Tags

, , , ,

Beta by: Alegre *thanks much to Eli, love you girl…*

Rating: PG

Genre: Humor/Romantis

Ships: Ronald-Hermione

Disclaimer: Semua hal yang berkaitan dengan kau-tahu-apa dan kau tahu itu bukan milik saya, yang artinya secara publik telah diketahui milik JK Rowling, adalah benar kepunyaan beliau. Saya hanya minjem aja tokoh-tokohnya. Hohoho… Kalau ada tokoh lain yang tidak dikenal, dan ada di dalam cerita ini, yeah itu kepunyaan saya. Termasuk Divine Diamond.

* ..v ^ ^ v..piss…*

Timeline: Tujuh tahun setalah buku tujuh. Berarti, Teddy berumur 7 tahun, Freddie 3 tahun, Victoire 4 tahun, James setahun atau baru lahir beberapa bulan.

***

Siang ini terik, tetapi misi  terus dilaksanakan tidak peduli cuacanya seperti apa. Semua anggota anggota misi ini sedikit merutuki kegerahan yang timbul dibalik sweter atau poloshirt yang mereka kenakan sebagai penyamaran di dunia Muggle. Ron yang berada di garis terdepan pun tampak sangat berbeda. Dengan setelan berjas rapi dan menenteng koper hitam tipis yang berfungsi sebagai alat kamuflase. Tongkatnya terselip ramping di balik jas hitamnya, tepat di atas kemeja putih dengan dasi merah tua.

“Well, cocok sekali dengan rambutmu Ronald,” kata Stevenrski saat ia berjalan melewati Ron dan Harry di kafetaria sebelum misi berlangsung pagi tadi.

Harry nampak tenang-tenang saja. Kacamata bundarnya telah beralih kepada kacamata persegi gagang tipis, yang kata penjaga toko di Diagon Alley adalah model terngetop para Muggle saat ini. Praktis akan membuat ia terlihat biasa-biasa saja untuk melakukan penyamaran di tengah Muggle seperti saat ini.

Ia dan Ron berpura-pura sedang duduk untuk makan siang sambil berbincang soal bisnis di kursi-kursi kayu di bawah naungan kanopi payung berwarna merah di bagian samping lobi sebuah hotel mewah berbintang empat di pusat Kota London. Dengan dua porsi steak sapi yang sama sekali tidak mereka nikmati sepenuhnya, padahal harganya selangit, lagi-lagi untuk melengkapi proses kepura-puraan ini.

red canopies..

Harry terlihat mengiris-iris steaknya dan melahap sepotong kecil.. Ron lagi-lagi menenggak limun dari gelas tinggi yang ada dihadapannya. Sesedikit mungkin menoleh tanpa terlihat ke arah dua meja di depan mereka yang diduduki oleh dua orang berpakaian Muggle yang sangat ganjil sebenarnya di saat musim panas seperti ini—setelan mantel hitam panjang dengan kemeja dan korduroi di baliknya. Sepatu mereka nampak agak kumal dan belum digosok cukup lama. Apabila dibandingkan dengan sepatu tamu-tamu restoran hotel yang lain, yang kebanyakan adalah para pebisnis dan sosialita yang sudah kehabisan akal untuk membelanjakan tumpukan poundsterling mereka, sepatu mereka nampak terlihat sebagai barang rongsokan.

Kedua orang di meja itu terlibat dalam pembicaraan yang sangat serius. Dengan memanfaatkan mantra tolak gangguan dan mantra anti pencuri dengar di sekeliling mereka. Namun non sense, apabila sepasukan auror yang sedang membuntuti, dan sedang berusaha menangkap mereka, menggunakan produk terbaru Sihir Sakti Weasley, Telinga Terjulur Transmisi Tripel yang dapat membuat mereka mendengar pembicaraan target meskipun mereka menggunakan mantra anti pencuri dengar sekalipun.

Tapi lupakanlah sejenak misi yang sedang berlangsung itu, karena nampaknya Ron sedang bergerak-gerak gelisah ditempatnya.

“Ron, bisa diam tidak sih? Kau membuat mereka memandang kita sekali tadi,” kata Harry gusar.

Sudah sebulan penuh ia dan timnya mengerjakan kasus ini, tak ingin sekalipun gagal di penyergapan kali ini, meskipun penyergapan yang akan dilakukan di depan banyak Muggle. Well, mereka sudah banyak berlatih sekarang, jadi kemungkinan berhasil masih sangat besar.

Sorry mate, aku sedang bingung, oke?” Ron berusaha bersikap lebih tenang, sekali lagi menenggak limunnya.

“Kau, tidak demam panggung kan Ron? Ini bukan misi pertamamu kan?”

Harry memandang Ron khawatir. Wajah Ron kemudian bersemburat sangat merah. Keringat besar-besar meluncur turun dari sela-sela rambutnya sampai ke pelipis. Kikik geli terdengar di earphone mereka.

“Bukan,” tukas Ron cepat, merasa sangat malu apabila setiap pengalaman melakukan sesuatu untuk yang pertama kalinya akan menimbulkan sensasi yang sama padanya: gugup, demam panggung, nervous, atau apalah namanya.

Tapi tidak salah juga sih, dia akan melakukan sesuatu hal, untuk pertama kalinya, dan dia butuh Harry. Yeah, dia butuh Harry untuk bertanya.

“Aku sebenarnya hanya ingin menanyakan kepadamu sesuatu hal, tetapi tidak pernah bisa kutanyakan padamu, sampai tengah malam tadi aku terbangun dari tidur dan tersadar aku sudah berumur dua puluh lima,” Ron berkata cepat sekali dengan suara sangat rendah nyaris seperti bisikan, sehingga Harry berusaha lebih keras untuk mendengar apa yang dikatakan Ron selain juga mendengar apa yang sedang dibicarakan target misi mereka.

“Aku juga sudah dua puluh lima, Hermione juga. Lalu apa masalahnya?” Harry bertanya hampir-hampir memutar bola matanya.

Terdengar kikik tawa para agen lainnya yang juga ikut mendengar pembicaraan ini dari alat komunikasi mereka. Ron nampak sangat merana. Wajahnya kini sudah semerah rambut dan dasinya.

“Dua puluh lima Harry, dua puluh lima,” Ron mengulang dengan nada tidak percaya, memandang Harry  frustasi.

Harry hanya memandangnya bingung. Ron menarik napas panjang sekali lagi, kemudian terkesiap sejenak saat mereka berdua dan setengah lusin agen lainnya mendengar percakapan yang baru saja mereka dengar dari telinga terjulur mereka, sang target baru saja membicarakan sebuah bukti penting. Harry menyeringai senang. Sedikit lagi, ia tahu mereka akan bergerak. Lebih baik bagi Ron menyampaikan inti pembicaraannya sekarang.

Well, Harry kau memang sudah berumur dua puluh lima, tetapi kau kan sudah menikah dan kau juga sudah punya James, dan sebagainya yang lain,” kata Ron pelan.

Sebelumnya ia sempat mematikan sesaat alat komunikasi mereka agar percakapan ini bebas gangguan, tapi akan segera dinyalakan begitu Harry memberikan instruksi. Dia tidak boleh ceroboh, memang.

Harry and James?? maybe yes.. :p

Harry menatap Ron tak percaya. Ron kini malah memandangi logam putih mengkilat yang melingkari salah satu jari Harry dan kemudian mendongak menatap Harry, pasrah. Akhirnya dahi Harry sedikit mengernyit, mencoba keras untuk tidak tertawa. Tetapi bukan Ron saja yang mengeluh akan hal ini, Hermione nampaknya mengeluh akan hal yang sama pada Ginny akhir minggu lalu.

“Ron, memang sepertinya, sudah saatnya, eh— kalian menikah, kau dan Hermione maksudku,” ucap Harry akhirnya setelah memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati, dan nampak sangat jengah membicarakan topik ini.

“Yeah, sudah kuduga kau akan ngomong begitu,” kata Ron kemudian, sekarang tampak lebih menyedihkan dari sebelumnya. Ia duduk agak merosot pada kursi kayunya.

“Hermione kelihatannya akan menelan bayi-bayi itu dengan tatapan matanya. Ia menginginkan mereka, Harry. Kau lihatkan bagaimana ia memandang James? Atau saat ia menggendong Vicky di ulang tahunnya kemarin, atau Freddie, bahkan juga sikap anehnya kalau kami mengunjungi Andromeda, dan Teddy lagi tidak bersamamu. Kau tahu bagaimana dia,” Ron bergumam pelan.

“Walaupun mungkin dia tidak ahli jadi ibu rumah tangga,” Ia bergumam, kembali menambahkan.

Harry masih diam, belum bisa bereaksi apa-apa. Ia dan Ginny sudah sering membicarakan ini —atas usul Ginny tentu saja— karena ia mungkin terlalu malu untuk mengurusi masalah percintaan sahabatnya. Apalagi semenjak Hermione sering mengunjungi Ginny akhir-akhir ini. Dan Harry tentu saja tahu apa saja yang mereka bicarakan. Hal-hal seperti ini contohnya.

“Dan kupikir, mungkin sudah saatnya aku melamarnya,” kata Ron dengan sisa semangat yang dimilikinya.

Harry menarik napas lega, karena bukan ia yang musti menyuarakan ide itu. Meskipun ide itu harus coba ia jejalkan pada Ron —yang sekali lagi atas usul Ginny— andai saja Ron belum berpikir ke arah sana.

“Bagus kalau begitu,” kalimat itulah yang akhirnya terlontar dari bibir Harry.

Namun Ron tidak terlihat lega atau lebih baik, sekali lagi ia meringis, sebelum Harry secara sengaja namun terlihat tidak direncana, menengok ke arah meja target. Ia belum lupa, mengapa mereka berdua malah duduk-duduk dan terlihat santai saat jam makan siang di restoran mahal ini, padahal pekerjaan mereka menumpuk di markas, memotong-motong steak yang tidak mereka nikmati dengan benar dan berbisik-bisik, dengan sepasukan Auror lain yang tersebar di lokasi itu dan menunggu perintahnya.

“Tapi aku tidak tahu bagaimana melakukannya Harry,” Ron mengerang, semakin frustasi. Bergerak-gerak gelisah di kursinya. Jelas sekali nampak gugup.

“Sssshhh… Ron, kau bisa membuat mereka curiga,” Harry memperingatkan sambil menyalakan lagi alat komunikasi yang menghubungkan mereka dengan para agen lain. Sudah dekat waktunya. Ron semakin terlihat gugup.

“Bagaimana kau melakukannya Harry?” tanya Ron kemudian, tidak menyebutkan nama, atau hal apapun yang merujuk kepada proses pelamaran, karena ia sadar bahwa percakapan ini tidak lagi memiliki privasi.

“Well, aku juga tidak tahu bagaimana mulanya, semua berlangsung begitu saja. Dan Ginny bilang iya, lalu aku menemui ayahmu, ibumu memelukku sambil menangis —bukannya kau ada di sana dan melihatnya sendiri?— kemudian kami menikah, dan selesai,” kata Harry cepat-cepat.

Kini beberapa agen lain jelas-jelas tertawa terbahak-bahak, mendengar proses pra-nikah Harry Potter, kepala divisi mereka yang terkenal. Harry menenggak air putih banyak-banyak setelah itu.

Mereka berdua terdiam lama. Hanya sesekali memperhatikan kedua target di tengah-tengah proses makan siang mereka. Kemudian lebih banyak koordinasi dengan yang lain, dan Harry memberikan beberapa instruksi lagi.

“Belikan cincin,” akhirnya Harry membuka mulut. Jeda terjadi agak lama.

“Hermione pasti akan senang sekali Ron, bagaimanapun cara kau melakukannya, yang tidak normal sekalipun,” Harry berkata lagi, pelan.

Sebelum ia memberikan instruksi terakhir. Ron mengangguk lemah kemudian bersiap-siap. Target dengan pakaian yang sangat aneh sudah gelisah sejak tadi, memandang sekeliling mereka dan mencari jalan untuk menyusup.

Kemudian yang terjadi selanjutnya adalah gerakan-gerakan cepat. Gumaman mantra samar dari bibir Harry yang membuat Muggle-Muggle paling dekat dari mereka yang  duduk ataupun yang berdiri membeku. Dan aura dingin yang aneh menelusup bagai awan yang membungkus lokasi itu. Mereka tahu, Stevenrski yang melakukannya. Membuat sebuah ilusi yang membohongi mata Muggle yang secara kebetulan memandang ke arah terjadinya penyergapan. Dan mereka kemudian merengsek maju dengan cepat sehingga keduanya pun tidak menyadarinya.

Selanjutnya meringkus dua penjahat yang sudah melakukan kejahatan dan penipuan serta satu pembunuhan di luar Inggris. Mereka sudah menangkap kroni-kroninya yang lain semalam. Kementrian Sihir Jerman ingin mereka cepat-cepat ditangkap, mereka kehilangan seorang penyihir mereka soalnya.

***

Ron nampak salah tingkah. Berjalan mondar-mandir tak keruan beberapa saat. Menyeberangi jalan yang sama untuk ketiga kalinya. Memandang lurus-lurus sebuah toko yang sangat indah dibandingkan dengan toko-toko di sepanjang Diagon Alley ini. Sebenarnya ia bermaksud pergi ke toko Muggle saja di seberang hotel tempat mereka melakukan misi kemarin dulu. Tetapi kegugupan akan semakin membuatnya senewen apabila menghadapi hal yang tidak biasa. Uang Muggle, dan pelayan toko mereka yang cantik-cantik itu misalnya.

Akhirnya ia memutuskan. Dengan sekali helaan napas berat ia melangkah memasuki toko bernuansa putih dan kuning gading itu. Papan nama di depannya yang terbuat dari kayu yang dicat warna putih dengan pendar keemasan pada tulisannya yang seperti kaligrafi dan pada pinggirnya yang meliuk-liuk menunjukkan bahwa toko itu bernama Divine DiamondToko Perhiasan.

divine diamond

Divine Diamond look a like.. :D

Ruangan luas dengan warna dinding kuning gading dengan tirai-tirai dan pinggiran jendela serta penggiran pintu kaca yang berwarna putih bersih menyambut kedatangannya. Semerbak harum lily menguar sampai ke indra penciumannya seketika saat denting kecil lonceng di atas pintu berdentang nyaring tapi lembut menandakan kedatangannya. Kursi-kursi tanpa sandaran nyaman berwarna putih pucat hampir coklat muda berjejer di samping kanan.

Ron langsung disambut oleh senyuman ramah gadis yang duduk di balik konter, seperti meja resepsionis. Baru lulus Hogwarts sepertinya, mungkin sebagai pekerja magang. Namanya Amelia, tercetak pada papan nama kecil yang tersemat di dada, dengan lagi-lagi tulisan kaligrafi putih yang indah. Ron membacanya sekilas.

“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu, Sir?” sapa Amelia ramah memandang Ron berbinar-binar. Jelas sikap standar pramuniaga yang baik.

“Eh, ya, mungkin kau akan sangat membantu,” kata Ron kemudian. Memasukkan tangannya ke dalam saku jubahnya hanya untuk mengeringkan keringat.

Di konter yang terletak di samping kanan kiri meja penerimaan terpampang segala macam perhiasan indah tetapi ada saja satu dua yang aneh-aneh bentuknya dengan batu-batu mulia dan terbuat dari berbagai macam logam yang bisa-bisa harganya sama dengan seluruh tabungan galleon Ron di Gringgots. Amelia masih menunggu Ron mengatakan sesuatu.

all blinking, all shining..

all blinking, all shining..

“Aku sedang mencari cincin, untuk, eh—pac—” Ron tidak sanggup menyelesaikan maksud kedatangannya. Tersedak kaget oleh kata-katanya sendiri.

Namun Amelia sudah mengerti sepenuhnya. Ia tersenyum dan mengangguk cepat. Kemudian menyilahkan Ron menuju sisi lain ruangan dengan konter yang lebih pendek, dengan pencahayaan yang lebih redup dan ada bangku-bangku bundar berkaki tinggi di depannya.

Ron agak bergidik ngeri. Sepertinya proses memilih cincin bukan proses sepuluh menit yang langsung beres. Karena menurut perkiraannya sejauh ini, hal itu butuh waktu yang lebih panjang hingga mencapai hitungan jam. Mana mungkin mereka menyediakan kursi untuk sesuatu yang tidak makan waktu.

“Silahkan,” kata Amelia kemudian, sambil melambaikan tangannya ke arah konter kaca di tengah mereka yang berisi puluhan jenis dan model cincin.

Nampak olehnya sejumlah cincin yang sangat aneh, baik mengenai ukurannya, bentuknya maupun batu-batuan yang digunakannya. Kilauan cahaya berwarna-warni yang dipancarkan dari dalam batu-batu di dalam konter membuat mata Ron agak silau. Ia menjadi semakin pusing.

“Seperti apa mempelai wanitanya? mungkin aku bisa membantu memilihkan,” tanya Amelia lagi.

“Well, kami belum memutuskan untuk menikah, aku baru akan melamarnya,” Ron menjawab pelan nyaris berbisik, kemudian tersenyum lemah.

“Dan apakah kalian punya yang lebih normal dibandingkan ini?” Ron mendadak berjengit ngeri memandang cincin-cincin yang ada di situ. Mencoba membayangkan jari Hermione memakai salah satunya. Apalagi sebuah cincin dengan batu merah delima besar berbentuk hati yang dililit oleh emas berpilin yang memang indah tapi tetap saja: aneh.

Amelia terkikik geli kemudian mencabut tongkatnya, menggumamkan mantra standar mereka sekali. Kemudian cincin-cincin tadi ditelan kotaknya masing-masing dan kotak-kotak kecil lain yang tadinya tertutup dalam posisi berselang-seling dengan kotak cincin-cincin yang tadi dipajang terbuka. Saat dalam keadaan tertutup, kotak-kotak itu sebelumnya tidak diperhatikan oleh Ron karena warnanya sama dengan warna satin di dasar konter, putih pucat.

rings.. everywhere rings..

Kotak-kotak kecil itu menunjukkan barang-barang yang tersimpan di dalamnya. Ron ternganga, tidak menduga mereka menyimpan barang-barang macam ini di sini. Di toko perhiasan di Diaggon Alley. Cincin-cincin normal yang tidak berpendar aneh, atau berbunyi, atau berbatu mirah delima besar. Sama seperti cincin-cincin yang yang dijual oleh toko-toko Muggle. Ron tahu karena sempat melihatnya sekilas kemarin saat melewati toko perhiasan Muggle. Tetapi ada yang berbeda, buatannya lebih halus, lebih detail dengan kemampuan sihir pembuatan perhiasan yang hampir menyamai perhiasan buatan Goblin, atau ini memang buatan Goblin, Ron tidak ingin menanyakannya.

“Anda bisa menjelaskan kepada saya ciri-ciri pacar anda, atau Anda sudah memiliki pilihan yang cocok?” tanya Amelia sejenak kemudian.

“Sebenarnya saya tidak tahu pasti yang cocok seperti apa, tapi saya yakin dia lebih bagus memakai emas, yang putih,” Ron berkata lagi.

Kini meneliti deretan cincin-cincin berbahan dasar emas putih seperti yang tertulis pada labelnya, karena, well, dia tidak akan tahu bedanya. Ada selusin lebih cincin emas putih di situ, dan Ron tetap tidak bisa menentukan.

Amelia mengeluarkan beberapa cincin dari konter dan menunjukkannya pada Ron, tetapi tetap saja Ron terlihat tidak terlalu suka. Amelia mencoba beberapa pilihan lain, dan pertanyaan lain, tetapi Ron tidak bisa menjelaskan dengan tepat sosok Hermione di matanya. Sulit untuk menggambarkan dirinya. Secara fisik mungkin mudah saja. Tetapi Ron menginginkan sesuatu yang sesuai dengan karakter Hermione.

Amelia sudah menunjukkan tanda-tanda frustasi. Dan kemudian mencoba mencari beberapa pilihan lain dari ruangan lain yang ditutup tirai putih. Ron kembali menunggu.

Sejenak kemudian matanya menangkap sebuah majalah yang tergeletak di kursi di balik konter. Sepertinya punya Amelia yang ditinggalkan sejak kedatangannya tadi. Kemudian matanya melebar dan langsung saja terbersit ide dalam kepalanya. Ia menatap Amelia berbinar-binar setelah gadis itu keluar dari balik tirai.

Witch Weekly in Muggle World

“Mungkin aku kurang jelas memberikan keterangan padamu, maaf, tetapi majalah itu kurasa bisa membantu,” kata Ron sambil menunjuk majalah yang dimaksud.

Amelia menurutinya dan mengangkat majalah itu ke atas konter dan menunjukkannya pada Ron. Tetapi Ron malah membalikkan majalah agar menghadap ke arah Amelia, masih pada halaman yang tadi dilihatnya..

Dia, mirip dengan pacarku,” Ron menjelaskan sambil menunjuk foto yang bergerak-gerak dari dalam majalah.

“Ya, dia mirip sekali dengannya, rambutnya, wajahnya, senyumnya, bahkan cara berpikir mereka pun sama, kau tahu, pacarku juga sudah menerbitkan buku, tetapi mungkin kau belum pernah dengar,” kata Ron lagi.

Mata Amelia ikut melebar mendengar informasi ini. Pekerjaannya akan menjadi lebih mudah. Tetapi ia sedikit mengernyit memandang foto di majalah karena halaman itu memuat tulisan dari hasil wawancara eksklusif dengan Hermione Jean Granger, penulis muda berbakat yang sangat jenius dan serba bisa. Serta berisi pembahasan singkat artikel ilmiah terbarunya: Aplikasi Teori Golbert untuk Transfigurasi Modern dan Perspektifnya Terhadap Mantra Praktis.

Amelia jelas-jelas tercengang. Lelaki jangkung berambut merah dengan bintik-bintik di wajah, di hadapannya ini memiliki pacar sekelas Hermione Granger, sungguh sangat di luar dugaan. Matanya menyipit menandakan ketidakpercayaan. Tetapi Ron tersenyum lebar memandangnya, bangga atas ide jenius yang tiba-tiba melintas di kepalanya.

“Well, Hermione Granger ya, maaf maksudku, mirip dengan Miss Granger,” Amelia bergumam pelan, tetapi Ron masih bisa mendengaranya.

“Yeah benar, kami, maksudku aku dan pacarku sudah berhubungan sejak kami sama-sama di Hogwarts, dia sahabatku sebelumnya, mungkin sekarang juga masih begitu,” Ron berbicara tentang Hermione seakan-akan ingatannya sedang terpapar jelas di depan matanya. Ia kemudian tertawa pelan mendengar dirinya sendiri berkata begitu.

“Tetapi memulai hubungan dengan dia begitu sulit, kami tidak pernah saling tahu kalau kami saling suka, hingga sebuah kejadian besar yang membuat semuanya menjadi jelas,” Ron menghela napas sebentar.

“Dan akhirnya ia memilih aku,” katanya lagi. Amelia nampak terpesona.

“Sir, saya khawatir koleksi di sini tidak ada yang benar-benar sesuai dengan ciri-ciri pacar Anda,” Amelia terdengar sedikit kecewa, padahal tadinya dia tampak bersemangat. Ron terlihat kaget, kekecewaan juga tergambar jelas di wajahnya. Lama berselang.

“Tapi tunggu sebentar,” kata Amelia kemudian, saat ia teringat akan satu hal. Tangannya mencari-cari di bawah konter catatan panjang perkamen yang tergulung rapi kecil-kecil. Memeriksanya satu-persatu.

“Mungkin ini solusi untuk masalah anda, Sir,” katanya lagi saat berhenti pada satu perkamen di tengah gulungan.

“Dipesan beberapa bulan yang lalu oleh seorang pria yang akan menikahi tunangannya. Edisi terbatas, tetapi sebulan yang lalu dibatalkan oleh ibu mempelai pria karena calon menantunya ketahuan berselingkuh,” Amelia menyelesaikan. Ia sedikit mengangkat bahu meminta maaf soal sejarah cincin itu. Tetapi Ron tidak peduli.

“Saya yakin pasti cocok, soalnya berliannya berwarna biru, seperti mata Anda.” Amelia kemudian berlari kembali ke dalam ruangan lain yang dipisahkan oleh tirai. Dan keluar beberapa saat kemudian dengan kotak putih kecil yang sama dengan bahan satin berwarna putih pucat.

Setelah sampai di depan Ron, Amelia membuka tutupnya. Tampak oleh Ron kilauan cahaya yang terpantul dari berlian-berlian mungil berwarna biru cerah yang seperti kata Amelia tadi mirip warna matanya sendiri. Ron memperhatikan sulur-sulur halus yang menyusun cincin itu yang merangkul berlian-berlian biru itu ke dalam suatu jalinan. Seperti buah blueberry yang ditabur di antara semak menjulur yang berduri, rapuh tetapi tampak kuat. Sulit ditaklukkan dan keras, seperti sifat berliannya tetapi sangat indah dengan warna birunya. Yeah, Ron merasa sangat puas dengan pilihan Amelia yang satu ini. Ia kemudian tersenyum lebar. Amelia tahu ia berhasil karena Ron tampak sangat senang.

Blue Nile eiros™ Vine Diamond Wedding Ring in 14k White Gold
The one

Ron langsung memutuskan untuk membelinya, meskipun merogoh kantongnya lebih dalam untuk cincin itu, tetapi ia puas. Tak apa. Amelia masih melayaninya dengan sangat ramah saat proses pembayaran. Cincin itu sudah dikemas sangat cantik dengan kotak berwarna kuning gading berembosskan Divine Diamond. Saat menuliskan kwitansi untuk pembayaran, Amelia baru sadar ia belum pernah menanyakan nama pada Ron.

“Maaf Sir, tapi bisa sebutkan nama anda?” tanya Amelia saat mendongak memandang Ron dari atas perkamen kwitansi yang sudah setengah terisi.

“Oh, Ron Weasley, Ronald Billius Weasley,” jawab Ron ringan.

Amelia menggoreskan pena berbulunya menuliskan nama itu, kemudian terkesiap kaget dan menatap Ron sejenak sambil mengulurkan perkamen yang harus Ron tanda tangani. Pikiran Amelia kini tertuju pada sebuah paragraf yang entah ia baca dimana dan kapan saatnya, yang menuliskan nama Ronald Weasley dengan jelas sebagai apa, dalam tulisan tentang Hermione Granger tentunya.

Ron meraih perkamen tanpa berkata apapun. Kemudian membubuhkan tanda tangannya di bagian yang tersedia. Amelia masih memandang Ron. Kali ini bukan raut ketidakpercayaan, lebih kepada rasa kagum yang mendalam.

“Terimakasih Amelia, kau sangat membantu,” ucap Ron saat Amelia menyerahkan kwitansi dan bungkusan barang.

“Terimakasih kembali Mr.Weasley, dan semoga sukses,” Ia menarik napas sekali sebelum melanjutkan.

“Semoga Miss Granger menyukainya,” kata Amelia mengerling pada bungkusan yang sudah masuk ke dalam jubah Ron.

“Aku salah satu penggemar yang mengirimi Miss Granger surat sepanjang tahun,” katanya lagi.

Ron kaget sesaat, kemudian tersenyum sangat lebar sebelum melangkah pergi.

“Hermione pasti akan sangat berterima kasih padamu Amelia, ia pasti akan menulis kepadamu secepatnya.” Kemudian Ron berbalik dan melangkah meninggalkan Divine Diamond diiringi dentingan lembut lonceng di pintu kaca saat pintu menutup.

***
Tamat
*ps1: sumpah susah banget sih nyari gambar cincin yang gw jabarin sendiri dalam cerita yang gw buat sendiri. kayaknya mungkin untuk lebih tepatnya seperti apa cincinnya harus digambar sendiri deh.
*ps2: postscript ini saya buat tiga tahun kemudian, setelah menemukan cincin yang at least mirip seperti yang ada dalam imaginasi saya di polivore. Wew…
Advertisements