesia yang memiliki banyak tutupan awan terkadang menyebabkan apabila terjadi hujan terutama hujan lebat, sinar matahari sedikit tersisa) terbentuklah pelangi. Pelangi merupakan pembiasan optik sinar matahari oleh butiran-butiran hujan berbentuk busur warna di cakrawala. Sudut pengamat terhadap sinar mempengaruhi pelangi yang dapat diamati. Apabila beruntung, pelangi yang nampak bisa berjumlah lebih dari sebuah busur (primary dan secondary rainbow).

your heart deserves your trust 
a choice made by all of us 
the sun will come back tomorrow 
there’s a message in a bottle 
so come on i’ll meet you there 
there’s enough sunshine to share 
as long as you know the bridge between us is a rainbow…

The Bridge of Color. Toli-Toli. Meiji Malale

4. Other Atmospheric Optics

Beberapa kenampakan optik lain seperti fatamorgana, efek birunya langit, kerlip-kerlip bintang dan matahari yang memerah dapat pula disaksikan karena menyajikan pemandangan yang sangat mengagumkan. Kenampakan optik lain seperti Sun dogs, Pillars, dan Coronas jarang terlihat di Indonesia, karena karakter atmosfer yang berbeda dengan karakter atmosfer bumi lintang tinggi dan menengah, but CMIIW. Tetapi kalau kau pernah menyaksikannya, share yak.. Karena saya (jujur saja) ingin melihatnya.. :D

Semoga bermanfaat..

Cheers..

Atviana

Advertisements