Tags

, , , , , , ,

The Game, The Next Player

Rating: PG
Genre: drama, comedy, family action’
Disclaimer: all characters belong to dearest Ma’am Rowling…  I Just rewrite her plot, just continuing,  just little adding my original character in to it…
Timeline: 19 years after HP 7, Epilog year..

Author’s note: 
Begini, ini soal keinginan terpendam author untuk nulis tentang pertandingan Quidditch yang belum kesampaian.
Ingin merasakan gegap-gempita dan serunya pertandingan. Saat punya kesempatan, ada tokoh, ada cerita yang bisa diselipin, atau apalah, Jadilah chapter ini. Ini  mungkin satu side story dari Summer Breeze…

Untuk Summer Breeze nya sendiri, kemungkinan akan diposting menyusul, mengingat itu cerita berseri dan masih panjang *kayaknya* jadi ntar dulu lah ya..

Soalnya bakal ada side stori-side stori Summer Breeze yang lain, yang menceritakan kisah-kisah diluar Summer Camp, tapi tetep related. Semoga tidak menghancurkan minat kalian dalam Quidditch setelah membaca ini, soalnya aku nggak begitu suka melakukan olahraga. Hohohohoho….  *tapi niat banget bikin oneshoot tentang Quidditch*

Enjoy…


Pertandingan Quidittch final kali itu di warnai dengan ledakan-ledakan euforia pra ujian yang membahana. Semua orang sepertinya tidak membayangkan atau bahkan tidak ingin memikirkan datangnya ujian. Semua menyatu dalam kegembiraan final yang luar biasa. Pertarungan untuk memperebutkan piala Quidditch dan tentunya juga berpengaruh kepada kemana piala asrama akan diberikan tahun ini. Baik Griffindor, Hufflepuf Slytherin maupun Ravenclaw, keempatnya berambisi menjadi pemegang piala asrama.

Hogwarts and 4 Houses

Griffindor dan Ravenclaw-lah kali ini yang berhadapan.

“Slytherin sangat tidak beruntung, sedikit lagi harusnya bisa mengalahkan Ravenclaw minggu lalu.” Scorpius berkata muram kepada Albus yang duduk di sampingnya di tribun atas bangku penonton.

“Yeah, tahun ini di peringkat tiga. Aku tak tahu kapan terakhir kali Slytherin memengkan piala Quidditch,” Albus menimpali juga dengan nada muram yang sama. Mereka seperti tidak tersentuh keceriaan yang membuncah hari itu.

“Kalian berdua bisa berhenti mengeluh tidak sih?” Rose bertanya tanpa memandang kedunya. Dengan teropongnya, ia mulai meneliti lapangan hijau dibawahnya. Dengan cuaca yang amat bagus itu, pertandingan pasti akan berjalan sangat menyenangkan. Sinar matahari sedikit menyilaukan dengan angin yang bertiup lembut, merupakan cuaca yang paling baik yang bisa diharapkan untuk final ini.

“Dad bilang aku baru akan boleh masuk tim setelah tahun depan,” kata Scorpius.

“Yeah, aku juga,” kata Albus.

“Albus, bukannya Paman Harry adalah seeker termuda di Hogwarts, belum ada yang mengalahkan rekornya sepanjang abad? Yang kudengar sih seperti itu,” Rose menoleh meminta konfirmasi kepada Albus.

“Yeah, tapi Mum baru mengizinkan aku ikut tim tahun depan,” kata Albus jengkel.

“Wow, cool,” kata Scorpius antusias.

“Ayahmu juga Seeker Slytherin kan Scorpius?” tanya Rose, “Dad sering cerita, katanya dulu Ayahmu suka sekali mengejeknya.”

“Soal Seeker sih Ayah pernah cerita, tapi mengenai ejek-mengejek aku tak tahu, benarkah?” Scorpius balas bertanya.

“Yah.. kalau itu bisa di bilang mengejek, tetapi kata Mum, akhirnya Paman Ron bisa bangkit dari keterpurukan, dia dulu mainnya nggak stabil, begitu katanya,” Albus berkata, Rose kemudian terkikik geli.

“Tak usah dipikirkan, tak usah dipirkan,” Albus menambahkan, menoleh kepada Scorpius sejenak, kemudian berpaling lagi pada keriuhan di lapangan.

“Satu-satunya keeper Griffindor yang sangat tidak stabil, …yeah—Kalau begitu orang tua kita sering sekali bertemu di lapangan, aku yakin,” kata Rose lagi, seakan menemukan suatu kesimpulan menarik.

“Dengan Paman Harry Seeker Griffindor, Bibi Ginny sebagai Chaser, Ayahku juga Keeper dan Ayah Scorpy Seeker Slytherin, menarik sekali buk—

Kata-kata Rose selanjutnya tertelan oleh gemuruh soarakan yang keluar dari para penonton di bangku-bangku stadion, saat Veronica Jordan cewek kelas empat Griffindor, dengan suaranya yang sangat bersemangat itu berseru keras, sebagai reporter pertandingan hari itu.

Supporter

“Hari ini Final Quidditch, Ravenclaw melawan Griffindor, dengan sambutan yang meriah, BERI DUKUNGAN KALIAN KEPADA KEDUA TIM!!!!”

Suara Veronica disambut oleh tepukan dan sorakan riuh di seluruh stadion. Langsung saja mars-mars, yel-yel serta sorak sorai suporter dari kedua tim bersatu dalam suatu paduan yang saling mengalahakan kehebohan masing-masing.

“Dari Ravenclaw, dengan sapu NinetyWindFlash, termasuk sapu tercepat abad ini, dengan kekuatan setara 2500 Horse Power, dan dorongan ekstra untuk tukikan tajam, KITA PANGGIL, LEE, WALLEN, BROOK, KENT, SULLIVAN, SULLIVAN, DAAAAN WALTER…

Tepukan semakin riuh, sorakan bertambah keras ketika tujuh pemain dengan jubah Quidditch biru dengan lambang elang, menembus udara di atas stadion dengan kecepatan tinggi. Nampak diujung lain tribun Victoire, sangat bersemangat bersamaan dengan kemunculan tim asramanya.

“I love you Walter!!” merupakan kalimat yang bergemuruh dari gadis-gadis di sepanjang tribun, ketika Daniel Walter melewati mereka dalam satu gerakan memutar.

“Rupanya Walter masih menjadi primadona di pertandingan musim ini,” sura Veronica kembali membahana.

“Kalau begitu langsung saja, tidak kalah dari Ravenclaw, KITA SAMBUT, GRIFFINDOOOORRR, INI DIA, WOOD, HYUK, WEASLEY, WHITE, POTTER, VESPER, DAAAAN PARRISH… Dengan sapu ThunderSlicer 200 mereka, dengan kemampuan berkelit serta dapat dipacu untuk penambahan kecepatan secara drastis dengan standar keamanaan super.”

Ketujuh Gryffindor Melintasi Lapangan

Tepukan dan sorakan kini berganti dari arah suporter tim Griffindor, saat ketujuh pemain dengan jubah merah emas singa Griffindor masuk ke Lapangan dengan melambai-lambai.

“Al, menurutmu, apakah ThunderSlicer Griffindor dapat mengalahkan kecepatan WindFlash Ravenclaw?” tanya Scorpius kepada Albus dengan agak berteriak-teriak untuk mengalahkan keriuhan disekitar mereka.

“Well, Thunder bagus sih untuk trik-trik tipuan, akselarasinya tepat dan mudah dikendalikan, tetapi aku tak yakin WindFlash akan kalah bila diadu,” balas Albus dengan keras. Scorpius nampak berpikir serius.

“Yeah, James suka memainkannya di rumah, dan Dad bilang sapunya bagus,”Albus menambahkan.

“Dad, juga bilang seharusnya mereka juga pakai WindFlash untuk kecepatannya, tetapi Thunder lebih bisa diandalkan untuk memasukkan bola.” Rose berkata mantap.

“Rosie, sejak kapan kau tahu soal sapu-sapuan? Bukankah Paman Ron menyerah menghadapimu soal Quidditch? Selau bilang kau mirip Bibi Mione, kau benci terbang bukan?” Albus bertanya heran, menatap Rose yang sedang asik menggunakan teropongnya.

“Yeah, tidak menghentikan aku membaca buku-buku soal Quidditch kan, saat kalian main biasanya aku membaca itu.” Rose menjawab enteng.

Sapu – Sapu

“Kalian sepupu yang aneh, eh?” Scorpius bergumam, sambil maju lebih kedepan untuk melihat pertandingan yang segera saja akan dimulai.

“Kedua Kapten berjabat tangan, dan ketiga bola akan dilepaskan,” seru Veronica seperti memberi instruksi. Langsung saja, Eliana Wood, Kapten Griffindor, berjabat erat dengan Lee Syaoran sang Kapten Ravenclaw.

“Langsung, tanpa ba-bi-bu, bola berada pada Wood, diberikan kepada Weasley yang telah menunggu di tepi, kemudian Hyuk Song-ju menerobos ke tengah lapangan sambil menghindari Bludger dari Sullivan bersaudara, mengambil umpan dari Freddie Weasley, yang langsung dilemparkan ke gawang tengah, ada Trebius Kent di sana, Keeper terbaik tahun lalu, DAAAN GAGAL!!”

“Sayang sekali Saudara-saudara.”

Terdengar keluhan kecewa dari arah para suporter Griffindor.

Bola yang gagal terus meluncur ke bawah, beberapa detik kemudian dengan WindFlash-nya ditangkap oleh Lee.

“Lee kemudian menangkap bola, namun tampaknya James Potter sedang mengarahkan Bludgernya dengan gerakan mengayun yang sangat bagus kepada Lee Syaoran, DAAAAN sayang sekali bola jatuh sebelum ditangkap lagi oleh Jeremias Brook. Bola berada pada Weasley lagi, dengan kecepatannya, diberikan kepada Wood, lalu menghindari dua serangan Bludger, dengan bantuan Vesper di sana, diumpankan lagi kepada Weasley, Wesley kemudian kepada Hyuk, dan satu lemparan bagus dari Hyuk Song-ju dan, MAAASUUUUK…

quaffle and goals

Bola di depan Gawang

Langsung saja seluruh stadion digoncang oleh keriuhan suporter Griffindor. Tak mau kalah, Suporter Ravenclaw semua menutup mata mereka masing-masing, berpura-pura tidak melihat kebobolan itu, dan tetap bernyanyi mars yang semangat. Dibalas dengan seruan BUUU dari arah suporter Griffindor.

“10-0 untuk Griffindor, dan terlihat para Seeker dari kedua tim masih berputar-putar di atas lapangan, nampaknya seeker cantik Griffindor, Isabella Parrish sedang beradu kecepatan sapu dengan si Walter, aku yakin Walter masih mencoba menggoda Parrish di atas sana,” Veronica berkomentar.

“JORDAN!!” teriak Proffesor McGonnagal dari bangku dewan guru.

“Maaf Proffesor, kita kembali pada pertandingan, sekarang bola di tangkap oleh Thomas Wallen, melaju dengan kecepatan tinggi, luput dari serangan Bludger oleh Vesper. Memberi umpan kepada Lee, yang tiba-tiba muncul dari ketinggian, dan menukik, tipuan yang sangat bagus saudara-saudara, Weasley tidak bisa menerobos masuk, bola masih bertahan pada Lee, dengan Bludger kesana kemari dari Sullivan yang cewek, oh, bukan Sullivan yang cowok, maaf, kembali bola ke Wallen, Wallen kepada Brook dipotong oleh Eliana Wood, bola tergelincir dari tangan Brook kemudian jatuh dan ditangkap kembali oleh Lee, masih menghindari Bludger dari Potter, berkelit dari Wood dan menembak, ada White di gawang Griffindor, pergumulan yang sangat bagus terjadi, DAAAAN MASUUUUK!!!

“Benar-benar kapten yang tangguh Lee Syaoran, melawan gencarnya serangan Eliana, angka untuk Ravenclaw 10-10, ”

Semua penonton menahan napas selama pergumulan di depan gawang Griffindor itu, disambut dengan teriakan gilang gemilang dari arah suporter Ravenclaw. Papan angka sekarang menunjukkan skor yang imbang. Serangan yang bagus diimbangi dengan pertahanan yang kuat, masih sulit menentukan pemenangnya.

Kedua seeker pun saling berkelit, menghindari Bludger yang menuju ke arah mereka, melakukan banyak trik-trik dan sesekali melihat kilatan Snitch yang tiba-tiba menghilang. Penonton semakin bersemangat pada pertandingan final yang seru ini.

Beberapa menit kemudian berlalu tanpa penambahan angka baik dari Griffindor maupun dari Ravenclaw, keduanya masih sama-sama bertahan sekaligus menyerang. Kemudian tiupan peluit panjang terdengar.

“Sepertinya, Wood meminta break, Saudara-saudara sekalian. Bisa dilihat kedua tim mulai berkimpul di sisi kanan stadion. Apa yang direncanakan Eliana Wood, sang kapten Griffindor? Gadis manis berambut coklat yang mulai menjadi kapten di awal tahun keenamnya ini. Kudengar-dengar, ia menerapkan jadwal latihan yang sangat ketat bagi Griffindor. Kita lihat saja apa yang akan mereka lakukan, yak… pertandingan telah dimulai lagi,” komentar Veronica selama waktu jeda membuat semua mata penonton sekarang tertuju pada Eliana Wood, Kapten baru Griffindor. Gadis manis yang mulanya tidak diperhitungkan sama-sekali namun telah menjadi pemain utama sebagai Chaser Griffindor sejak uji coba pertamanya di tahun ketiga. Tidak disangka juga memberikan perlawanan sangat sengit kepada Ravenclaw yang tahun kemarin merupakan juara, masih dengan Lee Syaoran sebagai Kaptennya.

“Wood, keren ya?” Rose menoleh kepada, kedua orang di sampingnya.

“Yeah, tapi kau juga tak boleh meremehkan Lee,” Albus menambahkan.

“Aku hanya sedang membayangkan bagaimana nantinya,” Scorpius kini memandang Rose dan Albus tertarik. “Dia, berteman akrab dengan sepupu kalian, kan?” katanya sambil menunjuk pada Wood yang  sedang melaju melewati mereka sesaat.

“Vicky maksudmu?” tanya Rose.

“Yeah, paling-paling mereka akan beradu mulut seperti biasanya kalau Griffindor membabat Ravenclaw,” Albus tertawa. “Soalnya James pernah bercerita, seru sekali waktu itu, saat mereka berdua bertengkar seusai final Ravenclaw-Griffindor tahun lalu, Ravenclaw menang sih, Wood balas dendam sepertinya.” Kata Albus ringan.

“Dan besoknya mereka sudah ke Hogsmeade bareng,” kata Rose kemudian. Scorpius lalu tertawa, sibuk membayangkan keluaraga besar kedua temannya ini, yang menurutnya sangat menakjubkan, atau mungkin malah terlalu aneh. Whatever…

“Wood, rupanya benar-benar melatih Griffindor, serangan-serangan yang mereka lakukan tidak mudah ditebak,” Veronica berseru saat skor 30-10 untuk Griffindor.

“Bola dibegang oleh Ravenclaw, ada Brook di sana, kemudian lempar kepada Wallen di tengah lapangan, namun dengan kecepatan tinggi, Wood memotong dari arah bawah, tepat menyilang dengan Bludger yang ditembakkan oleh Potter dari arah atas. Bola jatuh tergelincir dan ditangkap oleh Hyuk yang tiba-tiba mendekat, di lempar kepada Weasley di sana, semakin dekat ke arah gawang Ravenclaw. Dikejar oleh Lee, dan Bludger dari Sullivan, Wasley berkelit, beradu dengan Lee, agak memutar, kemudian melempar bola lagi ke belakang yang ternyata ada Wood di sana, sebentar saja bola di tangannya kemudian tembakkan langsung kepada Hyuk dan Hyuk tidak terkawal, dilemparkan pada tiang gawang, Kent tidak dapat mencapainya, DAAAN MASUUUUK, angka untuk Griffindor.”

perebutan bola

Perebutan Bola :D

Griffindor semakin menggila, begitu pula dengan para supporternya. Pertandingan pun berlanjut hingga skor Griffindor jauh unggul dari Ravenclaw, saat satu Beater Ravenclaw tumbang kelelahan karena mengantisipasi serangan dobel dari dua Beater Griffindor, yang mengembangkan teknik ayunan pemukul Bludger mereka sendiri. 210-60 untuk Griffindor.

Hingga saat menit ke 65 pertandingan itu, semua napas kembali tertahan, sejenak para Chaser, Beater maupun Keeper di bawah serta para penonton, terdiam sejenak menyaksikan tukikan tajam Isabella Parrish ke bagian samping gawang Ravenclaw, kilatan Snitch mengepak mulai menampakkan diri. Beberapa detik kemudian, seperti baru tersadar dari trans, tukikan tajam Parrish diikuti oleh seruan Walter dan ia kemudian mengejar dari arah berlawanan.

Seketika itu pula, Wood yang sedang mengejar dan berkelit dari Bludger oleh satu-satunya Beater Ravenclaw, mengekor pada Lee yang sudah 50 meter berada di depan gawang Griffindor. Kemudian tiba-tiba saja terbang Lee dihentikan oleh Bludger yang bergerak dari arah samping kiriman James Potter. Bola di tangannya jatuh, gerak Wallen pun terhambat oleh tukikan-tukikan Weasley yang berada merepet padanya, bola sempat ditendang oleh Lee ke arah Brook namun sayangnya luput, dan ditangkap oleh Hyuk dari arah bawah Brook.

“Hyuk melesat ke tengah lapangan membawa bola, dengan Brook merendenginya, sambil menghindari Bludger dari Sullivan, bola diumpan kepada Wood yang berada di belakang, trik baru mereka kembali dijalankan, kemudian Wood melesat cepat, bola dilemparkan kepada Weasley, Lee mencoba menghadang, Weasley berkelit, DAAN…

Dalam sepersekian detik, atau hanya dalam satu kedipan mata, semua berlangsung di sekitar gawang Ravenclaw. Suara gedebuk menyeramkan datang dari bawah gawang. Seperti bola yang bergulingan, Isabella Parrish, dan Daniel Walter bergumul dan terlepas dari sapunya masing-masing. Menghantam tanah dengan perlambatan mendadak, membuat debu berhamburan ke udara.

Isabella Parish dan Snitch

Semua menjerit histeris.

Perebutan masih terus berlangsung, karena nampaknya Snitch tersangkut pada jubah Parrish, dan akhirnya Walter mengacungkan genggaman tangannya ke udara dengan sambutan sorakan para Ravenclaw bergemuruh.

snitch in hand

Snitch in the hand of Walter

Snitch terlihat mengepak lemah di telapak tangannya. Namun sedetik sebelumnya yang sangat menegangkan tembakan tajam dari arah atas gawang oleh Freddie Weasley yang tak dapat ditangkap oleh Trebius Kent, melewati tengah lingkaran gawang dalam sebuah lambungan Quaffle yang indah.

Sorakan kemudian berganti, menjadi keriuhan dari para suporter Griffindor, saat semua mata menyapu papan Skor, 220-210 untuk Griffindor. Tepukan dan Standing Ovation para dewan Guru atas pertandingan yang sangat seru ini membahana.

Rose, berseru gembira, Albus bersorak untuk kemenangan Freddie dan kakaknya, Scorpius ikut benapas lega melihat akhir pertandingan yang sangat menegangkan ini.

“Wew, aku sudah memperkirakan WindFlash, memang lebih cepat dibandingkan Thunder,” Albus menatap Scorpius semangat.

“Yeah, kau benar, lihat tadi saat Walter mendahului Parrish mengejar Snitch, padahal Parrish-lah yang sadar duluan soal Snitch,” kata Scorpius, “Freddie dan kakakmu mainnya bagus, Albus, kita harus menang melawan mereka tahun depan,” tambahnya.

“Kalian harus berlatih dengan sangat keras kalau begitu,” kata Rose kemudian, wajahnya masih berseri-seri dengan kemenangan Griffindor kali itu. Rupanya ia tak sabar, untuk bergabung bersama James dan Freddie dalam kemenangan mereka, dan mungkin mengganggu Vicky akhir pekan nanti.

“Lihat saja, Rosie, kami akan membantai Griffindor suatu hari,” Scorpius berkata menantang.

“Kita lihat saja, Slytherin.” Kata Rose Wesley sambil tersenyum menantang.

Ketiganya kemudian meninggalkan lapangan, melangkah ringan dan tertawa-tawa menuju kastil dengan keceriaan yang ditularkan oleh para suporter Griffindor yang sibuk melambung-lambungkan Freddie Weasley dengan Piala Quidditch di tangannya yang diangkat tinggi-tinggi.

Hogwarts Castil
***

Author’s end Note:
Thanks to CLAMP: about Lee Syaoran… my Favorite Character of theirs
Oh iya, soal Freddie sang Chaser dan James yang jadi Beater, semoga menghibur. Habisnya pas membayangkan karakter James di epilog hp 7 membuat aku memutuskan bahwa dia adalah seorang Beater yang handal, nah soal Freddie, ini dia, He is my own OC…
Begitu juga dengan Veronica Jordan, semoga membawa keriangan yang sama seperti yang dibuat oleh Lee Jordan, dalam arti yang berbeda kuharap (hehehehehe)
Dan komentar saya soal Eliana Wood, ‘mengobati kerinduan para fans pada ayahnya Oliver Wood’, hahahaha….
Please Leave Comments dan Revew

….^ ^ v….

Advertisements